Di Pesta Perpisahan Yamaha, Rossi Panjatkan Doa buat Lorenzo
Senin, 14 November 2016 - 19:00 WIB
Di Pesta Perpisahan Yamaha, Rossi Panjatkan Doa buat Lorenzo
A
A
A
VALENCIA - Sebuah pertempuran hebat antara dua pembalap terjadi pada seri terakhir Kejuaraan Dunia Balap GP Motor 2016 di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Minggu (13/11) malam WIB. Pelakunya dua Italiano, Valentino Rossi (Yamaha), dan Andrea Iannone (Ducati). Pertarungan antara keduanya yang terjadi hampir di sepanjang lomba MotoGP Valencia 2016, diibaratkan media dunia layaknya ‘duel klasik antar pembalap kelas bergengsi’. Tengok saja dari rekor kecil yang tercipta dari pertempuran mereka, telah terjadi 14 kali aksi overtaking antara keduanya.
Namun lagi-lagi Sirkuit Valencia tak memberi peruntungan bagus buat The Doctor. Karena dia kembali sial di sana. Setelah musim lalu gagal membendung Jorge Lorenzo merebut gelar juara dunia ketiganya. Musim ini Rossi mesti mengakhiri lomba di urutan keempat, meski dia telah sukses mengamankan posisi dua akhir musim.
Ibarat kata, rider Italia 37 tahun itu mendapatkan kue tart manis tahun ini, tapi tidak sempat menaruh cherry merah di atasnya. Karena setelah paceklik kemenangan seri sejak GP Catalunya (seri 7), tim asal Iwata malah menghentikan puasanya itu bersama Lorenzo, pembalap yang pada Selasa (15/11) akan berganti tim ke Ducati.
Berikut kutipan wawancara GPOne dengan Rossi dalam pesta kecil Yamaha melepas Lorenzo di garasi pit mereka pasca lomba MotoGP Valencia 2016.
Apakah finis di podium (Valencia 2016) jadi hasil yang penting?
“Saya tidak senang karena gagal meraihnya, tapi pada saat bersamaan, itu tidak mengubah banyak hal. Saya finis keempat, tapi bagaimanapun juga saya menjalani lomba dengan baik.”
Apa masalah terbesar Anda? Apakah masalah ini yang membedakan performa Anda dengan Lorenzo di Valencia 2016?
“Masalahnya adalah ban depan. Saya tidak berpikir itu bukan keputusan yang tepat. Padahal saya sempat berpikir untuk menggunakan yang hard, tapi jika menggunakan jenis ini motor saya tidak memiliki daya lekat yang cukup dengan aspal. Sedang jenis soft akan membuat motor saya bermasalah di atas temperatur yang tinggi. Sebagian besar perbedaan performa saya dengan Lorenzo memang pemilihan ban. Tapi lebih dari semua ini, Jorge membalap lebih baik ketimbang saya di lintasan ini.”
Apakah itu juga berarti di lomba ini, Yamaha sekali lagi menampakkan salah satu kelemahannya (dengan ban Michelin) beda dengan Ducati yang mulai bisa menguasainya?
“Di lomba ini sama seperti yang kami alami di Aragon, di mana saya sebenarnya memperkirakan Honda tampil lebih kuat ketimbang kami pada putaran-putaran terakhir. Di lomba terakhir, Ducati juga telah memperlihatkan penggunaan ban yang lebih baik daripada kami, khususnya lebih mampu menjaga tingkat stres ban di bagian depan. Motor kami memiliki beberapa titik lemah, tapi juga punya poin kekuatan pula, seperti Ducati.”
Apakah itu pertanda Lorenzo akan melakukannya bersama Ducati dengan baik? Atmosfer apa yang Anda pikir Lorenzo akan temukan di Ducati nanti?
“Melupakan Jorge, dan Ducati dalam persaingan perebutan gelar juara dunia musim depan (2017) tentu sangat bodoh. Sudah terjadi banyak perubahan sejak saya tak lagi di sana, tapi saya selalu merasa nyaman dengan orang-orang di Ducati. Sayangnya saat itu, kami tidak bisa meningkatkan kemampuan motor, dan meraih hasil-hasil bagus. Namun sisanya saya suka semuanya. Sedang di Yamaha, pembalap selalu merupakan prioritas utama, yang mana saya pikir begitu juga di Ducati.”
Apakah Anda berpikir Lorenzo mengikuti jejak Anda dengan pindah ke Ducati?
“Seperti yang saya katakan kemarin, di satu sisi saya memiliki hubungan yang sulit dengan Jorge di luar lintasan. Tapi di sisi lain, kami saling memotivasi satu sama lain. Kami selalu mengangkat performa tim. Saya mendoakan yang terbaik buatnya, dan saya berharap dia mampu untuk jadi lebih kompetitif ketimbang saya.”
Sekarang waktunya bicara soal 2017, bagian mana dari motor Yamaha yang Anda ingin tingkatkan kemampuannya?
“Tim kami, motor kami, dan saya harus lebih baik lagi saat lomba berlangsung dalam kondisi flag-to-flag (cuaca peralihan dalam satu lomba). Dan sisanya adalah cerita lama: Anda harus meminimalisir kesalahan, dan tampil lebih cepat (sambil tertawa).”
Ini merupakan lomba terakhir bagi salah satu mekanik Anda, Gary Coleman?
