Awal dominasi La Furia Roja

Senin, 04 Juni 2012 - 10:48 WIB
Awal dominasi La Furia...
Awal dominasi La Furia Roja
A A A
Sindonews.com – Angka 13 tidak selalu membawa sial. Pada turnamen ke-13 sepanjang sejarah, Spanyol sukses menuntaskan dahaga gelar hampir setengah abad setelah menjuarai Piala Eropa di Austria-Swiss.

Pasukan Luis Aragones bahkan mengakhiri penantian prestasi melalui penampilan istimewa. Mengusung filosofi tiqui-taca, performa Spanyol di turnamen ini mengawali kekaguman dunia terhadap permainan indah dan menyerang mereka.

Spanyol menjadi acuan bagi tim lain dalam bermain. Sementara mereka yang tidak memiliki kemampuan mulai menyusun strategi demi menghentikan La Furia Roja julukan timnas Spanyol. Tiqui-taca disebut sebagai penyempurnaan totaalvoetbal. Sistem ini menekankan umpan pendek dan pergerakan. Pemain dituntut mencari ruang agar bola dapat mengalir melalui berbagai saluran. Dengan begitu, lawan akan kesulitan meredam sekaligus mengganggu penguasaan bola. Lewat taktik ini, Spanyol tidak kesulitan menumpas seluruh tim yang menghadang mereka.

Rusia merupakan korban pertama keganasan permainan Xavi Hernandez dkk. Hattrick David Villa dan aksi Cesc Fabregas tidak bisa dibendung anak buah Guus Hiddink, yang cuma bisa mencetak gol hiburan melalui Roman Pavlyuchenko. Kemenangan kembali dipetik Spanyol di partai kedua.

Mereka mesti menunggu gol injury time Villa untuk mengantongi tiga angka dari Swedia. Meski begitu, tiqui-taca berkali-kali merepotkan pertahanan lawan, termasuk saat Spanyol menurunkan tim lapis kedua di laga pamungkas versus Yunani. Setelah merebut tiket perempat final, Aragones mengistirahatkan hampir seluruh pemain inti. Hanya Andres Iniesta yang diturunkan.

Namun, tiqui-taca tetap membawa Spanyol berjaya 2-1. Pada fase gugur, permainan pendek dan cepat Spanyol tidak terhentikan. Mereka memang tidak dapat menembus catennacio Italia di 8 besar. Namun, Spanyol tetap unggul 4-2 melalui adu penalti. Di semifinal, Spanyol lagilagi menghantam Rusia. Kali ini gol Xavi, Dani Guiza, dan David Silva meloloskan mereka ke partai puncak. Di final, kontribusi Fernando Torres memastikan La Furia Roja mengakhiri penantian.

”Ketika sebuah tim mengusung permainan menyerang dan kemudian meraih trofi, bukan hanya mereka yang menang. Sepak bola juga turut terangkat. Saya ikut berbahagia dengan prestasi Spanyol. Secara tim dan performa tidak ada yang menandingi mereka,” tutur Arsitek Manchester United Sir Alex Ferguson, dilansir BBC. Selepas pencapaian di Austria- Swiss, Spanyol gagal melanjutkan kesuksesan di Piala Konfederasi 2009.

Namun, mereka mampu meraih penghargaan yang lebih signifikan setahun berselang. Spanyol membawa pulang mahkota Piala Dunia di Afrika Selatan 2010. (wbs)
()
Berita Terkini
Justin Hubner Bisa Absen...
Justin Hubner Bisa Absen Perkuat Timnas Indonesia Lawan Mozambik
6 jam yang lalu
Shin Tae-yong Bawa Gerbong...
Shin Tae-yong Bawa Gerbong Lama Tim Pelatih Timnas Indonesia ke Persija
11 jam yang lalu
Shin Tae-yong Resmi...
Shin Tae-yong Resmi Jadi Pelatih Persija Jakarta
13 jam yang lalu
Insiden Penembakan Dekat...
Insiden Penembakan Dekat Markas Timnas Inggris Bayangi Piala Dunia 2026
14 jam yang lalu
Team RSTelkomsel 5G...
Team RSTelkomsel 5G Juarai Grup R pada Putaran 2 Kejurnas Sprint Rally 2026
14 jam yang lalu
Jonatan Christie Rehat...
Jonatan Christie Rehat dari Bulu Tangkis usai Gagal Juara Indonesia Open 2026
16 jam yang lalu
Infografis
Rentetan Kasus Korupsi...
Rentetan Kasus Korupsi di Jateng: Tiga Bupati Terjaring KPK pada Awal 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved