Rossoneri bertarung hingga detik terakhir
Selasa, 03 April 2012 - 08:17 WIB
Rossoneri bertarung hingga detik terakhir
A
A
A
Sindonews.com - AC Milan memiliki peluang tipis menyingkirkan Barcelona untuk merebut tiket semifinal Liga Champions musim ini. Namun, dengan bermodalkan pengalaman ditambah kenangan periode 1993/1994, I Rossoneri optimistis akan bertahan.
Milan akan melakoni leg kedua babak perempat final dengan beban cukup berat. Selain tampil di Nou Camp, kandang Barcelona, wakil Italia itu harus menang atau setidaknya meraih hasil imbang dengan gol agar lolos ke fase selanjutnya.
Syarat itu muncul lantaran gagal memaksimalkan leg pertama di San Siro setelah bermain tanpa gol. Sekalipun pertandingan berakhir imbang asalkan mampu menaklukkan kiper Barcelona Victor Valdes, Milan dipastikan lolos lantaran unggul gol tandang.
Tentunya bukan tugas mudah. Pasalnya, sangat sulit meredam Barcelona saat tampil di depan publik mereka. Faktanya, banyak yang memprediksi El Azugrana bakal berjaya. Tim tamu memaklumi prediksi tersebut.
Sampai-sampai Pelatih Milan Massimiliano Allegri menganggap pasukannya sebagai underdog. Namun, bukan berarti Milan telah mengibarkan bendera putih. ''Masih ada 90 menit yang harus dijalani. Kami pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu,” ungkap bomber Milan Zlatan Ibrahimovic,dikutip Reuters.
Milan merasa peluang lolos tetap terbuka lantaran sudah berulang kali mengalami situasi ini. Juara Seri A itu akan memanfaatkan pengalaman di Liga Champions untuk melewati kesulitan ini.
Milan masih tercatat sebagai salah satu tim tersukses di Liga Champions dengan mengemas tujuh gelar. Il Diavolo juga sudah 13 kali masuk semifinal selama keikutsertaannya di kompetisi Benua Biru. Yang menarik, mereka beberapa kali lolos dengan situasi seperti sekarang.
Saat terakhir kali masuk final pada musim 2006/2007, misalnya.Saat itu, Milan sempat terdesak lantaran bermain imbang 2-2 kontra Bayern Munchen pada leg pertama babak perempat final di San Siro. Namun, saat berkunjung ke Jerman, mereka mampu memetik kemenangan 2-0.
Sukses itu berlanjut ke babak berikutnya sampai berujung gelar juara setelah menundukkan Liverpool 2-1 di final. Periode 2006/2007 juga bisa dijadikan acuan. Pada leg pertama babak perempat final di Stade de Gerland kontra Olympique Lyon, Milan hanya bermain imbang 0-0.
Namun, pada duel berikutnya mereka unggul 3-1. Pengalaman pada perempat final edisi 2002/2003 kontra Ajax Amsterdam juga bisa jadi andalan. Ketika berkunjung ke Amsterdam Arena, Milan pulang dengan hasil 0-0. Akan tetapi, ketika tampil di San Siro, mereka berjaya 3-2.Ini membuktikan kalau Allegri beserta jajarannya punya cukup pengalaman untuk mengatasi situasi ini.
Bila itu belum cukup, Milan masih punya catatan bagus saat menghadapi Barcelona. Walau tidak pernah unggul lagi selama enam pertemuan terbaru, mereka sempat memetik kemenangan fantastis atas El Azulgrana. Itu terjadi ketika final Liga Champions 1993/1994 di Olympic Stadium, Athena, Yunani.
Milan mampir ke partai puncak seusai melumat AS Monaco 3-0. Sementara Barcelona menyingkirkan FC Porto dengan skor yang sama. Tanpa diduga, Milan keluar sebagai juara dengan keunggulan 4-0 lewat Daniel Massaro (22, 45+2),Dejan Savicevic (47),dan Marcel Desailly (58).
Pertandingan itu memang tidak bisa dijadikan acuan lantaran bertanding di tempat netral. Namun, setidaknya itu menunjukkan kalau Milan mampu menjebol gawang Barcelona berulang kali tanpa balas.
