IMI Sumsel evaluasi kegagalan di PON XVIII
Selasa, 25 September 2012 - 18:45 WIB
IMI Sumsel evaluasi kegagalan di PON XVIII
A
A
A
Sindonews.com - Gagal meraih hasil terbaik di PON XVIII Riau membuat jajaran Pengprov IMI Sumsel meradang. Selain evaluasi internal, IMI Sumsel juga merekomendasikan beberapa hal sebagai bahan koreksi PP IMI.
Ketua Harian Pengprov IMI Sumsel, Syaidina Ali mengatakan, kegagalan prestasi pebalap Sumsel di PON lalu akan dievaluasi. Menurut Syaidina, bukan hanya dari kemampuan pebalap saja yang menyebabkan Sumsel gagal berprestasi. Akan tetapi faktor pelaksanaan lomba sendiri membuat para pebalap tidak bisa mengeluarkan skill maksimal.
''Pada PON kali ini kendaraan yang digunakan adalah motor standar di mana para pebalap selama persiapan tidak pernah menggunakan motor standar. Bukan hanya Sumsel, tapi ada juga pebalap dari daerah lain yang satu tahun menggelar latihan di Jepang pun tidak sanggup meraih prestasi membanggakan di PON lalu. Mana situasi sirkuit dan fasilitas pendukungnya amburadul yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesiapan pebalap,” paparnya.
Bahkan menurut Syaidina, kesempatan untuk adaptasi sirkuit dan motor pun tidak diberikan panitia. Motor yang akan digunakan berlomba baru diizinkan disentuh sesaat jelang lomba. ''Latihan pun baru dikasih dua hari jelang lomba. Dengan banyaknya kontingen yang ingin menjajal sirkuit jelas waktu yang disediakan panitia tidak cukup. Wajar saja kalau seluruh peserta komplain dengan kondisi itu,” lanjutnya.
Menyikapi kondisi tersebut, maka pada saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IMI nanti akan dibahas mengenai berbagai kendala yang dialami di PON lalu. Masukan kepada PP IMI antara lain kondisi sirkuit tidak standar, kepanitiaan yang kurang profesional dan sistem perlombaan yang amburadul. Selain itu ada hal yang juga patut dipertanyakan adalah hanya digunakannya satu merek motor pada perhelatan PON.
''Padahal dalam olahraga tidak boleh ada monopoli merek. Kalau memang tidak sanggup menggelar lomba tanpa sponsor ya sudah ditiadakan saja atau bubarkan sekalian,” kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumsel itu.
Syaidina berharap, pada pelaksanaan PON XIX di Jawa Barat tahun 2016 mendatang, kejadian seperti di Riau tidak terulang kembali.
''Saya yakin untuk cabor balap motor di PON Jabar nanti pelaksanaannya lebih profesional dan lebih siap. Sebab, mereka punya sarana dan prasarana yang lebih baik dibanding Riau. Dan satu lagi harapan kami, di PON Jabar nanti, pebalap diizinkan menggunakan berbagai merek motor,” pungkasnya.
Ketua Harian Pengprov IMI Sumsel, Syaidina Ali mengatakan, kegagalan prestasi pebalap Sumsel di PON lalu akan dievaluasi. Menurut Syaidina, bukan hanya dari kemampuan pebalap saja yang menyebabkan Sumsel gagal berprestasi. Akan tetapi faktor pelaksanaan lomba sendiri membuat para pebalap tidak bisa mengeluarkan skill maksimal.
''Pada PON kali ini kendaraan yang digunakan adalah motor standar di mana para pebalap selama persiapan tidak pernah menggunakan motor standar. Bukan hanya Sumsel, tapi ada juga pebalap dari daerah lain yang satu tahun menggelar latihan di Jepang pun tidak sanggup meraih prestasi membanggakan di PON lalu. Mana situasi sirkuit dan fasilitas pendukungnya amburadul yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesiapan pebalap,” paparnya.
Bahkan menurut Syaidina, kesempatan untuk adaptasi sirkuit dan motor pun tidak diberikan panitia. Motor yang akan digunakan berlomba baru diizinkan disentuh sesaat jelang lomba. ''Latihan pun baru dikasih dua hari jelang lomba. Dengan banyaknya kontingen yang ingin menjajal sirkuit jelas waktu yang disediakan panitia tidak cukup. Wajar saja kalau seluruh peserta komplain dengan kondisi itu,” lanjutnya.
Menyikapi kondisi tersebut, maka pada saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IMI nanti akan dibahas mengenai berbagai kendala yang dialami di PON lalu. Masukan kepada PP IMI antara lain kondisi sirkuit tidak standar, kepanitiaan yang kurang profesional dan sistem perlombaan yang amburadul. Selain itu ada hal yang juga patut dipertanyakan adalah hanya digunakannya satu merek motor pada perhelatan PON.
''Padahal dalam olahraga tidak boleh ada monopoli merek. Kalau memang tidak sanggup menggelar lomba tanpa sponsor ya sudah ditiadakan saja atau bubarkan sekalian,” kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumsel itu.
Syaidina berharap, pada pelaksanaan PON XIX di Jawa Barat tahun 2016 mendatang, kejadian seperti di Riau tidak terulang kembali.
''Saya yakin untuk cabor balap motor di PON Jabar nanti pelaksanaannya lebih profesional dan lebih siap. Sebab, mereka punya sarana dan prasarana yang lebih baik dibanding Riau. Dan satu lagi harapan kami, di PON Jabar nanti, pebalap diizinkan menggunakan berbagai merek motor,” pungkasnya.
(aww)