Pertaruhan skill pelatih asing di IPL
Minggu, 25 Desember 2011 - 15:30 WIB
Pertaruhan skill pelatih asing di IPL
A
A
A
Sindonews.com - Pentas Indonesian Premier League (IPL) menjadi pertaruhan pelatih asing. Sebagian besar kontestan di kompetisi ini didominasi pelatih asing, walaupun sejauh ini kiprah mereka belum menjadi jaminan klub bakal langsung berkibar di awal musim.
Empat klub asal Jawa Timur, Arema FC, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan Persebaya Surabaya, semuanya memakai pelatih impor. Melihat catatan di awal musim, ada pelatih yang masih harus bekerja keras meyakinkan manajemen klub sekaligus suporter bahwa mereka becus memberikan hasil terbaik. Pelatih yang masih butuh pembuktian itu adalah Arsitek Persema Slave Radovski dan juru taktik Persebaya Divaldo Alves.
Radovski yang sebelumnya “hanya” asisten pelatih Cendrawasih Papua, berada di bawah bayang-bayang pelatih Persema terdahulu, Timo Scheunemann. Sama halnya dengan Divaldo yang tengah mati-matian menyamai catatan Aji Santoso di Liga Primer Indonesia (LPI) lalu. Sejatinya, Divaldo tak mempunyai tren positif di persepakbolaan Indonesia, karena kurang sukses di Persijap Jepara dan Minangkabau FC.
Ketidaksuksesannya sementara masih berlanjut setelah hanya membawa satu kemenangan bagi Persebaya dari tiga laga yang sudah dilakukan. Kekalahan dari Semen Padang di Gelora 10 November membuat namanya diragukan untuk bisa membawa Bledug Ijo berprestasi lebih baik. Belum ada sentuhan memukau pelatih berdarah Portugal tersebut. Skema permainan masih biasa dan strategi yang diusungnya tertutup kualitas pemain Persebaya yang memang bagus.
Tak seperti Aji, Divaldo juga terkesan masih coba-coba dalam menempatkan pemain. Karakter Divaldo sebenarnya hampir sama dengan Radovski. Pelatih asal Makedonia itu juga masih galau dengan formasi yang diterapkannya. Radovski masih mereka-reka formasi seperti apa yang paling cocok dan mudah dicerna timnya. Dua kali kalah dan sekali imbang jelas bukanlah Persema yang berlaga di LPI musim lalu.
Dengan komposisi tim yang hampir tak berubah, Radovski gagal menunjukkan sihirnya di pekan-pekan awal IPL. Salah satu alasan yang memaklumi kondisi itu adalah semua laga dilakukan di luar kandang. Manajemen Persema terlihat tak memberikan tekanan berlebih karena tim belum memainkan laga kandang. Hasil imbang 1-1 di Jepara malah dianggap sebagai titik balik setelah sebelumnya terjerembab di kandang Semen Padang dan Persija Jakarta.
“Tidak ada tekanan apa-apa. Tim baru bertanding tiga kali sehingga terlalu dini kalau kami membuat evaluasi kinerja pelatih. Kalaupun ada evaluasi, hanya evaluasi tim agar mendapat hasil lebih baik di pertandingan berikutnya,” cetus CEO Persema Didied Poernawan. Sementara pelatih yang cukup meyakinkan adalah milik Arema FC dan Persibo Bojonegoro. Pelatih Arema FC Milomir Seslija telah melalui pekan-pekan berat awal musim ketika timnya menjamu PSMS Medan dan Persibo.
Disebut berat karena persiapan tim ini sangat kacau. Setelah gagal bertanding di Papua, Singo Edan tidak lagi melakukan uji coba dan wajar jika di laga perdana fisik pemain hancur. Secara taktik, dia lumayan bagus. Paling tidak, dia mampu melakukan eksperimen dengan mengubah posisi beberapa pemain. Gaya yang dibawa Milomir juga nyentrik dan mengingatkan kepada Robert Albert. Pelatih ini selalu ingin berkomunikasi dengan suporter Aremania dengan gayanya sendiri.
Tantangan Milomir satu-satunya adalah kelanggengan kariernya di Stadion Gajayana. Prahara yang menerpa klub bisa jadi membuatnya pensiun dini di Gajayana. Klub yang tengah optimistis dengan pelatih barunya adalah Persibo yang memakai jasa Paulo Camargo. Melihat kekuatan yang dipunyai Laskar Angling Dharma, empat angka dari tiga laga masih cukup nyaman. Apalagi dua laga dilakukan di luar kota.
Kekalahan 0-2 dari Arema FC, misalnya. Paling tidak, Camargo bisa memperkecil rekor kekalahan di Malang. Dibandingkan musim lalu yang menghadirkan kekalahan dengan skor 1-4, kekalahan dua gol bisa dikatakan sebuah perkembangan mengingat perbedaan kualitas pemain sangat jauh.
