Lupakan euforia!
Minggu, 25 Desember 2011 - 10:32 WIB
Lupakan euforia!
A
A
A
Sindonews.com - Euforia kini melanda skuad Persib Bandung setelah menuai hasil memuaskan dalam empat laga awal Indonesian Super League (ISL). Namun, manajemen tak ingin euforia tersebut membuat Maman Abdurahman dkk lupa diri.
Manajer Persib Umuh Muchtar mengatakan, terlalu dini menyebut Persib sebagai kandidat juara. Dia tetap meyakini persaingan antartim di ISL akan berjalan cukup ketat. Sebab, klub-klub lain pun pasti terus melakukan pembenahan demi tujuan objektif yang sama di akhir musim, yakni gelar juara.
“Hasil empat pertandingan awal tidak bisa dijadikan patokan. Sebab, kami masih memiliki banyak pertandingan yang tentu saja tantangannya akan semakin berat,” sebut Umuh.
Menurut Umuh yang paling penting dan harus dilakukan tim adalah selalu melakukan koreksi dari pertandingan ke pertandingan. Sebab, dia melihat masih banyak kelemahan mendasar yang perlu diperbaiki, seperti koordinasi permainan antarlini maupun konsentrasi pemain dalam setiap pertandingan. Dia mencontohkan gol-gol yang bersarang ke jala Maung Bandung, semuanya bisa dikatakan akibat lemahnya koordinasi di sektor pertahanan.
Seperti yang terlihat saat Persib kebobolan dua gol oleh Persiram Raja Ampat maupun dua gol yang disarangkan Persidafon Dafonsoro yang akhirnya menggagalkan ambisi Persib menorehkan kemenangan pertama di tanah Papua setelah bermain imbang 2-2. Umuh memang cukup realistis. Sebab, dari empat lawan yang sudah dihadapi Persib, terhitung hanya Sriwijaya FC yang tergolong tim mapan.
Selebihnya hanya berstatus tim medioker seperti Deltras Sidoarjo yang ditahan imbang 0-0 dan dua klub promosi Persiram serta Persidafon. Hasil memuaskan di awal musim memang bukan jaminan gelar juara bakal ada dalam genggaman Maung Bandung. Pengalaman di Liga Indonesia musim 2004 membuktikan hal itu. Kala itu, Persib memulai awal musim 2004 dengan catatan cukup memuaskan, yakni enam kali berlaga tanpa tersentuh kekalahan.
Pada laga ketujuh, Maung Bandung dikandaskan Persipura Jayapura 1-3 dan akhirnya gagal meraih gelar juara setelah mengakhiri kompetisi di peringkat 5 klasemen. Hal senada diungkapkan Hariono. Menurut gelandang pekerja keras ini, koleksi delapan poin dari empat laga tidak membuatnya berpuas diri. Hariono mengakui koordinasi permainan,khususnya saat melakukan transisi permainan dari menyerang ke bertahan dalam empat pertandingan awal, masih perlu dibenahi.
Menurut Hariono, dari empat laga yang sudah dilewati, keseluruhan permainan Persib tidak bisa dikatakan sudah mendekati sempurna. Sebab, masih banyak kesalahan yang tidak perlu dilakukan dan harus segera diperbaiki. Karena itu, bagi Hariono terlalu prematur menaruh harapan berlebih kepada Persib. Sebab, Maung Bandung masih memiliki 30 laga tersisa dan tantangan akan semakin berat.
Dalam pandangan Hariono, selalu belajar dari pertandingan ke pertandingan dan tidak menunjukkan sikap jemawa harus lebih ditonjolkan untuk menjadi lebih baik lagi. “Ke depan, kami harus lebih baik lagi dan memperbaiki setiap kesalahan dalam empat laga sebelumnya,” tandasnya.
Manajer Persib Umuh Muchtar mengatakan, terlalu dini menyebut Persib sebagai kandidat juara. Dia tetap meyakini persaingan antartim di ISL akan berjalan cukup ketat. Sebab, klub-klub lain pun pasti terus melakukan pembenahan demi tujuan objektif yang sama di akhir musim, yakni gelar juara.
“Hasil empat pertandingan awal tidak bisa dijadikan patokan. Sebab, kami masih memiliki banyak pertandingan yang tentu saja tantangannya akan semakin berat,” sebut Umuh.
Menurut Umuh yang paling penting dan harus dilakukan tim adalah selalu melakukan koreksi dari pertandingan ke pertandingan. Sebab, dia melihat masih banyak kelemahan mendasar yang perlu diperbaiki, seperti koordinasi permainan antarlini maupun konsentrasi pemain dalam setiap pertandingan. Dia mencontohkan gol-gol yang bersarang ke jala Maung Bandung, semuanya bisa dikatakan akibat lemahnya koordinasi di sektor pertahanan.
Seperti yang terlihat saat Persib kebobolan dua gol oleh Persiram Raja Ampat maupun dua gol yang disarangkan Persidafon Dafonsoro yang akhirnya menggagalkan ambisi Persib menorehkan kemenangan pertama di tanah Papua setelah bermain imbang 2-2. Umuh memang cukup realistis. Sebab, dari empat lawan yang sudah dihadapi Persib, terhitung hanya Sriwijaya FC yang tergolong tim mapan.
Selebihnya hanya berstatus tim medioker seperti Deltras Sidoarjo yang ditahan imbang 0-0 dan dua klub promosi Persiram serta Persidafon. Hasil memuaskan di awal musim memang bukan jaminan gelar juara bakal ada dalam genggaman Maung Bandung. Pengalaman di Liga Indonesia musim 2004 membuktikan hal itu. Kala itu, Persib memulai awal musim 2004 dengan catatan cukup memuaskan, yakni enam kali berlaga tanpa tersentuh kekalahan.
Pada laga ketujuh, Maung Bandung dikandaskan Persipura Jayapura 1-3 dan akhirnya gagal meraih gelar juara setelah mengakhiri kompetisi di peringkat 5 klasemen. Hal senada diungkapkan Hariono. Menurut gelandang pekerja keras ini, koleksi delapan poin dari empat laga tidak membuatnya berpuas diri. Hariono mengakui koordinasi permainan,khususnya saat melakukan transisi permainan dari menyerang ke bertahan dalam empat pertandingan awal, masih perlu dibenahi.
Menurut Hariono, dari empat laga yang sudah dilewati, keseluruhan permainan Persib tidak bisa dikatakan sudah mendekati sempurna. Sebab, masih banyak kesalahan yang tidak perlu dilakukan dan harus segera diperbaiki. Karena itu, bagi Hariono terlalu prematur menaruh harapan berlebih kepada Persib. Sebab, Maung Bandung masih memiliki 30 laga tersisa dan tantangan akan semakin berat.
Dalam pandangan Hariono, selalu belajar dari pertandingan ke pertandingan dan tidak menunjukkan sikap jemawa harus lebih ditonjolkan untuk menjadi lebih baik lagi. “Ke depan, kami harus lebih baik lagi dan memperbaiki setiap kesalahan dalam empat laga sebelumnya,” tandasnya.
()