22 Cedera yang Hambat Pedrosa jadi Juara Dunia MotoGP (Bagian I)
Sabtu, 12 November 2016 - 07:00 WIB
22 Cedera yang Hambat Pedrosa jadi Juara Dunia MotoGP (Bagian I)
A
A
A
VALENCIA - Gelaran MotoGP Jepang 2001 di Sirkuit Suzuka, memiliki kenangan tersendiri bagi Dani Pedrosa. Pasalnya, di sanalah dia memulai debutnya pada Kejuaraan Dunia Balap GP Motor, tepatnya pada kelas 125cc.
Dengan bakatnya yang bersinar dalam lomba balap motor usia muda di Negeri Matador. Saat itu Pedrosa sudah dipercaya membalap semusim penuh untuk tim besar asal Spanyol, Telefonica MoviStar Junior Team yang menggunakan motor Honda RS125R.
Saat Pedrosa masih berstatus debutan, pentolan timnya itu adalah Toni Elias yang finis di urutan tiga klasemen akhir. Tapi tak ada yang menyangka kalau Pedrosa langsung nyetel dan finis di peringkat 8 di ujung musim. Padahal saat itu sejumlah pembalap senior masih ikutan tampil di kelas 125cc. Selain Elias ada juga Manuel Poggiali (juara dunia musim 2001), Youichi Ui, Stefano Perugini, hingga Lucio Cecchinello, yang pasca pensiun membentuk tim privateer, LCR.
Tapi tahukah Anda ternyata pada musim itu pula, Casey Stoner melakoni debutnya di GP Motor dunia? Apakah Anda juga menyadari kalau debut Stoner musim itu bersama tim yang juga dibela Dani Pedrosa, Telefonica MoviStar Junior Team? Bedanya, Pedrosa bersama Elias dan Joan Olive kebagian balapan di semua seri, sedang Stoner cuma kebagian turun di dua seri.
Akan tetapi tak ada bisa menyangka pula kalau pada musim seterusnya Pedrosa jadi jagoan, dengan titel dunia kelas 125cc (2003) dan dua gelar juara dunia kelas 250cc (2004 musim debutnya, lalu 2005), seluruhnya bersama Honda. Pun tak ada menyangka setelah debutnya musim itu, Stoner pada saat ini tercatat sebagai satu-satunya pembalap yang mampu meraih gelar juara dunia dengan dua motor dari dua pabrikan beda benua, Italia (Ducati) dan Jepang (Honda).
Namun kali ini kita akan membahas lebih jauh soal Pedrosa, yang mana sudah 11 musim terakhir beraksi di kelas bergengsi tapi tak pernah keluar jadi juara dunia. Prestasi terbaiknya di kelas utama adalah tiga kali runner-up klasemen akhir 2007, 2010 dan 2012, juga semuanya bersama Honda.
Apakah dia tidak dinaungi keberuntungan setiap musimnya di kelas utama? Padahal, prestasinya terbilang moncer dengan sejauh ini meraup 28 kemenangan seri, 102 podium, 28 pole position, 41 fastest lap dari 176 start!
Banyak yang bilang sebab mengapa hingga usia 31 tahun, Pedrosa masih belum mampu meraih gelar juara dunia MotoGP karena posturnya yang mungil. Seperti diketahui, tingginya cuma 158cm! Saat Pedrosa sukses memacu Honda RS125R dan RSW250, berat kering masing-masing motor tersebut ialah 71,5 kg dan 101 kg. Sedang ketika memacu RC211V kala debut di kelas bergengsi, berat minimum motornya 145 kg.
Lalu beratnya naik secara konsisten ke 148 kg pada 2007 (RC212V), 150 kg pada 2010, 160 kg pada 2013 (RC213V) dan terakhir turun pada 2015 ke angka 158 kg. Perlu diketahui pula kalau pada 2007 dan 2011, kapasitas mesin motor kelas MotoGP tereduksi jadi 800cc (pada 2002-2006 dan 2012 hingga sekarang kapasitas mesin 1000cc).