Manajemen Persibo berharap minimnya pengalaman yang dimiliki pemain bisa tertutup pengalaman sang pelatih. Satu sisi yang disukai manajemen, Camargo tidak pernah rewel meminta pemain berkualitas dan lebih memilih mengoptimalkan kekuatan yang ada.
Empat klub asal Jawa Timur, Arema FC, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan Persebaya Surabaya, semuanya memakai pelatih impor. Melihat catatan di awal musim, ada pelatih yang masih harus bekerja keras meyakinkan manajemen klub sekaligus suporter bahwa mereka becus memberikan hasil terbaik. Pelatih yang masih butuh pembuktian itu adalah Arsitek Persema Slave Radovski dan juru taktik Persebaya Divaldo Alves.
Radovski yang sebelumnya “hanya” asisten pelatih Cendrawasih Papua, berada di bawah bayang-bayang pelatih Persema terdahulu, Timo Scheunemann. Sama halnya dengan Divaldo yang tengah mati-matian menyamai catatan Aji Santoso di Liga Primer Indonesia (LPI) lalu. Sejatinya, Divaldo tak mempunyai tren positif di persepakbolaan Indonesia, karena kurang sukses di Persijap Jepara dan Minangkabau FC.
Ketidaksuksesannya sementara masih berlanjut setelah hanya membawa satu kemenangan bagi Persebaya dari tiga laga yang sudah dilakukan. Kekalahan dari Semen Padang di Gelora 10 November membuat namanya diragukan untuk bisa membawa Bledug Ijo berprestasi lebih baik. Belum ada sentuhan memukau pelatih berdarah Portugal tersebut. Skema permainan masih biasa dan strategi yang diusungnya tertutup kualitas pemain Persebaya yang memang bagus.
Tak seperti Aji, Divaldo juga terkesan masih coba-coba dalam menempatkan pemain. Karakter Divaldo sebenarnya hampir sama dengan Radovski. Pelatih asal Makedonia itu juga masih galau dengan formasi yang diterapkannya. Radovski masih mereka-reka formasi seperti apa yang paling cocok dan mudah dicerna timnya. Dua kali kalah dan sekali imbang jelas bukanlah Persema yang berlaga di LPI musim lalu.
Dengan komposisi tim yang hampir tak berubah, Radovski gagal menunjukkan sihirnya di pekan-pekan awal IPL. Salah satu alasan yang memaklumi kondisi itu adalah semua laga dilakukan di luar kandang. Manajemen Persema terlihat tak memberikan tekanan berlebih karena tim belum memainkan laga kandang. Hasil imbang 1-1 di Jepara malah dianggap sebagai titik balik setelah sebelumnya terjerembab di kandang Semen Padang dan Persija Jakarta.
“Tidak ada tekanan apa-apa. Tim baru bertanding tiga kali sehingga terlalu dini kalau kami membuat evaluasi kinerja pelatih. Kalaupun ada evaluasi, hanya evaluasi tim agar mendapat hasil lebih baik di pertandingan berikutnya,” cetus CEO Persema Didied Poernawan. Sementara pelatih yang cukup meyakinkan adalah milik Arema FC dan Persibo Bojonegoro. Pelatih Arema FC Milomir Seslija telah melalui pekan-pekan berat awal musim ketika timnya menjamu PSMS Medan dan Persibo.
Disebut berat karena persiapan tim ini sangat kacau. Setelah gagal bertanding di Papua, Singo Edan tidak lagi melakukan uji coba dan wajar jika di laga perdana fisik pemain hancur. Secara taktik, dia lumayan bagus. Paling tidak, dia mampu melakukan eksperimen dengan mengubah posisi beberapa pemain. Gaya yang dibawa Milomir juga nyentrik dan mengingatkan kepada Robert Albert. Pelatih ini selalu ingin berkomunikasi dengan suporter Aremania dengan gayanya sendiri.
Tantangan Milomir satu-satunya adalah kelanggengan kariernya di Stadion Gajayana. Prahara yang menerpa klub bisa jadi membuatnya pensiun dini di Gajayana. Klub yang tengah optimistis dengan pelatih barunya adalah Persibo yang memakai jasa Paulo Camargo. Melihat kekuatan yang dipunyai Laskar Angling Dharma, empat angka dari tiga laga masih cukup nyaman. Apalagi dua laga dilakukan di luar kota.
Kekalahan 0-2 dari Arema FC, misalnya. Paling tidak, Camargo bisa memperkecil rekor kekalahan di Malang. Dibandingkan musim lalu yang menghadirkan kekalahan dengan skor 1-4, kekalahan dua gol bisa dikatakan sebuah perkembangan mengingat perbedaan kualitas pemain sangat jauh.
Manajemen Persibo berharap minimnya pengalaman yang dimiliki pemain bisa tertutup pengalaman sang pelatih. Satu sisi yang disukai manajemen, Camargo tidak pernah rewel meminta pemain berkualitas dan lebih memilih mengoptimalkan kekuatan yang ada.
()