Dua Musuh Terbesar Coba Hadang Arema di Solo
Kamis, 23 Februari 2017 - 16:03 WIB
Dua Musuh Terbesar Coba Hadang Arema di Solo
A
A
A
SOLO - Arema FC bakal menghadapi tantangan ganda di Stadion Manahan, Solo, pada babak delapan besar Piala Presiden 2017. Tantangan pertama adalah dari Sriwijaya FC, lawan yang akan dihadapi pada Minggu (26/2/2017) nanti.
Sriwijaya FC tentu bakal menjadi lawan berbobot karena memiliki materi pemain yang mumpuni. Selain tantangan kualitas lawan, Singo Edan juga menghadapi mitos sulit menang ketika bertarung di Manahan dalam berbagai event.
Pelatih Aji Santoso mengakui lawan yang dihadapi adalah tim yang berpengalaman dan jelas akan memberi perlawanan sengit. Dia pun menginginkan Singo Edan untuk mengaum lebih keras lagi setelah berhasil melewati babak penyisihan dengan sukses.
Dia mengatakan, Arema tengah dalam kepercayaan diri yang bagus dan siap dengan tekanan di Manahan. "Tim tidak ada masalah. Arema siap menghadapi Sriwijaya FC yang merupakan tim bagus di Indonesia. Pertandingan akan sengit dan kami sudah siap dengan situasi apa pun," katanya.
Soal mitos Arema selalu kesulitan ketika bertarung di Solo, eks pelatih Persela Lamongan ini tidak percaya dengan anggapan itu. Menurutnya kemenangan dan kekalahan tim disebabkan banyak faktor, bukan hanya disebabkan tempat bertanding.
"Kalau tim secara keseluruhan siap bertanding dan percaya diri bisa menang, maka selalu ada peluang menang. Tapi kalau sebelum bertanding sudah dilemahkan oleh mitos, maka itu jelas tidak baik untuk tim. Saya tidak percaya dengan mitos Arema susah menang di Solo," beber Aji.
Konfidensi Aji mungkin merujuk pada fakta dia mempersembahkan trofi pertamanya untuk Arema justru di Stadion Manahan. Singo Edan kala itu menjadi juara Trofeo Bhayangkara setelah mengalahkan Persija Jakarta 1-0 dan menahan Bhayangkara FC tanpa gol.
Di sisi lain, Aji juga menjelaskan secara logis, bahwa dari waktu ke waktu selalu ada perubahan dalam sebuah tim. Pergantian pelatih dan pemain tentu akan mengubah daya saing tim, sehingga tidak bisa disamakan dengan pengalaman di masa lalu.
"Sekarang saya melatih Arema dan mengajak pemain untuk total di mana pun bertanding, tanpa berpikir soal mitos atau pengalaman di pertandingan sebelumnya. Semua harus berpikir logis dan yakin dengan kekuatan yang dimiliki," demikian Aji.
Sriwijaya FC tentu bakal menjadi lawan berbobot karena memiliki materi pemain yang mumpuni. Selain tantangan kualitas lawan, Singo Edan juga menghadapi mitos sulit menang ketika bertarung di Manahan dalam berbagai event.
Pelatih Aji Santoso mengakui lawan yang dihadapi adalah tim yang berpengalaman dan jelas akan memberi perlawanan sengit. Dia pun menginginkan Singo Edan untuk mengaum lebih keras lagi setelah berhasil melewati babak penyisihan dengan sukses.
Dia mengatakan, Arema tengah dalam kepercayaan diri yang bagus dan siap dengan tekanan di Manahan. "Tim tidak ada masalah. Arema siap menghadapi Sriwijaya FC yang merupakan tim bagus di Indonesia. Pertandingan akan sengit dan kami sudah siap dengan situasi apa pun," katanya.
Soal mitos Arema selalu kesulitan ketika bertarung di Solo, eks pelatih Persela Lamongan ini tidak percaya dengan anggapan itu. Menurutnya kemenangan dan kekalahan tim disebabkan banyak faktor, bukan hanya disebabkan tempat bertanding.
"Kalau tim secara keseluruhan siap bertanding dan percaya diri bisa menang, maka selalu ada peluang menang. Tapi kalau sebelum bertanding sudah dilemahkan oleh mitos, maka itu jelas tidak baik untuk tim. Saya tidak percaya dengan mitos Arema susah menang di Solo," beber Aji.
Konfidensi Aji mungkin merujuk pada fakta dia mempersembahkan trofi pertamanya untuk Arema justru di Stadion Manahan. Singo Edan kala itu menjadi juara Trofeo Bhayangkara setelah mengalahkan Persija Jakarta 1-0 dan menahan Bhayangkara FC tanpa gol.
Di sisi lain, Aji juga menjelaskan secara logis, bahwa dari waktu ke waktu selalu ada perubahan dalam sebuah tim. Pergantian pelatih dan pemain tentu akan mengubah daya saing tim, sehingga tidak bisa disamakan dengan pengalaman di masa lalu.
"Sekarang saya melatih Arema dan mengajak pemain untuk total di mana pun bertanding, tanpa berpikir soal mitos atau pengalaman di pertandingan sebelumnya. Semua harus berpikir logis dan yakin dengan kekuatan yang dimiliki," demikian Aji.
(bbk)