Diikuti 8.000 Pelari dari 22 Negara, Peserta MJM Akan Padati Yogyakarta
Jum'at, 13 April 2018 - 20:05 WIB
Diikuti 8.000 Pelari dari 22 Negara, Peserta MJM Akan Padati Yogyakarta
A
A
A
YOGYAKARTA - Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2018 kembali digelar akhir pekan ini. Ajang yang mempertandingkan kategori full marathon (42,195 km), half marathon (21 km), 10 km dan 5 km ini akan dihelat pada 15 April 2018 di kawasan Candi Prambanan dengan peserta mencapai 8.000 pelari dari 22 negara.
Sejumlah negara tersebut di antaranya, Malaysia, Brazil, Jepang, China, Australia, hingga Kenya. "Yang berbeda pada gelaran kali ini, para pelari akan menikmati delapan objek view yang menarik," Jelas Race Director MJM Pandu Buntaran, Jumat (13/4/2018).
Menurut Pandu, objek-objek itu akan terbagi dalam beberapa titik sepanjang rute marathon. Start dimulai di Candi Prambanan. Setelah itu, peserta akan melewati 11 desa dari dua Kabupaten berbeda. Yakni sembilan desa di Kabupaten Sleman serta dua desa di Kabupaten Klaten.
"Bermula dari titik start di lapangan utama Roro Jonggrang, selanjutnya pemandangan akan dinikmati mulai Km 13 hingga 15. Para pelari akan memandang gugusan Gunung Merapi. Selanjutnya di Km 26, pelari akan disambut oleh Monumen Taruna Perjuangan dengan Museum Pelataran," paparnya.
Adapun di Km 37-39, pelari ditemani oleh indahnya Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Sedangkan di Km 40 ada pemandangan Candi Sewu dan Candi Bubrah dan hingga akhirnya finish di Candi Prambanan lagi. Selain titik tersebut, di beberapa rute lainnya pelari juga akan menikmati pemandangan sawah dan nuansa pedesaan. Namun, sangat khas dengan kearifan lokal Jawa, khususnya DIY.
Selain itu, penyelenggaraan MJM 2018 yang bekerjasama antara pemerintah Provinsi DIY dan Bank Mandiri ini, akan lebih mengangkat dan mempromosikan kekayaan budaya dan produk lokal sehingga dapat memacu pengembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi Provinsi Yogyakarta dan sekitarnya.
Event ini juga menggandeng berbagai instansi terkait seperti Pemkab Sleman, Kepolisian Daerah Yogyakarta serta PT Taman wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko untuk mendukung kelancaran acara, termasuk pengaturan lalu lintas sehingga tidak mengganggu pelari dengan tetap menjaga kelancaran aktifitas masyarakat.
Para pelari yang mengikuti ajang ini sebagian besar berasal dari wilayah Jabodetabek dan kota-kota lain di Indonesia, serta beberapa Negara lain. Mereka (pelari) akan melintasi lokasi-lokasi tujuan wisata seperti Candi Prambanan Roro Jonggrang, Candi Plaosan, Monumen Taruna, kawasan pertanian serta lingkungan pedesaan dengan berbagai kearifan lokalnya.
Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta berharap, ajang marathon ini akan meningkatkan kunjungan wisata ke wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, lanjut Aris, Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta dan Bank Mandiri, melibatkan lebih banyak lagi sekolah, sangar, komunitas seni dan kelompok-kelompok lainnya untuk berperan aktif pada Mandiri Jogja Marathon. Sehingga, kesenian dan tradisi lokal Yogyakarta dapat lebih dikenal secara luas, baik oleh pelari, keluarga pelari, maupun pendukung lainnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communications Bank Mandiri Maristella Tri Haryanti mengemukakan, untuk memperkuat nilai tambah bagi perekonomian lokal, Bank Mandiri telah bekerjasama dengan berbagai hotel dan pelaku ekonomi lokal, termasuk penjual jajanan pasar dan kuliner keraton khas Yogyakarta serta penyediaan pisang lokal untuk konsumsi pelari.
Kami telah membeli lebih dari 8 ribu pisang dari berbagai penjual di wilayah Yogyakarta, menyediakan kuliner kerajaan Yogyakarta, jajanan tradisional khas Yogyakarta dan lainnya yang dapat dinikmati pelari dan pengunjung prambanan di race village Mandiri Jogja Marathon 2018, ujar Maristella.