“Ya, dia sudah terlibat di Balap GP Motor selama hampir 40 tahun, dan dia sudah bekerja dengan saya selama 16 tahun. Saya masih cukup muda ketika bertemu dengannya. Adalah sebuah kehormatan bisa bekerjasama dengannya. Pada awal musim ini, dia telah memberitahu saya bahwa ini akan jadi musim terakhirnya, dan pastinya saya benar-benar akan meridukannya.”
Namun lagi-lagi Sirkuit Valencia tak memberi peruntungan bagus buat The Doctor. Karena dia kembali sial di sana. Setelah musim lalu gagal membendung Jorge Lorenzo merebut gelar juara dunia ketiganya. Musim ini Rossi mesti mengakhiri lomba di urutan keempat, meski dia telah sukses mengamankan posisi dua akhir musim.
Ibarat kata, rider Italia 37 tahun itu mendapatkan kue tart manis tahun ini, tapi tidak sempat menaruh cherry merah di atasnya. Karena setelah paceklik kemenangan seri sejak GP Catalunya (seri 7), tim asal Iwata malah menghentikan puasanya itu bersama Lorenzo, pembalap yang pada Selasa (15/11) akan berganti tim ke Ducati.
Berikut kutipan wawancara GPOne dengan Rossi dalam pesta kecil Yamaha melepas Lorenzo di garasi pit mereka pasca lomba MotoGP Valencia 2016.
Apakah finis di podium (Valencia 2016) jadi hasil yang penting?
“Saya tidak senang karena gagal meraihnya, tapi pada saat bersamaan, itu tidak mengubah banyak hal. Saya finis keempat, tapi bagaimanapun juga saya menjalani lomba dengan baik.”
Apa masalah terbesar Anda? Apakah masalah ini yang membedakan performa Anda dengan Lorenzo di Valencia 2016?
“Masalahnya adalah ban depan. Saya tidak berpikir itu bukan keputusan yang tepat. Padahal saya sempat berpikir untuk menggunakan yang hard, tapi jika menggunakan jenis ini motor saya tidak memiliki daya lekat yang cukup dengan aspal. Sedang jenis soft akan membuat motor saya bermasalah di atas temperatur yang tinggi. Sebagian besar perbedaan performa saya dengan Lorenzo memang pemilihan ban. Tapi lebih dari semua ini, Jorge membalap lebih baik ketimbang saya di lintasan ini.”
Apakah itu juga berarti di lomba ini, Yamaha sekali lagi menampakkan salah satu kelemahannya (dengan ban Michelin) beda dengan Ducati yang mulai bisa menguasainya?
“Di lomba ini sama seperti yang kami alami di Aragon, di mana saya sebenarnya memperkirakan Honda tampil lebih kuat ketimbang kami pada putaran-putaran terakhir. Di lomba terakhir, Ducati juga telah memperlihatkan penggunaan ban yang lebih baik daripada kami, khususnya lebih mampu menjaga tingkat stres ban di bagian depan. Motor kami memiliki beberapa titik lemah, tapi juga punya poin kekuatan pula, seperti Ducati.”
Apakah itu pertanda Lorenzo akan melakukannya bersama Ducati dengan baik? Atmosfer apa yang Anda pikir Lorenzo akan temukan di Ducati nanti?
“Melupakan Jorge, dan Ducati dalam persaingan perebutan gelar juara dunia musim depan (2017) tentu sangat bodoh. Sudah terjadi banyak perubahan sejak saya tak lagi di sana, tapi saya selalu merasa nyaman dengan orang-orang di Ducati. Sayangnya saat itu, kami tidak bisa meningkatkan kemampuan motor, dan meraih hasil-hasil bagus. Namun sisanya saya suka semuanya. Sedang di Yamaha, pembalap selalu merupakan prioritas utama, yang mana saya pikir begitu juga di Ducati.”
Apakah Anda berpikir Lorenzo mengikuti jejak Anda dengan pindah ke Ducati?
“Seperti yang saya katakan kemarin, di satu sisi saya memiliki hubungan yang sulit dengan Jorge di luar lintasan. Tapi di sisi lain, kami saling memotivasi satu sama lain. Kami selalu mengangkat performa tim. Saya mendoakan yang terbaik buatnya, dan saya berharap dia mampu untuk jadi lebih kompetitif ketimbang saya.”
Sekarang waktunya bicara soal 2017, bagian mana dari motor Yamaha yang Anda ingin tingkatkan kemampuannya?
“Tim kami, motor kami, dan saya harus lebih baik lagi saat lomba berlangsung dalam kondisi flag-to-flag (cuaca peralihan dalam satu lomba). Dan sisanya adalah cerita lama: Anda harus meminimalisir kesalahan, dan tampil lebih cepat (sambil tertawa).”
Ini merupakan lomba terakhir bagi salah satu mekanik Anda, Gary Coleman?
“Ya, dia sudah terlibat di Balap GP Motor selama hampir 40 tahun, dan dia sudah bekerja dengan saya selama 16 tahun. Saya masih cukup muda ketika bertemu dengannya. Adalah sebuah kehormatan bisa bekerjasama dengannya. Pada awal musim ini, dia telah memberitahu saya bahwa ini akan jadi musim terakhirnya, dan pastinya saya benar-benar akan meridukannya.”
(sbn)