Motosport

Kembali ke Yamaha

Stoner nilai Rossi pembual besar

Wahyu Budi Santoso

Jum'at,  17 Agustus 2012  −  13:54 WIB
 Stoner nilai Rossi pembual besar
Rossi dan Stoner musim 2009 / DL

Sindonews.com - Kembalinya Valentino Rossi ke Yamaha dikecam Pembalap MotoGP asal Australia Casey Stoner. Ia sebut The Doctor tak bertanggung jawab atas janji bawa Ducati jadi juara. Rossi hanya mengeluh tanpa berbuat apa-apa.

Stoner merasa Rossi dan kepala kru Jerry Burgess tak membuat kemajuan di Ducati. Contohnya, menurut Stoner, mereka termakan omongan yang pernah mengatakan akan cepat menangani masalah Desmosedici.

"Jerry akan menangani masalah pada motor dengan membutuhkan waktu 80 detik namun kenyataannya sudah dua tahun masalah tersebut belum teratasi, Valentino sendiri tak mau melebihi batas saat mengendarai motor yang tidak sempurna, dia telah mengakuinya" ujar Stoner yang dikutip Crash, Jumat (17/8/2012).

Stoner juga prihatin dengan apa yang menimpa Ducati. Sebagai pembalap yang sukses jadi juara dunia pada 2007 bersama Ducati, Stoner menilai Rossi hanya merusak keadaan tim itu dengan berbagai komplainnya.

"Saya sangat prihatin dengan Ducati karena Rossi pergi ke Yamaha tanpa melakukan apapun selain komplain soal motor. Tentu saja mereka sekarang punya motor yang bisa bekerja dengan baik. Buktinya, Nicky Hayden dan Hector Barbera bisa kalahkan Rossi,” tegas  Stoner.


Memang, Rossi mencapai prestasi terendah di arena MotoGP bersama Ducati. Dari 27 penampilannya, pembalap berusia 33 itu hanya 2 kali naik podium dan tak pernah jadi juara. Ducati pun tak bisa bangkit lagi sejak Stoner juara dunia pada 2007.

Dengan begitu, Stoner jadi satu-satunya pembalap yang sukses menjinakkan Ducati. Beberapa pembalap top seperti Loris Capirossi, Marco Melandri, dan Hayden tak mampu mendekati prestasi Stoner yang mencatat 23 kemenangan selama 4 tahun bersama Ducati.

Stoner menilai Rossi gagal menunggangi motornya hingga maksimal. Ia menganggap pembalap Italia itu dan kepala krunya, Jeremy Burgess, terlalu banyak bicara setelah sempat menyatakan bisa membuat motor juara bagi Ducati.

"Mereka termakan kata-katanya sendiri sejak hari pertama. Burgess mengatakan ia hanya butuh 80 detik memperbaiki Ducati. Faktanya, hampir 2  tahun tanpa hasil memuaskan," tuturnya.

Stoner menyebut dengan sikapnya seperti itu, Rossi tak layak jadi pemimpin Ducati. Pasalnya, mantan pebalap Honda itu hanya menginginkan motor yang bagus untuk meraih kemenangan.

"Sudah terlihat jelas bahwa Rossi tidak bisa menang bersama Ducati sehingga ia melihat pindah tim sebagai pilihan utama. Ia pernah mengatakan ingin mengakhiri kariernya bersama Ducati, tapi sekarang ia malah pindah," sindir Stoner.

 

(wbs)

shadow