Dualisme PSSI buat pemain frustasi
Selasa, 24 Juli 2012 - 10:16 WIB
Dualisme PSSI buat pemain frustasi
A
A
A
Sindonews.com - Dualisme Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai otoritas tertinggi sepak bola Indonesia yang tak kunjung selesai. Hal ini membuat sejumlah pemain lokal atau asing merasa frustasi bahkan dibuat semakin bingung menentukan pilihan.
Akibat kisruh yang terus berkepanjangan ini pula terdapat dua kompetisi yang sama-sama mengklaim sebagai yang sah. Kondisi inilah yang kini membuat beberapa pemain, khususnya yang musim lalu memperkuat tim juara Indonesian Super League (ISL) Sriwijaya FC (SFC), merasa kebingungan dalam menentukan pilihan. Hal ini lantaran mereka sudah bosan terus merasa menjadi alat kepentingan bagi elite sepak bola yang mengatasnamakan bangsa dan negara.
Situasi ini telah berdampak pada kebingungan dalam memilih klub mana yang dinilai layak dibela dan memenuhi segala unsur peraturan yang ada. Pasalnya, penentuan klub mana bukan hanya semata-mata diukur oleh berapa besaran gaji, melainkan juga diharapkan dapat menjadi jaminan mengantar mereka ke timnas Indonesia. Saking frustrasi dengan kondisi ini, beberapa pemain bahkan mempertimbangkan untuk berhenti jadi pesepak bola, dan beralih ke profesi lain.
“Lihat nantilah, kalau PSSI terus berselisih seperti ini mungkin saja saya akan berhenti menjadi persepak bola dan menggeluti bidang lain. Padahal, saya sangat ingin bisa tetap di SFC karena di tim ini saya bisa mengembangkan karier,” ujar pemain SFC yang enggan disebutkan namanya.
“Akibat dualisme ini, kesempatan bermain di timnas pun mengambang, begitu juga dengan kesempatan bermain di kompetisi level Asia. Padahal, tim kami juara dan berhak untuk itu,” ujar pemain lain.
Hal berbeda diperlihatkan Supardi Nasir, pemain SFC lain.B ek sayap itu mengaku tidak terlalu memedulikan dualisme yang terjadi dalam tubuh PSSI dan tetap memprioritaskan SFC untuk musim kompetisi 2012/2013. Menurut Supardi, keputusan ini diambil bukan karena tidak ada pilihan lain.
Sebagai pemain jebolan akademi sepak bola Palembang, dia ingin terus berkarier bersama SFC, meski ada beberapa klub yang telah mengontaknya. Soal masalah dualisme PSSI, dia mengaku tidak terlalu memikirkannya.
“Saat ini, saya masih liburan dan fokus kepada keluarga. Kami tidak tahu kapan kompetisi dimulai, makanya dengan situasi ini, saya bisa lebih lama berkumpul bareng keluarga. Namun, saya katakan tetap mengutamakan SFC,kecuali jika manajemen tidak lagi menginginkan saya. SFC tim juara dan bisa memberikan apa yang diinginkan pemain,” tutur Supardi.
Akibat kisruh yang terus berkepanjangan ini pula terdapat dua kompetisi yang sama-sama mengklaim sebagai yang sah. Kondisi inilah yang kini membuat beberapa pemain, khususnya yang musim lalu memperkuat tim juara Indonesian Super League (ISL) Sriwijaya FC (SFC), merasa kebingungan dalam menentukan pilihan. Hal ini lantaran mereka sudah bosan terus merasa menjadi alat kepentingan bagi elite sepak bola yang mengatasnamakan bangsa dan negara.
Situasi ini telah berdampak pada kebingungan dalam memilih klub mana yang dinilai layak dibela dan memenuhi segala unsur peraturan yang ada. Pasalnya, penentuan klub mana bukan hanya semata-mata diukur oleh berapa besaran gaji, melainkan juga diharapkan dapat menjadi jaminan mengantar mereka ke timnas Indonesia. Saking frustrasi dengan kondisi ini, beberapa pemain bahkan mempertimbangkan untuk berhenti jadi pesepak bola, dan beralih ke profesi lain.
“Lihat nantilah, kalau PSSI terus berselisih seperti ini mungkin saja saya akan berhenti menjadi persepak bola dan menggeluti bidang lain. Padahal, saya sangat ingin bisa tetap di SFC karena di tim ini saya bisa mengembangkan karier,” ujar pemain SFC yang enggan disebutkan namanya.
“Akibat dualisme ini, kesempatan bermain di timnas pun mengambang, begitu juga dengan kesempatan bermain di kompetisi level Asia. Padahal, tim kami juara dan berhak untuk itu,” ujar pemain lain.
Hal berbeda diperlihatkan Supardi Nasir, pemain SFC lain.B ek sayap itu mengaku tidak terlalu memedulikan dualisme yang terjadi dalam tubuh PSSI dan tetap memprioritaskan SFC untuk musim kompetisi 2012/2013. Menurut Supardi, keputusan ini diambil bukan karena tidak ada pilihan lain.
Sebagai pemain jebolan akademi sepak bola Palembang, dia ingin terus berkarier bersama SFC, meski ada beberapa klub yang telah mengontaknya. Soal masalah dualisme PSSI, dia mengaku tidak terlalu memikirkannya.
“Saat ini, saya masih liburan dan fokus kepada keluarga. Kami tidak tahu kapan kompetisi dimulai, makanya dengan situasi ini, saya bisa lebih lama berkumpul bareng keluarga. Namun, saya katakan tetap mengutamakan SFC,kecuali jika manajemen tidak lagi menginginkan saya. SFC tim juara dan bisa memberikan apa yang diinginkan pemain,” tutur Supardi.
(akr)