Jujur Saja, Kami Memang Meremehkan Tantangan F1 2017
Kamis, 06 April 2017 - 17:14 WIB
Jujur Saja, Kami Memang Meremehkan Tantangan F1 2017
A
A
A
SHANGHAI - Usai bangkit dari urutan kesembilan ke urutan keenam di klasemen konstruktor F1 musim lalu, Honda memanfaatkan dihapusnya sistem token FIA perihal pengembangan mesin. Tapi pada awal musim 2017, F1 GP Australia, pabrikan mesin asal Jepang itu mengalami kesulitan.
Untuk 2017, pabrikan Jepang tersebut membangun mesin yang 10 kg lebih ringan, satu sentimeter lebih rendah, membuat layout yang serupa seperti Mercedes, dan mengembangkan teknologi pembakaran yang baru untuk meningkatkan efisiensi dan tenaga.
.jpg)
Bos Honda di F1, Yusuke Hasegawa, mengira mesin baru Honda dapat menyamai tingkat tenaga mesin Mercedes 2016 pada awal musim ini. Namun masalah reliabilitas saat tes pramusim menghambat progres mobil tim McLaren-Honda, dan membuat hubungan keduanya semakin tegang.
Meski McLaren-Honda tidak mengalami masalah mesin saat GP Australia, Hasegawa mengakui mesin mereka masih kurang tenaga. Ia juga mengaku menganggap enteng tuntutan teknologi yang diperlukan untuk menambah tenaga.
"Jujur saja, kami memang terlalu menganggap remeh tantangan F1 tahun ini. Untuk mencapai teknologi baru ternyata memang sangat sulit – itu kesalahan saya," ucap Hasegawa kepada Motorsport.com jelang akhir pekan seri kedua musim ini, F1 GP China 2017, di Sirkuit Shanghai, Jumat-Minggu (7-9 April).
Apa saja yang menurut Honda mereka telah membuat kesalahan? "Saat tes dyno, kami meraih kemajuan di komponen silinder tunggal, tapi begitu mesin V6 kami komplit, masalah justru banyak yang muncul," kata Hasegawa.
"Pencapaian kami terkait silinder tunggal itu sebenarnya sudah sangat bagus, tapi ketika kami mengaplikasikannya ke mesin V6, hasilnya malah kurang baik. Kami kecewa. Kami cukup telat menyadarinya – saat Natal. Setelah memahami permasalahannya, kami harus segera mengonfirmasi spesifikasi final. Jadi kami harus melakukan beberapa kompromi," jelasnya.
_saat_lomba_f1_gp_australia_2017._(foto-istimewa).jpg)
Honda kemudian menghadapi masalah stabilitas sejak mesin mereka dipasang dan dijalankan di McLaren MCL32. "Kami menghadapi masalah getaran," tambah Hasegawa, yang juga berkata bahwa mesin baru Honda hampir memberikan tenaga yang sama seperti unit 2016.
"Padahal saat tes dyno kami tidak pernah mengalami masalah seserius itu. Ketika kami memiliki girboks, driveshaft, dan ban, baru masalah itu muncul. Bukan berarti saya menyalahkan sasis, tapi kita juga harus mengerti perbedaan situasi saat tes dyno," kata Hasegawa menjelaskan.
Adapun Honda kini tengah menggarap paket upgrade untuk mesin mereka. Hasegawa berharap dapat meluncurkannya di F1 GP Spanyol bulan Mei nanti.
"Jika kami menemukan solusi, kami harus mengganti mesin di seri kelima atau keenam. Performa kami dengan mesin bersilinder tunggal sebenarnya sudah bagus. Kami tinggal mengaplikasikan teknologi tersebut ke mesin V6. Saya percaya kami bisa memenuhi target itu," tandasnya.
Untuk 2017, pabrikan Jepang tersebut membangun mesin yang 10 kg lebih ringan, satu sentimeter lebih rendah, membuat layout yang serupa seperti Mercedes, dan mengembangkan teknologi pembakaran yang baru untuk meningkatkan efisiensi dan tenaga.
.jpg)
Bos Honda di F1, Yusuke Hasegawa, mengira mesin baru Honda dapat menyamai tingkat tenaga mesin Mercedes 2016 pada awal musim ini. Namun masalah reliabilitas saat tes pramusim menghambat progres mobil tim McLaren-Honda, dan membuat hubungan keduanya semakin tegang.
Meski McLaren-Honda tidak mengalami masalah mesin saat GP Australia, Hasegawa mengakui mesin mereka masih kurang tenaga. Ia juga mengaku menganggap enteng tuntutan teknologi yang diperlukan untuk menambah tenaga.
"Jujur saja, kami memang terlalu menganggap remeh tantangan F1 tahun ini. Untuk mencapai teknologi baru ternyata memang sangat sulit – itu kesalahan saya," ucap Hasegawa kepada Motorsport.com jelang akhir pekan seri kedua musim ini, F1 GP China 2017, di Sirkuit Shanghai, Jumat-Minggu (7-9 April).
Apa saja yang menurut Honda mereka telah membuat kesalahan? "Saat tes dyno, kami meraih kemajuan di komponen silinder tunggal, tapi begitu mesin V6 kami komplit, masalah justru banyak yang muncul," kata Hasegawa.
"Pencapaian kami terkait silinder tunggal itu sebenarnya sudah sangat bagus, tapi ketika kami mengaplikasikannya ke mesin V6, hasilnya malah kurang baik. Kami kecewa. Kami cukup telat menyadarinya – saat Natal. Setelah memahami permasalahannya, kami harus segera mengonfirmasi spesifikasi final. Jadi kami harus melakukan beberapa kompromi," jelasnya.
_saat_lomba_f1_gp_australia_2017._(foto-istimewa).jpg)
Honda kemudian menghadapi masalah stabilitas sejak mesin mereka dipasang dan dijalankan di McLaren MCL32. "Kami menghadapi masalah getaran," tambah Hasegawa, yang juga berkata bahwa mesin baru Honda hampir memberikan tenaga yang sama seperti unit 2016.
"Padahal saat tes dyno kami tidak pernah mengalami masalah seserius itu. Ketika kami memiliki girboks, driveshaft, dan ban, baru masalah itu muncul. Bukan berarti saya menyalahkan sasis, tapi kita juga harus mengerti perbedaan situasi saat tes dyno," kata Hasegawa menjelaskan.
Adapun Honda kini tengah menggarap paket upgrade untuk mesin mereka. Hasegawa berharap dapat meluncurkannya di F1 GP Spanyol bulan Mei nanti.
"Jika kami menemukan solusi, kami harus mengganti mesin di seri kelima atau keenam. Performa kami dengan mesin bersilinder tunggal sebenarnya sudah bagus. Kami tinggal mengaplikasikan teknologi tersebut ke mesin V6. Saya percaya kami bisa memenuhi target itu," tandasnya.
(sbn)