Nyatanya, Milan juga pernah melumat klub Katalan itu 2-0 saat bertandang ke Camp Nou saat penyisihan grup edisi 2000/2001. ''Kami punya banyak kesempatan saat menghadapi Barcelona. Hasil pada leg pertama membuktikan kalau kekuatan kami tidak jauh berbeda. Artinya,kami punya kemampuan mengalahkan mereka,”ujar gelandang Milan Alberto Aquilani.
Milan akan melakoni leg kedua babak perempat final dengan beban cukup berat. Selain tampil di Nou Camp, kandang Barcelona, wakil Italia itu harus menang atau setidaknya meraih hasil imbang dengan gol agar lolos ke fase selanjutnya.
Syarat itu muncul lantaran gagal memaksimalkan leg pertama di San Siro setelah bermain tanpa gol. Sekalipun pertandingan berakhir imbang asalkan mampu menaklukkan kiper Barcelona Victor Valdes, Milan dipastikan lolos lantaran unggul gol tandang.
Tentunya bukan tugas mudah. Pasalnya, sangat sulit meredam Barcelona saat tampil di depan publik mereka. Faktanya, banyak yang memprediksi El Azugrana bakal berjaya. Tim tamu memaklumi prediksi tersebut.
Sampai-sampai Pelatih Milan Massimiliano Allegri menganggap pasukannya sebagai underdog. Namun, bukan berarti Milan telah mengibarkan bendera putih. ''Masih ada 90 menit yang harus dijalani. Kami pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu,” ungkap bomber Milan Zlatan Ibrahimovic,dikutip Reuters.
Milan merasa peluang lolos tetap terbuka lantaran sudah berulang kali mengalami situasi ini. Juara Seri A itu akan memanfaatkan pengalaman di Liga Champions untuk melewati kesulitan ini.
Milan masih tercatat sebagai salah satu tim tersukses di Liga Champions dengan mengemas tujuh gelar. Il Diavolo juga sudah 13 kali masuk semifinal selama keikutsertaannya di kompetisi Benua Biru. Yang menarik, mereka beberapa kali lolos dengan situasi seperti sekarang.
Saat terakhir kali masuk final pada musim 2006/2007, misalnya.Saat itu, Milan sempat terdesak lantaran bermain imbang 2-2 kontra Bayern Munchen pada leg pertama babak perempat final di San Siro. Namun, saat berkunjung ke Jerman, mereka mampu memetik kemenangan 2-0.
Sukses itu berlanjut ke babak berikutnya sampai berujung gelar juara setelah menundukkan Liverpool 2-1 di final. Periode 2006/2007 juga bisa dijadikan acuan. Pada leg pertama babak perempat final di Stade de Gerland kontra Olympique Lyon, Milan hanya bermain imbang 0-0.
Namun, pada duel berikutnya mereka unggul 3-1. Pengalaman pada perempat final edisi 2002/2003 kontra Ajax Amsterdam juga bisa jadi andalan. Ketika berkunjung ke Amsterdam Arena, Milan pulang dengan hasil 0-0. Akan tetapi, ketika tampil di San Siro, mereka berjaya 3-2.Ini membuktikan kalau Allegri beserta jajarannya punya cukup pengalaman untuk mengatasi situasi ini.
Bila itu belum cukup, Milan masih punya catatan bagus saat menghadapi Barcelona. Walau tidak pernah unggul lagi selama enam pertemuan terbaru, mereka sempat memetik kemenangan fantastis atas El Azulgrana. Itu terjadi ketika final Liga Champions 1993/1994 di Olympic Stadium, Athena, Yunani.
Milan mampir ke partai puncak seusai melumat AS Monaco 3-0. Sementara Barcelona menyingkirkan FC Porto dengan skor yang sama. Tanpa diduga, Milan keluar sebagai juara dengan keunggulan 4-0 lewat Daniel Massaro (22, 45+2),Dejan Savicevic (47),dan Marcel Desailly (58).
Pertandingan itu memang tidak bisa dijadikan acuan lantaran bertanding di tempat netral. Namun, setidaknya itu menunjukkan kalau Milan mampu menjebol gawang Barcelona berulang kali tanpa balas.
Nyatanya, Milan juga pernah melumat klub Katalan itu 2-0 saat bertandang ke Camp Nou saat penyisihan grup edisi 2000/2001. ''Kami punya banyak kesempatan saat menghadapi Barcelona. Hasil pada leg pertama membuktikan kalau kekuatan kami tidak jauh berbeda. Artinya,kami punya kemampuan mengalahkan mereka,”ujar gelandang Milan Alberto Aquilani.
()