Rapuhnya Ekonomi Sepak Bola, Keuangan Barcelona Mulai Limbung
Selasa, 24 Maret 2020 - 09:26 WIB
Rapuhnya Ekonomi Sepak Bola, Keuangan Barcelona Mulai Limbung
A
A
A
BARCELONA - Agak mengejutkan ketika Barcelona dikabarkan akan melakukan pengetatan sebagai imbas ditundanya kompetisi karena pandemi Covid-19. Padahal, mereka adalah klub raksasa Primera Liga dan masuk daftar klub terkaya di dunia.
Inilah yang mungkin dikenal dengan istilah gelembung ekonomi di sepak bola. Meski memiliki pemasukan besar dari sisi penjualan hak siar, hadiah kompetisi di semua tingkatan, merchandise, penjualan tiket terusan dan harian, serta sponsor, realitasnya mereka tetap kesulitan menyeimbangkan keuangan.
Kabar tentang gelembung ekonomi sepak bola ini dipicu dengan belanja pemain yang gila-gilaan dan transfer yang mencapai angka triliunan. Di luar faktor inflasi setiap tahun, tapi agresivitas di bursa transfer membuat beberapa klub harus mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan pemain yang diinginkan.
Kini, saat kompetisi ditunda, belum genap sebulan, klub mulai merasa limbung. Tudingan gelembung ekonomi sepak bola mulai mendapat pembenar. Ibarat gelembung, sedikit tekanan karena efek persebaran virus korona sudah membuat olahraga paling populer sejagat ini kelimpungan, termasuk tim seperti Barcelona. Petinggi Blaugrana sedang berdiskusi dengan para pemain senior klub mengenai kemungkinan pengurangan gaji para pemain. Dengan kompetisi yang sedang ditangguhkan, Barca mengaku tidak melihat kemampuan menutupi anggaran mereka yang melebihi 1 miliar euro.
Salah satu langkah yang dibahas pada rapat dewan pada Rabu (18/3) adalah membahas kemungkinan pemotongan upah sampai akhir musim. Akhir pekan lalu telah terjadi pembicaraan dengan beberapa pemain senior terkait kemungkinan tersebut.
Reaksi dari para pemain sudah positif. Tapi, saat ini tidak ada kesepakatan yang dapat dicapai tanpa mengetahui berapa lama kompetisi resmi akan ditangguhkan. Hingga saat ini Barca belum mempertimbangkan pemutusan kerja sementara.
Gaji menjadi salah satu beban terbesar Barca. Menurut Global Sports Salary Survey, Barca adalah tim pertama dalam sejarah yang memiliki gaji individu rata-rata lebih dari 11 juta euro per tahun. Gaji pemain tim pertama mendominasi lebih dari 70% dari upah klub.
Barca membayar berbagai tim olahraganya 642 juta euro dan 507 juta euro untuk para pesepak bola. Para pemain bergaji tinggi inilah yang ditargetkan klub untuk dipotong guna menutupi penurunan pendapatan yang tiba-tiba.
Imbas dari berhentinya kompetisi, Barca telah menutup toko resmi mereka, museum klub, akademi di seluruh dunia, dan Camp Nou. Karena itu, klub tidak mendapat uang dari tiket atau kotak VIP. Blaugrana sebenarnya telah menemukan sumber pendapatan penting dari departemen pemasaran karena penjualan kit meningkat secara online, tapi uang itu tidak cukup untuk menambah jumlahnya.
Rencana Barca membuat para pemain dari Barcelona dan dari klub-klub lain secara teratur berhubungan dengan serikat pekerja yang mewakili para pemain Spanyol (AFE) untuk mencoba menyelesaikan sejumlah keraguan mengenai masalah ini.
Pihak klub mengonfirmasi bahwa Presiden Josep Maria Bartomeu memimpin negosiasi dengan anggota ECA (Association of European Clubs) dan UEFA, karena ada kekhawatiran umum mengenai implikasi keuangan akibat Covid-19.
