Dari Valcke hingga Bin Hammam: Ini Korban Bersih-Bersih FIFA
Kamis, 08 Oktober 2015 - 17:04 WIB
Dari Valcke hingga Bin Hammam: Ini Korban Bersih-Bersih FIFA
A
A
A
ZURICH - Di planet bumi, sepak bola menjadi bisnis bernilai ekonomis tinggi. Tak hanya nilai kontrak pemain yang mencapai harga triliunan rupiah, pesta sepak bola sejagat atau Piala Dunia juga menjadi ladang uang. Tak heran bila Badan Sepak Bola Dunia atau FIFA menjadi sorotan terkait kasus suap dan korupsi.
Memasuki tahun 2015, sejumlah pemimpin FIFA dicopot karena ketelibatannya menggasak uang FIFA. Pada September 2015, Sekretaris Jenderal Jerome Valcke dicopot dari jabatannya lantaran penjualan tiket ilegal di Piala Dunia 2010. (Baca juga: Jerome Valcke Tersandung Korupsi Penjualan Tiket)
Sementara mantan anggota Komite Eksekutif FIFA dan Sekretaris Jenderal CONCACAF Chuck Blazer disanksi seumur hidup tidak boleh berkecimpung dalam setiap jenis kegiatan sepak bola di tingkat nasional dan internasional. Hukuman itu dijatuhkan FIFA dalam Rapat Independen Komite Etik FIFA pada Juli 2015. (Baca juga: Pengungkap Aib FIFA Dihukum Seumur Hidup)
Komite Etik FIFA yang dipimpin Hans-Joachim Eckert, memang tengah giat melakukan bersih-bersih di FIFA. Presiden Sepp Blatter pun masuk dalam bdikiannya, termasuk Presiden UEFA Michel Platini yang terlibat dalam kasus Blatter. (Baca juga: Masa Depan Blatter dan Platini Gelap)
Berikut sejumlah pejabat yang menjadi korban bersih-bersih FIFA.
September 2015: Jerome Valcke (Sekjen): Dibebaskan dari tugas setelah tuduhan bahwa ia terlibat dalam skandal tiket.
Juli 2015: Chuck Blazer (anggota Komite Eksekutif FIFA): Dihukum dari semua aktivitas sepak bola seumur hidup terkait memfasilitasi suap untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998 dan 2010.
Mei 2015: Komite Etik Independen FIFA mennghukum sejumlah pejabat, yakni Eugenio Figueredo (wakil presiden komite eksekutif), Jeffrey Webb (wakil presiden komite eksekutif), Nicolas Leoz (komite eksekutif), Eduardo Li (komite eksekutif), Jose Maria Marin (panitia Piala Dunia 2014), Julio Rocha Lopez (ofisial pengembangan FIFA): Semua ditangkap oleh pihak berwenang AS atas tuduhan korupsi.
April 2013: Joao Havelange (presiden kehormatan): Mengundurkan diri setelah dituduh menerima suap.
Maret 2015: Vernon Manilal Fernando (komite eksekutif): Dihukum seumur hidup setelah penyelidikan menemukan keterlibatnya atas kasus suap dan korupsi.
April 2013: Ricardo Teixeira (komite eksekutif): Mengundurkan diri setelah dituduh menerima suap.
Juli 2011: Mohamed Bin Hammam (komite eksekutif): dihukum dari semua aktivitas sepakbola selama hidup setelah dinyatakan bersalah menyuap ofisial Karibia senilai USD40.000 untuk memuluskan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
September 2015: Jack Warner (komite eksekutif): Mengundurkan diri setelah diskors atas dugaan suap.
Memasuki tahun 2015, sejumlah pemimpin FIFA dicopot karena ketelibatannya menggasak uang FIFA. Pada September 2015, Sekretaris Jenderal Jerome Valcke dicopot dari jabatannya lantaran penjualan tiket ilegal di Piala Dunia 2010. (Baca juga: Jerome Valcke Tersandung Korupsi Penjualan Tiket)
Sementara mantan anggota Komite Eksekutif FIFA dan Sekretaris Jenderal CONCACAF Chuck Blazer disanksi seumur hidup tidak boleh berkecimpung dalam setiap jenis kegiatan sepak bola di tingkat nasional dan internasional. Hukuman itu dijatuhkan FIFA dalam Rapat Independen Komite Etik FIFA pada Juli 2015. (Baca juga: Pengungkap Aib FIFA Dihukum Seumur Hidup)
Komite Etik FIFA yang dipimpin Hans-Joachim Eckert, memang tengah giat melakukan bersih-bersih di FIFA. Presiden Sepp Blatter pun masuk dalam bdikiannya, termasuk Presiden UEFA Michel Platini yang terlibat dalam kasus Blatter. (Baca juga: Masa Depan Blatter dan Platini Gelap)
Berikut sejumlah pejabat yang menjadi korban bersih-bersih FIFA.
September 2015: Jerome Valcke (Sekjen): Dibebaskan dari tugas setelah tuduhan bahwa ia terlibat dalam skandal tiket.
Juli 2015: Chuck Blazer (anggota Komite Eksekutif FIFA): Dihukum dari semua aktivitas sepak bola seumur hidup terkait memfasilitasi suap untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998 dan 2010.
Mei 2015: Komite Etik Independen FIFA mennghukum sejumlah pejabat, yakni Eugenio Figueredo (wakil presiden komite eksekutif), Jeffrey Webb (wakil presiden komite eksekutif), Nicolas Leoz (komite eksekutif), Eduardo Li (komite eksekutif), Jose Maria Marin (panitia Piala Dunia 2014), Julio Rocha Lopez (ofisial pengembangan FIFA): Semua ditangkap oleh pihak berwenang AS atas tuduhan korupsi.
April 2013: Joao Havelange (presiden kehormatan): Mengundurkan diri setelah dituduh menerima suap.
Maret 2015: Vernon Manilal Fernando (komite eksekutif): Dihukum seumur hidup setelah penyelidikan menemukan keterlibatnya atas kasus suap dan korupsi.
April 2013: Ricardo Teixeira (komite eksekutif): Mengundurkan diri setelah dituduh menerima suap.
Juli 2011: Mohamed Bin Hammam (komite eksekutif): dihukum dari semua aktivitas sepakbola selama hidup setelah dinyatakan bersalah menyuap ofisial Karibia senilai USD40.000 untuk memuluskan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
September 2015: Jack Warner (komite eksekutif): Mengundurkan diri setelah diskors atas dugaan suap.
(sha)