Pemerintah kurang perhatikan olahraga dirgantara
Selasa, 25 September 2012 - 18:00 WIB
Pemerintah kurang perhatikan olahraga dirgantara
A
A
A
Sindonews.com - Cabang olah raga (cabor) aeromodeling Jawa Tengah mampu menujukkan prestasi di PON XVIII lalu. Bahkan tim Jateng yang diperkuat oleh Nanik Novianti dan David Gunawan mampu keluar sebagai juara umum dengan menggondol 2 emas, satu perak dan satu perunggu.
Tim Jateng unggul dari juara bertahan Jatim yang hanya memperoleh dua emas, dan satu perunggu. Sayangnya, perhatian dari pemerintah Jateng terhadap olahraga ini masih kurang.
''Untuk olahraga kedirgantaraan fasilitas masih minim. Padahal potensinya cukup besar di Kota Semarang. Terbukti dalam PON kemarin kita mampu menjadi juara umum,” kata Ketua Umum Federasi Aerosport Indonesia (FASI) Kota Semarang, Kolonel Catur Puji Santoso setelah rapat koordinasi di Pangkalan Udara TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani Semarang, Selasa (25/9).
Catur yang juga Komandan Lanumad Ahmad Yani Semarang ini mengaku, perhatian terhadap olahraga kedirgantaraan, seperti cabor aeromedeling, paralayang, dan gantole belum sampai ke tingkat atas.''Pemerintah diharapkan turut campur untuk mengembangkan keolahragaan dirgantara ini, karena selama ini para atlet untuk berlatih masih menggunakan dana swadaya,” jelasnya.
Dijelaskannya, untuk saat ini FASI Kota Semarang sudah menggagas, pembuatan Run Way di medan latihan tempur TNI AD di Meteseh Tembalang. Selain itu, juga di Jepara, dan Sukolilo Kabupaten Pati.”Untuk yang di lapangan Meteseh kita sudah komunikasi dengan Kodam IV/Diponegoro dan dalam waktu dekat akan direalisasikan,” katanya.
Nanang Indardi, ketua Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia, (PGPI) Kota Semarang menambahkan, saat ini juga sedang menggas, Aero sport center Ahmad Yani Kota Semarang yang akan digunakan untuk menggodok atlet-atlet olah raga udara. ''Kita sudah menyampaikan kepada ketua umum dan mendapatkan respon cukup bagus,”tambahnya.
David Gunawan peraih medali emas PON 2012 Riau, mengakui selama ini pemerintah kurang memberikan dukungan pada cabor kedirgantaraan. ''Rata-rata untuk bisa membeli peralatan yang kompetitif biasanya terlambat. Dana dari KONI sering terlambat akhirnya untuk berlatih kita terpaksa mengeluarkan dana sendiri,”ujar peraih medali emas pada kelas F3 J (pesawat remot kontrol glider), dan medali perak pada kelas F3 A (pesawa aerobatik).
Selain itu, untuk cabor aeromedeling tidak memiliki fasilitas lahan untuk berlatih, sehingga untuk berlatih harus pinjam lahan milik swastas dan selalu berpindah-pindah.
Tim Jateng unggul dari juara bertahan Jatim yang hanya memperoleh dua emas, dan satu perunggu. Sayangnya, perhatian dari pemerintah Jateng terhadap olahraga ini masih kurang.
''Untuk olahraga kedirgantaraan fasilitas masih minim. Padahal potensinya cukup besar di Kota Semarang. Terbukti dalam PON kemarin kita mampu menjadi juara umum,” kata Ketua Umum Federasi Aerosport Indonesia (FASI) Kota Semarang, Kolonel Catur Puji Santoso setelah rapat koordinasi di Pangkalan Udara TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani Semarang, Selasa (25/9).
Catur yang juga Komandan Lanumad Ahmad Yani Semarang ini mengaku, perhatian terhadap olahraga kedirgantaraan, seperti cabor aeromedeling, paralayang, dan gantole belum sampai ke tingkat atas.''Pemerintah diharapkan turut campur untuk mengembangkan keolahragaan dirgantara ini, karena selama ini para atlet untuk berlatih masih menggunakan dana swadaya,” jelasnya.
Dijelaskannya, untuk saat ini FASI Kota Semarang sudah menggagas, pembuatan Run Way di medan latihan tempur TNI AD di Meteseh Tembalang. Selain itu, juga di Jepara, dan Sukolilo Kabupaten Pati.”Untuk yang di lapangan Meteseh kita sudah komunikasi dengan Kodam IV/Diponegoro dan dalam waktu dekat akan direalisasikan,” katanya.
Nanang Indardi, ketua Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia, (PGPI) Kota Semarang menambahkan, saat ini juga sedang menggas, Aero sport center Ahmad Yani Kota Semarang yang akan digunakan untuk menggodok atlet-atlet olah raga udara. ''Kita sudah menyampaikan kepada ketua umum dan mendapatkan respon cukup bagus,”tambahnya.
David Gunawan peraih medali emas PON 2012 Riau, mengakui selama ini pemerintah kurang memberikan dukungan pada cabor kedirgantaraan. ''Rata-rata untuk bisa membeli peralatan yang kompetitif biasanya terlambat. Dana dari KONI sering terlambat akhirnya untuk berlatih kita terpaksa mengeluarkan dana sendiri,”ujar peraih medali emas pada kelas F3 J (pesawat remot kontrol glider), dan medali perak pada kelas F3 A (pesawa aerobatik).
Selain itu, untuk cabor aeromedeling tidak memiliki fasilitas lahan untuk berlatih, sehingga untuk berlatih harus pinjam lahan milik swastas dan selalu berpindah-pindah.
(aww)