Terus Imbang, Tenang! Itu Tanda Real Madrid Akan Juarai La Liga
Kamis, 06 Oktober 2016 - 20:00 WIB
Terus Imbang, Tenang! Itu Tanda Real Madrid Akan Juarai La Liga
A
A
A
MADRID - Seluruh pendukung Real Madrid disarankan agar tidak panik meski kondisi di Santiago Bernabeu kurang kondusif. Sebab, itu pertanda kalau Los Blancos akan menjuarai La Liga 2016/2017.
Madrid sejatinya belum terkalahkan di kompetisi domestik musim ini. Meski demikian, hampir semua Madridista merasa cemas. Itu lantaran Gareth Bale dkk gagal menang selama empat laga beruntun di semua kompetisi.
Hal paling dipermasalahkan adalah Madrid kehilangan enam angka di La Liga lantaran bermain imbang di tiga partai berturut-turut. Armada Zinedine Zidane ditahan Villarreal (1-1), Las Palmas (2-2) dan Eibar (1-1).
Catatan itu membuat Madrid turun takhta karena mencatat 15 angka hasil empat menang dan tiga imbang. Mereka dikudeta Atletico Madrid yang mencatat hasil serupa. Los Rojiblancos berkuasa lantaran unggul produktivitas.
Tapi, bila melihat sejarah, tidak ada alasan bagi fans Madrid untuk cemas. Alasannya, Los Galactico sudah 10 kali mengalami situasi seperti ini, yaitu meraih empat menang dan tiga imbang dari tujuh laga pertama La Liga. Dan, mayoritas diakhiri dengan gelar juara.
Selama 86 musim terakhir La Liga, Madrid sudah 10 kali tidak terkalahkan dalam tujuh partai awal, seperti sekarang. Tapi, dari sembilan periode sebelumnya, Madrid berhasil menduduki singgasana hingga enam kali.
Tren itu dimulai pada 1931/1932. Saat itu Madrid meraih empat menang dan tiga imbang pada awal kompetisi. Tapi, mereka bisa juara dengan 28 angka hasil 10 menang dan delapan imbang, melewati Athletic Bilbao. Dan, itu jadi gelar La Liga perdana Madrid.
Madrid kembali meraih gelar dengan situasi sama pada 1964/1965 dan 1966/1967 waktu era mendiang Miguel Munoz. Meski sempat kehilangan sejumlah angka, Madrid bisa menguasai klasemen di pengujung kompetisi.
Pada 1978/1979, Luis Molowny mengulang kisah Munoz. Molowny yang meninggal dunia pada 2010, mampu mengubah awal negatif menjadi keunggulan satu angka dari Sporting de Gijon saat kompetisi selesai.
Satu dekade kemudian tepatnya 1988/1989, Leo Beenhakker mengikuti jejak Munoz dan Molowny. Meski mencatat empat menang dan tiga imbang saat awal, Beenhakker mampu mengalahkan Barcelona dalam perebutan trofi La Liga dengan marjin lima angka.
Terakhir adalah Fabio Capello. Arsitek asal Italia itu sempat kesulitan saat debutnya melatih Madrid pada 1996/1997. Tapi, Don Fabio bisa menebusnya dengan membantu Madrid meraih trofi juara.
Statistik itu menunjukan kalau pendukung Madrid tidak perlu lagi merasa cemas. Sebab, ada kemunkian besar Zizou akan mengubah atmosfir negatif saat ini menjadi pesta perayaan gelar.
Madrid sejatinya belum terkalahkan di kompetisi domestik musim ini. Meski demikian, hampir semua Madridista merasa cemas. Itu lantaran Gareth Bale dkk gagal menang selama empat laga beruntun di semua kompetisi.
Hal paling dipermasalahkan adalah Madrid kehilangan enam angka di La Liga lantaran bermain imbang di tiga partai berturut-turut. Armada Zinedine Zidane ditahan Villarreal (1-1), Las Palmas (2-2) dan Eibar (1-1).
Catatan itu membuat Madrid turun takhta karena mencatat 15 angka hasil empat menang dan tiga imbang. Mereka dikudeta Atletico Madrid yang mencatat hasil serupa. Los Rojiblancos berkuasa lantaran unggul produktivitas.
Tapi, bila melihat sejarah, tidak ada alasan bagi fans Madrid untuk cemas. Alasannya, Los Galactico sudah 10 kali mengalami situasi seperti ini, yaitu meraih empat menang dan tiga imbang dari tujuh laga pertama La Liga. Dan, mayoritas diakhiri dengan gelar juara.
Selama 86 musim terakhir La Liga, Madrid sudah 10 kali tidak terkalahkan dalam tujuh partai awal, seperti sekarang. Tapi, dari sembilan periode sebelumnya, Madrid berhasil menduduki singgasana hingga enam kali.
Tren itu dimulai pada 1931/1932. Saat itu Madrid meraih empat menang dan tiga imbang pada awal kompetisi. Tapi, mereka bisa juara dengan 28 angka hasil 10 menang dan delapan imbang, melewati Athletic Bilbao. Dan, itu jadi gelar La Liga perdana Madrid.
Madrid kembali meraih gelar dengan situasi sama pada 1964/1965 dan 1966/1967 waktu era mendiang Miguel Munoz. Meski sempat kehilangan sejumlah angka, Madrid bisa menguasai klasemen di pengujung kompetisi.
Pada 1978/1979, Luis Molowny mengulang kisah Munoz. Molowny yang meninggal dunia pada 2010, mampu mengubah awal negatif menjadi keunggulan satu angka dari Sporting de Gijon saat kompetisi selesai.
Satu dekade kemudian tepatnya 1988/1989, Leo Beenhakker mengikuti jejak Munoz dan Molowny. Meski mencatat empat menang dan tiga imbang saat awal, Beenhakker mampu mengalahkan Barcelona dalam perebutan trofi La Liga dengan marjin lima angka.
Terakhir adalah Fabio Capello. Arsitek asal Italia itu sempat kesulitan saat debutnya melatih Madrid pada 1996/1997. Tapi, Don Fabio bisa menebusnya dengan membantu Madrid meraih trofi juara.
Statistik itu menunjukan kalau pendukung Madrid tidak perlu lagi merasa cemas. Sebab, ada kemunkian besar Zizou akan mengubah atmosfir negatif saat ini menjadi pesta perayaan gelar.
(mir)