Selain itu, Barca juga mengutus CEO Oscar Grau melakukan pembicaraan dengan La Liga dan klub lain di seluruh Eropa agar dapat mengambil langkah-langkah bersama untuk mengatasi dampak dari Covid-19. Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus Presiden La Liga Javier Tebas.
Dalam beberapa kesempatan, Tebas menegaskan beberapa kali bahwa kompetisi musim ini akan diselesaikan begitu situasinya membaik. Targetnya adalah meredam dampak keuangan yang diderita Barcelona dan klub-klub Spanyol serta Eropa lainnya karena skorsing liga.
Tebas bahkan memberikan dukungan penuh kepada Barca sebagai salah satu tim andalan utama Primera Liga, terutama di Liga Champions. "Sangat penting bagi stabilitas keuangan Barca dan klub-klub Spanyol lainnya. Klub lain yang telah melakukan pekerjaan mereka. Tapi, Barca harus terus berjuang untuk gelar Primera Liga dan terus melaju di Liga Champions," ujar Tebas, dilansir Marca.
Sejauh ini Barca telah menghasilkan 22,1 juta euro dari babak penyisihan grup Liga Champions dan bertambah 37,5 juta lebih jika mereka mencapai final. Jika menjadi juara, Blaugrana akan mendapatkan 4 juta euro lebih untuk kas dengan tambahan 3,5 juta euro untuk bermain di Piala Super Eropa.
Terlepas dari terhentinya kompetisi, Barca tetap menjalankan aktivitas. Para pemain masih mengikuti jadwal yang diberikan staf pelatih. Kontak masih terjalin konstan antara agen dan klub pemain serta pembaruan kontrak masih dalam proses.
Direktur Sepak Bola Eric Abidal mengungkapkan masih berbicara dengan Pelatih Quique Setien dan Bartomeu secara teratur. Semua itu dilakukan agar seluruh anggota tim selalu siap apabila roda kompetisi kembali berputar.
“Kami menggunakan sumber daya teknologi yang kami miliki untuk menjaga keadaan senormal mungkin. Sepak bola memang telah berhenti. Tapi, akan kembali cepat atau lambat dan klub ingin semua berjalan teratur sehingga para pemain tidak boleh tertinggal. Situasi bisa cepat berubah,” tandas Abidal. (Alimansyah)
Inilah yang mungkin dikenal dengan istilah gelembung ekonomi di sepak bola. Meski memiliki pemasukan besar dari sisi penjualan hak siar, hadiah kompetisi di semua tingkatan, merchandise, penjualan tiket terusan dan harian, serta sponsor, realitasnya mereka tetap kesulitan menyeimbangkan keuangan.
Kabar tentang gelembung ekonomi sepak bola ini dipicu dengan belanja pemain yang gila-gilaan dan transfer yang mencapai angka triliunan. Di luar faktor inflasi setiap tahun, tapi agresivitas di bursa transfer membuat beberapa klub harus mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan pemain yang diinginkan.
Kini, saat kompetisi ditunda, belum genap sebulan, klub mulai merasa limbung. Tudingan gelembung ekonomi sepak bola mulai mendapat pembenar. Ibarat gelembung, sedikit tekanan karena efek persebaran virus korona sudah membuat olahraga paling populer sejagat ini kelimpungan, termasuk tim seperti Barcelona. Petinggi Blaugrana sedang berdiskusi dengan para pemain senior klub mengenai kemungkinan pengurangan gaji para pemain. Dengan kompetisi yang sedang ditangguhkan, Barca mengaku tidak melihat kemampuan menutupi anggaran mereka yang melebihi 1 miliar euro.
Salah satu langkah yang dibahas pada rapat dewan pada Rabu (18/3) adalah membahas kemungkinan pemotongan upah sampai akhir musim. Akhir pekan lalu telah terjadi pembicaraan dengan beberapa pemain senior terkait kemungkinan tersebut.
