Panas di Gajayana, Laga Arema Batal
Sabtu, 11 Februari 2012 - 18:01 WIB
Panas di Gajayana, Laga Arema Batal
A
A
A
Sindonews.com - Pertandingan Arema FC kontra Bontang FC di Stadion Gajayana, Malang, akhirnya batal digelar. Itu karena terpecahnya tim Arema menjadi dua bagian, yakni pihak PT Ancora dan kubu Muhammad Nur-Peni Suparto.
Beberapa jam sebelum laga, Peni mengumpulkan sebagian pemain atau 12 orang di Hotel Regents, Malang. Di Regents sendiri tampak hadir kubu PSSI yang diwakili Bernhard Limbong. Sedangkan sebagian pemain tetap setia ke manajemen Ancora yang berkantor di Jalan Jakarta 48 Malang.
Ini menjadikan situasi tegang di stadion. Ratusan petugas keamanan berjaga-jaga untuk mengantisipasi pergesekan yang terjadi antara dua tim yang terpecah. Tim milik Ancora yang dilatih Antonic Dejan dan berkekuatan 18 pemain terlihat memasuki stadion sekitar pukul 14.00 WIB.
Sedangkan tim milik Peni Suparto yang dilatih Milomir Seslija kesulitan masuk ke stadion sekira pukul 15.00 WIB. Petugas keamanan dari polisi maupun TNI membendung tim yang memakai bus warna kuning di depan stadion dan bahkan perwakilan tim pun dilarang masuk.
Setelah tertahan, akhirnya pemain dan ofisial memaksa masuk sekitar pukul 15.25 WIB. Situasi berubah panas dan terjadi aksi saling dorong di pintu masuk. Pemain kemudian kembali ke bus setelah tidak berhasil menerobos keamanan.
Peni yang sempat bertemu wartawan di dalam stadion mengungkapkan dirinya mengambil langkah mengumpulkan pemain untuk menyelamatkan Arema. Menyebut dirinya 'pelaksana' di Yayasan Arema, Peni mengaku tidak tahu menahu soal keabsahan manajemen.
"Saya hanya ingin Arema lebih baik. Dan itu bisa dicapai dengan kondisi manajemen yang baik. Komdis akan memutuskan pertandingan berlangsung jika tim bisa masuk," ujar Peni. Ia juga mengatakan tidak ada pihak yang berhak mengambil keputusan tim mana yang akan bertanding, kecuali PSSI yang memutuskan. Sementara PSSI yang diwakili Bernard Limbong masih tertahan di luar stadion.
Anehnya, ketika dikonfirmasi ke Limbong, dia malah menyerahkan ke pihak klub soal tim mana yang akan bertanding. "Adanya beda pendapat itu wajar. Soal siapa yang bertanding, itu tergantung kesepakatan antara kedua kubu," ucap Limbong.
Situasi karut marut membawa konsekuensi pada kondisi di stadion yang sempat berencana digelar tanpa penonton sesuai instruksi Kapolresta Malang AKBP Teddy Minahasa. Ribuan Aremania yang terlanjur datang ke stadion sejak siang hari kecewa dan kembali pulang.
Namun, setelah tidak ada titik temu antara dua panpel, akhirnya pihak keamanan memutuskan pertandingan tidak digelar. Wakapolresta Malang Kompol Irfan Susanto mengatakan kondisi sangat berisiko jika pertandingan dipaksakan.
"Solusi terbaik adalah dibatalkan atau ditunda, karena situasi tak menentu. Kami tidak akan mengakomodasi jika ada dua panpel dalam satu pertandingan. Selain itu situasinya sangat rawan karena tentunya ada yang kecewa kalau nanti kami mengkomodir keinginan salah satu pihak saja," ujar Kompol Irfan.
Tak adanya penonton di stadion sempat membuat puluhan pedagang yang biasa mengais rezeki di Gajayana marah. Puluhan pedagang asongan langsung menuju rumah Walikota Peni Suparto dan menumpahkan barang dagangannya di sana.