Untuk kelancaran transaksi, Bank Mandiri juga telah menyiapkan jaringan pembayaran non tunai. Skema transaksi non tunai ini merupakan bagian dari upaya memasyarakatkan cashless society yang telah dicanangkan pemerintah.
Sejumlah negara tersebut di antaranya, Malaysia, Brazil, Jepang, China, Australia, hingga Kenya. "Yang berbeda pada gelaran kali ini, para pelari akan menikmati delapan objek view yang menarik," Jelas Race Director MJM Pandu Buntaran, Jumat (13/4/2018).
Menurut Pandu, objek-objek itu akan terbagi dalam beberapa titik sepanjang rute marathon. Start dimulai di Candi Prambanan. Setelah itu, peserta akan melewati 11 desa dari dua Kabupaten berbeda. Yakni sembilan desa di Kabupaten Sleman serta dua desa di Kabupaten Klaten.
"Bermula dari titik start di lapangan utama Roro Jonggrang, selanjutnya pemandangan akan dinikmati mulai Km 13 hingga 15. Para pelari akan memandang gugusan Gunung Merapi. Selanjutnya di Km 26, pelari akan disambut oleh Monumen Taruna Perjuangan dengan Museum Pelataran," paparnya.
Adapun di Km 37-39, pelari ditemani oleh indahnya Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Sedangkan di Km 40 ada pemandangan Candi Sewu dan Candi Bubrah dan hingga akhirnya finish di Candi Prambanan lagi. Selain titik tersebut, di beberapa rute lainnya pelari juga akan menikmati pemandangan sawah dan nuansa pedesaan. Namun, sangat khas dengan kearifan lokal Jawa, khususnya DIY.
Selain itu, penyelenggaraan MJM 2018 yang bekerjasama antara pemerintah Provinsi DIY dan Bank Mandiri ini, akan lebih mengangkat dan mempromosikan kekayaan budaya dan produk lokal sehingga dapat memacu pengembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi Provinsi Yogyakarta dan sekitarnya.
Event ini juga menggandeng berbagai instansi terkait seperti Pemkab Sleman, Kepolisian Daerah Yogyakarta serta PT Taman wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko untuk mendukung kelancaran acara, termasuk pengaturan lalu lintas sehingga tidak mengganggu pelari dengan tetap menjaga kelancaran aktifitas masyarakat.
Para pelari yang mengikuti ajang ini sebagian besar berasal dari wilayah Jabodetabek dan kota-kota lain di Indonesia, serta beberapa Negara lain. Mereka (pelari) akan melintasi lokasi-lokasi tujuan wisata seperti Candi Prambanan Roro Jonggrang, Candi Plaosan, Monumen Taruna, kawasan pertanian serta lingkungan pedesaan dengan berbagai kearifan lokalnya.
Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta berharap, ajang marathon ini akan meningkatkan kunjungan wisata ke wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, lanjut Aris, Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta dan Bank Mandiri, melibatkan lebih banyak lagi sekolah, sangar, komunitas seni dan kelompok-kelompok lainnya untuk berperan aktif pada Mandiri Jogja Marathon. Sehingga, kesenian dan tradisi lokal Yogyakarta dapat lebih dikenal secara luas, baik oleh pelari, keluarga pelari, maupun pendukung lainnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communications Bank Mandiri Maristella Tri Haryanti mengemukakan, untuk memperkuat nilai tambah bagi perekonomian lokal, Bank Mandiri telah bekerjasama dengan berbagai hotel dan pelaku ekonomi lokal, termasuk penjual jajanan pasar dan kuliner keraton khas Yogyakarta serta penyediaan pisang lokal untuk konsumsi pelari.
Kami telah membeli lebih dari 8 ribu pisang dari berbagai penjual di wilayah Yogyakarta, menyediakan kuliner kerajaan Yogyakarta, jajanan tradisional khas Yogyakarta dan lainnya yang dapat dinikmati pelari dan pengunjung prambanan di race village Mandiri Jogja Marathon 2018, ujar Maristella.
Untuk kelancaran transaksi, Bank Mandiri juga telah menyiapkan jaringan pembayaran non tunai. Skema transaksi non tunai ini merupakan bagian dari upaya memasyarakatkan cashless society yang telah dicanangkan pemerintah.
(nug)