Nah pertanyaannya kini, apakah dengan kenaikan berat minimum motor yang ditungganginya, hingga 40-50 kg dari peralihan kelas 250cc ke MotoGP, telah menyebabkan Pedrosa tak bisa meraih gelar juara dunia kelas bergengsi?
Dengan bakatnya yang bersinar dalam lomba balap motor usia muda di Negeri Matador. Saat itu Pedrosa sudah dipercaya membalap semusim penuh untuk tim besar asal Spanyol, Telefonica MoviStar Junior Team yang menggunakan motor Honda RS125R.
Saat Pedrosa masih berstatus debutan, pentolan timnya itu adalah Toni Elias yang finis di urutan tiga klasemen akhir. Tapi tak ada yang menyangka kalau Pedrosa langsung nyetel dan finis di peringkat 8 di ujung musim. Padahal saat itu sejumlah pembalap senior masih ikutan tampil di kelas 125cc. Selain Elias ada juga Manuel Poggiali (juara dunia musim 2001), Youichi Ui, Stefano Perugini, hingga Lucio Cecchinello, yang pasca pensiun membentuk tim privateer, LCR.
Tapi tahukah Anda ternyata pada musim itu pula, Casey Stoner melakoni debutnya di GP Motor dunia? Apakah Anda juga menyadari kalau debut Stoner musim itu bersama tim yang juga dibela Dani Pedrosa, Telefonica MoviStar Junior Team? Bedanya, Pedrosa bersama Elias dan Joan Olive kebagian balapan di semua seri, sedang Stoner cuma kebagian turun di dua seri.
Akan tetapi tak ada bisa menyangka pula kalau pada musim seterusnya Pedrosa jadi jagoan, dengan titel dunia kelas 125cc (2003) dan dua gelar juara dunia kelas 250cc (2004 musim debutnya, lalu 2005), seluruhnya bersama Honda. Pun tak ada menyangka setelah debutnya musim itu, Stoner pada saat ini tercatat sebagai satu-satunya pembalap yang mampu meraih gelar juara dunia dengan dua motor dari dua pabrikan beda benua, Italia (Ducati) dan Jepang (Honda).
Namun kali ini kita akan membahas lebih jauh soal Pedrosa, yang mana sudah 11 musim terakhir beraksi di kelas bergengsi tapi tak pernah keluar jadi juara dunia. Prestasi terbaiknya di kelas utama adalah tiga kali runner-up klasemen akhir 2007, 2010 dan 2012, juga semuanya bersama Honda.
Apakah dia tidak dinaungi keberuntungan setiap musimnya di kelas utama? Padahal, prestasinya terbilang moncer dengan sejauh ini meraup 28 kemenangan seri, 102 podium, 28 pole position, 41 fastest lap dari 176 start!
Banyak yang bilang sebab mengapa hingga usia 31 tahun, Pedrosa masih belum mampu meraih gelar juara dunia MotoGP karena posturnya yang mungil. Seperti diketahui, tingginya cuma 158cm! Saat Pedrosa sukses memacu Honda RS125R dan RSW250, berat kering masing-masing motor tersebut ialah 71,5 kg dan 101 kg. Sedang ketika memacu RC211V kala debut di kelas bergengsi, berat minimum motornya 145 kg.
Lalu beratnya naik secara konsisten ke 148 kg pada 2007 (RC212V), 150 kg pada 2010, 160 kg pada 2013 (RC213V) dan terakhir turun pada 2015 ke angka 158 kg. Perlu diketahui pula kalau pada 2007 dan 2011, kapasitas mesin motor kelas MotoGP tereduksi jadi 800cc (pada 2002-2006 dan 2012 hingga sekarang kapasitas mesin 1000cc).
Nah pertanyaannya kini, apakah dengan kenaikan berat minimum motor yang ditungganginya, hingga 40-50 kg dari peralihan kelas 250cc ke MotoGP, telah menyebabkan Pedrosa tak bisa meraih gelar juara dunia kelas bergengsi?
(sbn)