Dikosongkannya stadion juga dipicu tiket yang dobel karena dualisme panitia pelaksana (panpel) pertandingan, sehingga tiket dari kedua pihak tidak diporporasi alias disahkan Dispenda Kota Malang.
Beberapa jam sebelum laga, Peni mengumpulkan sebagian pemain atau 12 orang di Hotel Regents, Malang. Di Regents sendiri tampak hadir kubu PSSI yang diwakili Bernhard Limbong. Sedangkan sebagian pemain tetap setia ke manajemen Ancora yang berkantor di Jalan Jakarta 48 Malang.
Ini menjadikan situasi tegang di stadion. Ratusan petugas keamanan berjaga-jaga untuk mengantisipasi pergesekan yang terjadi antara dua tim yang terpecah. Tim milik Ancora yang dilatih Antonic Dejan dan berkekuatan 18 pemain terlihat memasuki stadion sekitar pukul 14.00 WIB.
Sedangkan tim milik Peni Suparto yang dilatih Milomir Seslija kesulitan masuk ke stadion sekira pukul 15.00 WIB. Petugas keamanan dari polisi maupun TNI membendung tim yang memakai bus warna kuning di depan stadion dan bahkan perwakilan tim pun dilarang masuk.
Setelah tertahan, akhirnya pemain dan ofisial memaksa masuk sekitar pukul 15.25 WIB. Situasi berubah panas dan terjadi aksi saling dorong di pintu masuk. Pemain kemudian kembali ke bus setelah tidak berhasil menerobos keamanan.
Peni yang sempat bertemu wartawan di dalam stadion mengungkapkan dirinya mengambil langkah mengumpulkan pemain untuk menyelamatkan Arema. Menyebut dirinya 'pelaksana' di Yayasan Arema, Peni mengaku tidak tahu menahu soal keabsahan manajemen.
"Saya hanya ingin Arema lebih baik. Dan itu bisa dicapai dengan kondisi manajemen yang baik. Komdis akan memutuskan pertandingan berlangsung jika tim bisa masuk," ujar Peni. Ia juga mengatakan tidak ada pihak yang berhak mengambil keputusan tim mana yang akan bertanding, kecuali PSSI yang memutuskan. Sementara PSSI yang diwakili Bernard Limbong masih tertahan di luar stadion.
Anehnya, ketika dikonfirmasi ke Limbong, dia malah menyerahkan ke pihak klub soal tim mana yang akan bertanding. "Adanya beda pendapat itu wajar. Soal siapa yang bertanding, itu tergantung kesepakatan antara kedua kubu," ucap Limbong.
Situasi karut marut membawa konsekuensi pada kondisi di stadion yang sempat berencana digelar tanpa penonton sesuai instruksi Kapolresta Malang AKBP Teddy Minahasa. Ribuan Aremania yang terlanjur datang ke stadion sejak siang hari kecewa dan kembali pulang.
Namun, setelah tidak ada titik temu antara dua panpel, akhirnya pihak keamanan memutuskan pertandingan tidak digelar. Wakapolresta Malang Kompol Irfan Susanto mengatakan kondisi sangat berisiko jika pertandingan dipaksakan.
"Solusi terbaik adalah dibatalkan atau ditunda, karena situasi tak menentu. Kami tidak akan mengakomodasi jika ada dua panpel dalam satu pertandingan. Selain itu situasinya sangat rawan karena tentunya ada yang kecewa kalau nanti kami mengkomodir keinginan salah satu pihak saja," ujar Kompol Irfan.
Tak adanya penonton di stadion sempat membuat puluhan pedagang yang biasa mengais rezeki di Gajayana marah. Puluhan pedagang asongan langsung menuju rumah Walikota Peni Suparto dan menumpahkan barang dagangannya di sana.
Dikosongkannya stadion juga dipicu tiket yang dobel karena dualisme panitia pelaksana (panpel) pertandingan, sehingga tiket dari kedua pihak tidak diporporasi alias disahkan Dispenda Kota Malang.
()