UEFA siap hukum Squadra Mussolini
Minggu, 23 September 2012 - 07:52 WIB
UEFA siap hukum Squadra Mussolini
A
A
A
Sindonews.com - Suporter SS Lazio kembali menjadi sorotan.Akibat sikap rasis pada pertandingan tandang Liga Europa kontra Tottenham Hotspur,UEFA memutuskan membuka investigasi.
Jika terbukti melanggar regulasi,sanksi tegas telah menanti Gli Aquiloti. Dalam rilis resminya,lembaga yang dipimpin Michel Platini itu mengaku telah mendapatkan laporan dari White Hart Lane tentang ulah ultras Lazio yang menyanyikan lagu-lagu rasis plus teriakan menirukan suara monyet kepada sejumlah pemain kulit hitam Spurs.Menurut UEFA, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan karena telah melanggar regulasi pertandingan ataupun nilai-nilai fair playdi sepak bola.
”UEFA sedang mempelajari laporan terkait ulah rasis fans Lazio di laga melawan Tottenham.UEFA tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman tegas kepada klub yang suporternya melakukan tindakan itu,” demikian bunyi pernyataan resmi UEFA, dilansir Football Italia.
Sejarah mencatat,rasisme yang dilakukan Laziale bukan hal mengejutkan.Sejak sebelum Perang Dunia II,klub yang berbasis di ibu kota Italia itu memiliki ideologi politik yang sama seperti Benito Mussolini.Bahkan, diktator fasis Italia itu merupakan salah satu pendukung fanatik Lazio sejak kanakkanak.
Mussolini kerap hadir di stadion ketika klub berkostum biru langit itu bertanding.Bukan rahasia bila Lazio disebut squadra Mussolini (tim Mussolini). Pengaruh Mussolini dan fasisme bertahan hingga hari ini.
Beberapa tahun lalu,Lazio sempat dikenal sebagai tim yang alergi terhadap pemain-pemain berkulit gelap.Bahkan,ketika tabu itu dihilangkan sejak era Sergio Cragnotti, masih banyak tifosiyang tidak bisa menerima kehadiran pemain-pemain berkulit hitam. Bintangbintang keturunan Afrika milik Lazio macam Fabio Liverani,Stephen Makinwa, Christian Manfredini,Ousmane Dabo, hingga Modibo Diakite mengaku pernah menerima tindakan rasis dari Laziale.
Saat Derby della Capitale digelar di Olimpico Roma,eksistensi tifosi rasis terlihat semakin nyata.Pada dekade 1990- an,spanduk besar bertuliskan ”Tim Hitam, Pemuja Yahudi”akan dibentangkan di curva nord(tribune utara).Isi spanduk itu menyindir AS Roma yang dihuni banyak pemain Brasil berkulit hitam.Sebab,jika Lazio berideologi fasis (sayap kanan),Roma beraliran kiri (sosialis dan komunis). Sialnya,rasisme tidak hanya dianut para pendukung.Sejumlah pemain Lazio pada masa lalu ternyata cenderung memiliki sudut pandang yang sama seperti Mussolini.
Salah satu mantan pemain kontroversial yang secara tegas mengaku sebagai penganut fasisme adalah Paolo di Canio. Satu bukti rekaman kamera yang hingga hari ini menjadi ikon Di Canio adalah salam fasis yang dipertontonkan di hadapan tifosi pada sebuah laga versus Livorno di Olimpico pada 2005. ”Saya penganut fasis,bukan rasis,”kata Di Canio saat itu.Akibat aksi tersebut,sosok yang kini menjadi pelatih klub Divisi III Inggris Swindon Town itu mendapatkan hukuman denda 7.000 euro plus larangan bertanding satu laga.
Terlepas dari semua sejarah buruk tentang rasisme,Laziale wajib berubah. Pasalnya,UEFA dan FIFA telah mencanangkan zero tolerancekepada rasisme.Jika tetap rasis,bukan tidak mungkin Lazio akan dikucilkan.
Jika terbukti melanggar regulasi,sanksi tegas telah menanti Gli Aquiloti. Dalam rilis resminya,lembaga yang dipimpin Michel Platini itu mengaku telah mendapatkan laporan dari White Hart Lane tentang ulah ultras Lazio yang menyanyikan lagu-lagu rasis plus teriakan menirukan suara monyet kepada sejumlah pemain kulit hitam Spurs.Menurut UEFA, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan karena telah melanggar regulasi pertandingan ataupun nilai-nilai fair playdi sepak bola.
”UEFA sedang mempelajari laporan terkait ulah rasis fans Lazio di laga melawan Tottenham.UEFA tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman tegas kepada klub yang suporternya melakukan tindakan itu,” demikian bunyi pernyataan resmi UEFA, dilansir Football Italia.
Sejarah mencatat,rasisme yang dilakukan Laziale bukan hal mengejutkan.Sejak sebelum Perang Dunia II,klub yang berbasis di ibu kota Italia itu memiliki ideologi politik yang sama seperti Benito Mussolini.Bahkan, diktator fasis Italia itu merupakan salah satu pendukung fanatik Lazio sejak kanakkanak.
Mussolini kerap hadir di stadion ketika klub berkostum biru langit itu bertanding.Bukan rahasia bila Lazio disebut squadra Mussolini (tim Mussolini). Pengaruh Mussolini dan fasisme bertahan hingga hari ini.
Beberapa tahun lalu,Lazio sempat dikenal sebagai tim yang alergi terhadap pemain-pemain berkulit gelap.Bahkan,ketika tabu itu dihilangkan sejak era Sergio Cragnotti, masih banyak tifosiyang tidak bisa menerima kehadiran pemain-pemain berkulit hitam. Bintangbintang keturunan Afrika milik Lazio macam Fabio Liverani,Stephen Makinwa, Christian Manfredini,Ousmane Dabo, hingga Modibo Diakite mengaku pernah menerima tindakan rasis dari Laziale.
Saat Derby della Capitale digelar di Olimpico Roma,eksistensi tifosi rasis terlihat semakin nyata.Pada dekade 1990- an,spanduk besar bertuliskan ”Tim Hitam, Pemuja Yahudi”akan dibentangkan di curva nord(tribune utara).Isi spanduk itu menyindir AS Roma yang dihuni banyak pemain Brasil berkulit hitam.Sebab,jika Lazio berideologi fasis (sayap kanan),Roma beraliran kiri (sosialis dan komunis). Sialnya,rasisme tidak hanya dianut para pendukung.Sejumlah pemain Lazio pada masa lalu ternyata cenderung memiliki sudut pandang yang sama seperti Mussolini.
Salah satu mantan pemain kontroversial yang secara tegas mengaku sebagai penganut fasisme adalah Paolo di Canio. Satu bukti rekaman kamera yang hingga hari ini menjadi ikon Di Canio adalah salam fasis yang dipertontonkan di hadapan tifosi pada sebuah laga versus Livorno di Olimpico pada 2005. ”Saya penganut fasis,bukan rasis,”kata Di Canio saat itu.Akibat aksi tersebut,sosok yang kini menjadi pelatih klub Divisi III Inggris Swindon Town itu mendapatkan hukuman denda 7.000 euro plus larangan bertanding satu laga.
Terlepas dari semua sejarah buruk tentang rasisme,Laziale wajib berubah. Pasalnya,UEFA dan FIFA telah mencanangkan zero tolerancekepada rasisme.Jika tetap rasis,bukan tidak mungkin Lazio akan dikucilkan.
(wbs)