Macan Putih angkat tangan

Selasa, 28 Agustus 2012 - 16:14 WIB
Macan Putih angkat tangan
Macan Putih angkat tangan
A A A
Sindonews.com - Persik Kediri menatap kompetisi Divisi Utama musim depan dengan sangat pesimistis. Persoalan dana menjadi persoalan serius yang membuat manajemen klub kebanggaan Kota Tahu tidak tahu bagaimana melakukan pengelolaan secara memadai.

Tidak mempunyai modal untuk musim depan, Persik juga masih mempunyai tanggungan gaji pemain musim sebelumnya. Tanpa sponsor yang memberikan dana segar, klub berjuluk Macan Putih sudah menyatakan angkat tangan.

Pengalaman musim lalu membuat Persik tidak yakin bisa mengikuti kompetisi profesional walau berada di level kedua. Konsorsium hanya mengucurkan dana sekira Rp1 miliar di awal musim, setelah itu macet dan semua ditanggung manajemen.

“Idealnya di kompetisi Divisi Utama paling tidak ada dana Rp5-6 miliar. Itu pun sudah sangat minim dan ngirit. Namun musim lalu dana dari konsorsium tidak memadai, sehingga manajemen harus menalangi dan sampai sekarang belum digaji,” ucap Barnadi, Ketua Panpel Persik Kediri.

Manajer Persik Kediri Sunardi menjadi ‘korban’ macetnya dana dari konsorsium. Diperkirakan dia telah mengeluarkan milyaran rupiah untuk menanggung operasional klub selama kondorsium tidak mencairkan dana untuk Persik.

Malah informasi yang beredar menyebutkan Sunardi sudah kapok dan tidak tertarik untuk menjadi manajer musim depan. Bos bibit pertanian itu tidak hanya menalangi pembiayaan klub, tapi juga menjadi sasaran saat gaji pemain terlambat dibayar.

“Sampai sekarang belum ada keputusan apakah konsorsium akan menyiapkan dana cukup untuk musim depan. Kalau seperti musim kemarin, kayaknya Persik lebih pantas bertanding di kompetisi amatir. Persik tak bisa apa-apa dengan sistem seperti itu,” lanjut Barnadi.

Setelah awal musim lalu mewrger dengan Minangkabau FC, saham Persik dikuasai Konsorsium LPI dan terjalin kontrak selama tiga musim ke depan. Jika konsorsium tidak bisa membiayai klub, maka kontrak tersebut menurut Barnadi bisa berakhir lebih cepat.

Sedangkan jika terlepas dari cengkeraman konsorsium juga tidak lantas memunculkan solusi. Sebab Persik dalam beberapa musim terakhir terbukti tidak mampu mencari sponsor besar yang bersedia menopang pendadaan di kompetisi.

Setelah dilarangnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk klub profesional, Persik tak mempunyai sumber dana pasti. “Ya solusinya ke liga amatir atau turun level. Karena masih tetap mendapatkan bantuan dari pemerintah,” tandas Barnadi.

Terdengar kejam, namun begitulah nasib Persik. Tentunya berlaga di kompetisi amatir juga menjadi aib besar bagi mantan juara kompetisi pada 2003 dan 2006 tersebut. Apalagi Persik selalu gagal kembali ke kompetisi tertinggi setelah tiga musim mendekam di Divisi Utama.
(wbs)
Berita Terkini
Lamine Yamal Ungkap...
Lamine Yamal Ungkap Pesan Messi saat Berpelukan di Final Piala Dunia 2026
1 jam yang lalu
FIFA Bikin Kejutan!...
FIFA Bikin Kejutan! Leandro Paredes Tak Jadi Dikartu Merah di Final Piala Dunia 2026
12 jam yang lalu
Timnas Argentina Pulang...
Timnas Argentina Pulang Tanpa Trofi Disambut Bak Juara, Bagaimana Masa Depan Lionel Messi?
12 jam yang lalu
ASEAN Hyundai Cup 2026...
ASEAN Hyundai Cup 2026 Segera Bergulir, Dukung Perjuangan Timnas Indonesia di VISION+
15 jam yang lalu
Jadwal Timnas Indonesia...
Jadwal Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi Garuda Akhiri Penantian Gelar Perdana
16 jam yang lalu
Profil Jesslyn Wijaya...
Profil Jesslyn Wijaya Lay, Atlet Golf Putri yang Diduga Diculik di Mangga Besar
18 jam yang lalu
Infografis
Logo HUT ke-80 RI, Ini...
Logo HUT ke-80 RI, Ini Penjelasan Angka 80 Warna Merah-Putih dengan Garis Infinity
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved