Asia Pasifik

Aksi PSK anak Indonesia 11 tahun diulas media Inggris

Muhaimin

Kamis,  31 Oktober 2013  −  13:03 WIB
Aksi PSK anak Indonesia 11 tahun diulas media Inggris
Foto tampak belakang dari mucikari remaja 17 tahun, Chimoy (Daily Mail)

Sindonews.com – Anak-anak perempuan berumur 11 tahun di Indonesia, dijual untuk berhubungan seks. Parahnya, sang mucikari juga remaja yang usianya tidak terpaut jauh dari mereka.
 
Praktik prostitusi anak di Indonesia itu, diulas media Inggris, Daily Mail, kemarin (30/10/2013). Dua tahun lalu, tidak ada laporan mucikari anak yang bertindak sebagai bos para anak-anak perempuan yang dijadikan pekerja seks komersial (PSK).
 
Namun, belum lama ini Komisi Perlindungan Anak, menyatakan, pada tahun ini, 21 anak remaja perempuan, yang berusia 14 dan 16 telah tertangkap sebagai mucikari, dengan julukan khas “mami”.  Komisi itu mencurigai, pelakunya lebih banyak lagi.
 
Seorang germo berusia 17 tahun, dengan sapaan Chimoy, bercerita, dia pertama kali masuk ke dunia bisnis prostitusi, ketika seorang adik dari pacarnya meminta Chimoy untuk menjual anak perempuan itu untuk melayani kebutuhan seks.
 
Dari itu, Chimoy mendirikan sebuah operasi mucikari. Dia memiliki mobil, rumah dan beberapa perempuan  yang bekerja padanya. Dari operasi mucikari itu, dia meraup Rp32 juta per bulan.
 
”Uang itu terlalu kuat untuk ditolak,” katanya. ”Saya sangat bangga untuk menghasilkan uang sendiri.”
 
Dalam beroperasi menggaet pelanggan seks, para remaja perempuan yang jadi anak buah Chimoy, memanfaatkan media sosial dan ponsel. Mereka tidak perlu mejeng dengan rok mini dan sepatu hak tinggi di sudut-sudut kota yang remang-remang.

”Hal memuakkan adalah Anda melihat anak 11 tahun, 12 tahun,  masuk ke praktik (prostiusi),” Leonarda Kling, wakil regional yang berbasis di Jakarta untuk Terre des Hommes Netherlands , sebuah lembaga nirlaba pada isu-isu perdagangan manusia.

Masih menurut media Inggris itu,  Chimoy, juga kadang-kadang bekerja sebagai PSK. Remaja lainnya yang terlibat dalam usaha prostitusi anak, tidak bersedia diwawancarai meski, namanya dirahasiakan.
 
Organisasi PBB untuk Urusan Buruh, memperkirakan, 40 ribu sampai 70 ribu anak menjadi korban eksploitasi seksual di Indonesia setiap tahunnya. Banyak  kasus pelecehan yang dilakukan orang dewasa itu dipicu masalah kemiskinan dan konsumerisme.

Remaja laki-laki berusia 14 tahun, yang disapa dengan sapaan Ds, mengaku bekerja untuk melayani kebutuhan seks para perempuan. Dia yang memamerkan sebuah smartphone  mengaku, rutin melayani kebutuhan seks para perempuan antara usia 30 sampai 40-an tahun. Saban bulan, dia meraup sekitar Rp5 juta.

”Saya tidak ingin melakukannya, tapi saya harus memiliki BlackBerry,” ucap remaja yang merupakan anak buruh pabrik itu.
 
 

 

(mas)

shadow