Jumpa Djokovic, Tsonga Ingin Balaskan Dendam 11 Tahun Silam
Rabu, 16 Januari 2019 - 12:31 WIB
Jumpa Djokovic, Tsonga Ingin Balaskan Dendam 11 Tahun Silam
A
A
A
MELBOURNE - Jo-Wilfried Tsonga siap membalaskan dendamnya pada Novak Djokovic di Australia Terbuka 2019. 11 tahun lalu, Tsonga berhasil lolos ke final sebelum akhirnya kalah dari Djokovic lewat pertarungan melelahkan yang berakhir dengan skor 6-4, 4-6, 3-6, 6-7(2).
Kini setelah sekian lamanya, Tsonga akhirnya bisa bertemu kembali dengan petenis nomor satu dunia itu. Meski duel mereka akan tersaji di babak kedua, Tsonga telah bertekad membawa kenangan lama itu untuk menuntaskan sakit hatinya.
Membalik kisah, Tsonga pada 2008 datang ke Melbourne Park dengan peringkat 38 dunia. Tapi siapa nyana, deretan petenis Top 15 bisa dihabisi untuk mencapai babak pamungkas.
Salah satu petenis top ketika itu adalah Rafael Nadal. Petenis asal Spanyol dikalahkan Tsonga di semifinal hanya dalam tempo kurang dari dua jam.
"Itu luar biasa. Stadion sangat penuh. Banyak orang Serbia itu saja, tapi banyak juga orang Prancis. Itu adalah final yang luar biasa, jadi saya punya kenangan indah. Kecewa sudah pasti karena saya kalah. Namun bagaimanapun itu adalah kenangan indah," kenang Tsonga pada pertemuan dengan Djokovic di final Australia Terbuka 2008 seperti dikutip laman ATP, Rabu (16/1/2019).
Ternyata sukses tampil di final seri pertama grand slam itu membawa dampak positif buat Tsonga. Petenis asal Prancis tersebut setelah itu berhasil meraih 16 gelar ATP dan memenangkan banyak hadiah uang yang jumlahnya mencapai USD 21 Juta atau setara dengan Rp296 Miliar. Tsonga pun berhasil merangkak sampai peringkat lima dunia.
"Ketika Anda datang entah dari mana, tidak ada yang mengharapkan Anda untuk bermain sebaik itu dan semua orang bersorak untuk Anda. Anda petenis baru. Dan setelah itu, semua orang menginginkan sesuatu untuk Anda yang Anda inginkan. Tapi Anda tahu kalau semua itu butuh waktu dan konsistensi. Semua orang akan mengatakan itu dan berkata 'Oke, sekarang kamu yang terbaik atau salah satu yang terbaik' dan kamu harus menjadi yang terbaik sepanjang waktu, yang tentu saja tak mudah dihadapi," ungkap Tsonga.
Dalam perjalanan waktu, Tsonga memang gagal mewujudkan keinginan semua pendukungnya. Hasil buruk beberapa kali dialami seiring deraan cedera.
"Hari ini saya seperti kembali pada 2008. Orang-orang berharap lebih sedikit dari saya. Itu juga sesuatu yang baik untuk saya. Saya bekerja di sisi saya dan saya mencoba untuk kembali dan menjadi lebih baik di lapangan dan saya berharap saya akan dapat melakukan hal-hal yang baik lagi."
Kini setelah sekian lamanya, Tsonga akhirnya bisa bertemu kembali dengan petenis nomor satu dunia itu. Meski duel mereka akan tersaji di babak kedua, Tsonga telah bertekad membawa kenangan lama itu untuk menuntaskan sakit hatinya.
Membalik kisah, Tsonga pada 2008 datang ke Melbourne Park dengan peringkat 38 dunia. Tapi siapa nyana, deretan petenis Top 15 bisa dihabisi untuk mencapai babak pamungkas.
Salah satu petenis top ketika itu adalah Rafael Nadal. Petenis asal Spanyol dikalahkan Tsonga di semifinal hanya dalam tempo kurang dari dua jam.
"Itu luar biasa. Stadion sangat penuh. Banyak orang Serbia itu saja, tapi banyak juga orang Prancis. Itu adalah final yang luar biasa, jadi saya punya kenangan indah. Kecewa sudah pasti karena saya kalah. Namun bagaimanapun itu adalah kenangan indah," kenang Tsonga pada pertemuan dengan Djokovic di final Australia Terbuka 2008 seperti dikutip laman ATP, Rabu (16/1/2019).
Ternyata sukses tampil di final seri pertama grand slam itu membawa dampak positif buat Tsonga. Petenis asal Prancis tersebut setelah itu berhasil meraih 16 gelar ATP dan memenangkan banyak hadiah uang yang jumlahnya mencapai USD 21 Juta atau setara dengan Rp296 Miliar. Tsonga pun berhasil merangkak sampai peringkat lima dunia.
"Ketika Anda datang entah dari mana, tidak ada yang mengharapkan Anda untuk bermain sebaik itu dan semua orang bersorak untuk Anda. Anda petenis baru. Dan setelah itu, semua orang menginginkan sesuatu untuk Anda yang Anda inginkan. Tapi Anda tahu kalau semua itu butuh waktu dan konsistensi. Semua orang akan mengatakan itu dan berkata 'Oke, sekarang kamu yang terbaik atau salah satu yang terbaik' dan kamu harus menjadi yang terbaik sepanjang waktu, yang tentu saja tak mudah dihadapi," ungkap Tsonga.
Dalam perjalanan waktu, Tsonga memang gagal mewujudkan keinginan semua pendukungnya. Hasil buruk beberapa kali dialami seiring deraan cedera.
"Hari ini saya seperti kembali pada 2008. Orang-orang berharap lebih sedikit dari saya. Itu juga sesuatu yang baik untuk saya. Saya bekerja di sisi saya dan saya mencoba untuk kembali dan menjadi lebih baik di lapangan dan saya berharap saya akan dapat melakukan hal-hal yang baik lagi."
(bbk)