Reaksi dari para pemain sudah positif. Tapi, saat ini tidak ada kesepakatan yang dapat dicapai tanpa mengetahui berapa lama kompetisi resmi akan ditangguhkan. Hingga saat ini Barca belum mempertimbangkan pemutusan kerja sementara.
Gaji menjadi salah satu beban terbesar Barca. Menurut Global Sports Salary Survey, Barca adalah tim pertama dalam sejarah yang memiliki gaji individu rata-rata lebih dari 11 juta euro per tahun. Gaji pemain tim pertama mendominasi lebih dari 70% dari upah klub.
Barca membayar berbagai tim olahraganya 642 juta euro dan 507 juta euro untuk para pesepak bola. Para pemain bergaji tinggi inilah yang ditargetkan klub untuk dipotong guna menutupi penurunan pendapatan yang tiba-tiba.
Imbas dari berhentinya kompetisi, Barca telah menutup toko resmi mereka, museum klub, akademi di seluruh dunia, dan Camp Nou. Karena itu, klub tidak mendapat uang dari tiket atau kotak VIP. Blaugrana sebenarnya telah menemukan sumber pendapatan penting dari departemen pemasaran karena penjualan kit meningkat secara online, tapi uang itu tidak cukup untuk menambah jumlahnya.
Rencana Barca membuat para pemain dari Barcelona dan dari klub-klub lain secara teratur berhubungan dengan serikat pekerja yang mewakili para pemain Spanyol (AFE) untuk mencoba menyelesaikan sejumlah keraguan mengenai masalah ini.
Pihak klub mengonfirmasi bahwa Presiden Josep Maria Bartomeu memimpin negosiasi dengan anggota ECA (Association of European Clubs) dan UEFA, karena ada kekhawatiran umum mengenai implikasi keuangan akibat Covid-19.
Selain itu, Barca juga mengutus CEO Oscar Grau melakukan pembicaraan dengan La Liga dan klub lain di seluruh Eropa agar dapat mengambil langkah-langkah bersama untuk mengatasi dampak dari Covid-19. Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus Presiden La Liga Javier Tebas.
Dalam beberapa kesempatan, Tebas menegaskan beberapa kali bahwa kompetisi musim ini akan diselesaikan begitu situasinya membaik. Targetnya adalah meredam dampak keuangan yang diderita Barcelona dan klub-klub Spanyol serta Eropa lainnya karena skorsing liga.
Tebas bahkan memberikan dukungan penuh kepada Barca sebagai salah satu tim andalan utama Primera Liga, terutama di Liga Champions. "Sangat penting bagi stabilitas keuangan Barca dan klub-klub Spanyol lainnya. Klub lain yang telah melakukan pekerjaan mereka. Tapi, Barca harus terus berjuang untuk gelar Primera Liga dan terus melaju di Liga Champions," ujar Tebas, dilansir Marca.
Sejauh ini Barca telah menghasilkan 22,1 juta euro dari babak penyisihan grup Liga Champions dan bertambah 37,5 juta lebih jika mereka mencapai final. Jika menjadi juara, Blaugrana akan mendapatkan 4 juta euro lebih untuk kas dengan tambahan 3,5 juta euro untuk bermain di Piala Super Eropa.
Terlepas dari terhentinya kompetisi, Barca tetap menjalankan aktivitas. Para pemain masih mengikuti jadwal yang diberikan staf pelatih. Kontak masih terjalin konstan antara agen dan klub pemain serta pembaruan kontrak masih dalam proses.
Direktur Sepak Bola Eric Abidal mengungkapkan masih berbicara dengan Pelatih Quique Setien dan Bartomeu secara teratur. Semua itu dilakukan agar seluruh anggota tim selalu siap apabila roda kompetisi kembali berputar.
“Kami menggunakan sumber daya teknologi yang kami miliki untuk menjaga keadaan senormal mungkin. Sepak bola memang telah berhenti. Tapi, akan kembali cepat atau lambat dan klub ingin semua berjalan teratur sehingga para pemain tidak boleh tertinggal. Situasi bisa cepat berubah,” tandas Abidal. (Alimansyah)
(ysw)