Pelatih Arema: Meiga Cuma Salah Antisipasi
Rabu, 09 September 2015 - 21:42 WIB
Pelatih Arema: Meiga Cuma Salah Antisipasi
A
A
A
MALANG - Sebelum laga kontra PSGC Ciamis, Pelatih Arema Cronus Joko Susilo sempat bimbang dengan status Kurnia Meiga. Kiper utama Arema ini sudah dalam kondisi fit untuk dimainkan setelah berbulan-bulan absen.
Joko ragu kondisi Meiga yang sudah lama istirahat masih butuh adaptasi, terutama pada reflek dan konsentrasinya. Akhirnya Meiga diputuskan menjadi pemain pengganti dan masuk memggeser posisi Kadek Wardana menit ke-81 waktu normal.
Kekhawatiran Joko akhirnya menjadi kenyataan ketika keputusan memasukkan Meiga berujung blunder. Ketika baru lima menit di lapangan, Kurnia Meiga mengganjal Ganjar Kurniawan di sisi kanan kotak 12 pas. Penalti Osas Saha pun memupus kemenangan Singo Edan malam itu. (Baca juga: Meiga Blunder, Arema Gagal Rebut Takhta)
Arema sejatinya banyak melakukan pergantian, namun hanya Kurnia Meiga yang berperan besar pada hasil laga. Seandainya Kadek Wardana tetap berada di bawah mistar mungkin saja Arema bakal finish sebagai juara grup.
Walau demikian, Joko tidak mau menyalahkan kiper utama Arema berusia 25 tahun tersebut. Dia mengatakan antisipasi Kurnia Meiga yang mempersempit ruang saat Ganjar merangsek ke kotak penalti tak bisa disalahkan walau sangat riskan.
"Tidak ada pemain yang harus disalahkan di pertandingan ini. Saya sebagai pelatih paling bertanggungjawab. PSGC bermain dengan semangat tinggi dan disiplin yang membuat kami kesulitan mencetak gol. Soal penalti Kurnia Meiga, dia hanya berupaya melakukan antisipasi," tutur Joko Susilo.
Joko menyadari strategi memasang Meiga yang berujung pinalti mendatangkan banyak pertanyaan di benak Aremania. "Kondisi memang Meiga sudah membaik dan siap dimainkan. Itu alasan saya memberi kesempatan," tambahnya.
Arema sekali lagi menghadapi kebuntuan ketika beradu dengan tim yang defensif. Lawan PSGC, gol hanya diciptakan lewat penalti dan Singo Edan seperti kehilangan kreativitas untuk membongkar pertahanan lawan.
Sementara, PSGC Ciamis cukup senang walau gagal merebut tiket ke babak delapan besar. Mengimbangi tim sekelas Arema Cronus, menurut Pelatih PSGC Hari Rafni Kotari, merupakan hasil yang patut diapresiasi.
"Saya senang dengan semangat juang pemain menghadapi tim kuat seperti Arema. Tidak lolos bukan masalah bagi kami, yang terpenting sudah berjuang dengan maksimal dan bisa mengimbangi tuan rumah," sebut Hari.
Dia menyadari tak banyak yang bisa dilakukan kontra tim sekelas Arema, salah satunya mempertahankan kolektivitas. "Kami sudah melakukan permainan tim dengan bagus. Arema kesulitan melakukan tendangan ke arah gawang. Saya rasa kinerja pemain PSGC cukup bagus," puji dia.
Joko ragu kondisi Meiga yang sudah lama istirahat masih butuh adaptasi, terutama pada reflek dan konsentrasinya. Akhirnya Meiga diputuskan menjadi pemain pengganti dan masuk memggeser posisi Kadek Wardana menit ke-81 waktu normal.
Kekhawatiran Joko akhirnya menjadi kenyataan ketika keputusan memasukkan Meiga berujung blunder. Ketika baru lima menit di lapangan, Kurnia Meiga mengganjal Ganjar Kurniawan di sisi kanan kotak 12 pas. Penalti Osas Saha pun memupus kemenangan Singo Edan malam itu. (Baca juga: Meiga Blunder, Arema Gagal Rebut Takhta)
Arema sejatinya banyak melakukan pergantian, namun hanya Kurnia Meiga yang berperan besar pada hasil laga. Seandainya Kadek Wardana tetap berada di bawah mistar mungkin saja Arema bakal finish sebagai juara grup.
Walau demikian, Joko tidak mau menyalahkan kiper utama Arema berusia 25 tahun tersebut. Dia mengatakan antisipasi Kurnia Meiga yang mempersempit ruang saat Ganjar merangsek ke kotak penalti tak bisa disalahkan walau sangat riskan.
"Tidak ada pemain yang harus disalahkan di pertandingan ini. Saya sebagai pelatih paling bertanggungjawab. PSGC bermain dengan semangat tinggi dan disiplin yang membuat kami kesulitan mencetak gol. Soal penalti Kurnia Meiga, dia hanya berupaya melakukan antisipasi," tutur Joko Susilo.
Joko menyadari strategi memasang Meiga yang berujung pinalti mendatangkan banyak pertanyaan di benak Aremania. "Kondisi memang Meiga sudah membaik dan siap dimainkan. Itu alasan saya memberi kesempatan," tambahnya.
Arema sekali lagi menghadapi kebuntuan ketika beradu dengan tim yang defensif. Lawan PSGC, gol hanya diciptakan lewat penalti dan Singo Edan seperti kehilangan kreativitas untuk membongkar pertahanan lawan.
Sementara, PSGC Ciamis cukup senang walau gagal merebut tiket ke babak delapan besar. Mengimbangi tim sekelas Arema Cronus, menurut Pelatih PSGC Hari Rafni Kotari, merupakan hasil yang patut diapresiasi.
"Saya senang dengan semangat juang pemain menghadapi tim kuat seperti Arema. Tidak lolos bukan masalah bagi kami, yang terpenting sudah berjuang dengan maksimal dan bisa mengimbangi tuan rumah," sebut Hari.
Dia menyadari tak banyak yang bisa dilakukan kontra tim sekelas Arema, salah satunya mempertahankan kolektivitas. "Kami sudah melakukan permainan tim dengan bagus. Arema kesulitan melakukan tendangan ke arah gawang. Saya rasa kinerja pemain PSGC cukup bagus," puji dia.
(sha)