KONI Sulsel siapkan jurus baru pembinaan atlet
Rabu, 26 September 2012 - 21:26 WIB
KONI Sulsel siapkan jurus baru pembinaan atlet
A
A
A
Sindonews.com - Setelah berakhirnya PON XVIII Riau 2012, KONI mulai menyiapkan format pembinaan baru bagi atlet Sulawesi Selatan (Sulsel) di PON berikutnya. Biasanya, format pembinaan baru, dibahas setiap awal tahun setelah berakhirnya PON. Namun pada tahun ini, rencana akan dipercepat pada bulan November.
Wakil Ketua Umum KONI Sulsel, Marzuki Wadeng mengatakan, percepatan tersebut dilakukan agar pembahasannya bersamaan dengan pemilihan ketua KONI. ''Bukan hanya agenda pemilihan ketua yang akan dibahas, namun model pembinaan baru juga masuk agenda,” jelasnya.
Demi mematangkan konsep tersebut, dalam waktu dekat ini semua pelatih serta tim monitoring dan evaluasi (monev), diminta membuat laporan tertulis mengenai capaian di PON. ''Monev membuat laporan mengenai hasil cabang olahraga (cabor). Juga pelatih diminta membuat laporan,” kata dia.
Marzuki menjelaskan, laporan tersebut akan dibahas pada Jumat (28/9) pekan ini. ''Hasilnya, akan kita bawa ke rapat umum anggota KONI pada Nopember nanti. Sekaligus diberikan nama untuk pembinaan format baru untuk PON Jawa Barat (Jabar),” jelasnya.
Marzuki mengatakan, jika PON XVII Kalimantan Timur (Kaltim) 2008 lalu program pembinaannya diberi nama Sulsel Bangkit, dan PON XVIII Riau 2012 diberi nama Sulsel Maju, maka PON XIX, sedang dirumuskan namanya. ''Usulan saya adalah Sulsel Target 50 Medali Emas,” sebutnya.
Dia mengakui, format program pembinaan seperti Sulsel Bangkit dan Sulsel Maju, baru dibuat didua PON yakni Kaltim dan Riau. ''PON sebelumnya, tidak pernah punya program pembinaan yang berkesinambungan,” ucapnya.
Akibatnya prestasi Sulsel dibeberapa PON tidak maksimal. Namun dengan adanya program pembinaan tersebut, hasilnya mulai terlihat. ''PON Kaltim kita hanya target delapan besar. Hasilnya, naik keenam besar,” jelasnya.
Soal melorotnya prestasi Sulsel di PON 2012 Riau yang hanya finish diurutan tujuh, menurut dia karena tidak maksimalnya beberapa cabor. ''Sepak takraw diproyeksikan meraih medali emas. Tapi hasilnya jauh dari harapan,” katanya.
Cabor lainnya menurut dia adalah panjat tebing. Sebelumnya selalu dijadikan andalan. Namun tahun ini hanya menyumbang satu perak. ''Inilah dinamika dalam olahraga. Banyak hal yang bisa terjadi di luar prediksi,” sebut dia.
Marzuki menjelaskan, walaupun hanya finish di urutan tujuh, namun dia tetap bangga lantaran atlet yang diikutkan di PON Riau adalah produk asli Sulsel. ''Ini adalah buah dari kerja keras kita bersama,” ucapnya.
Sementara itu, pelatih atletik Sulsel Abdul Kadir mengatakan, KONI Sulsel memang harus bekerja cepat mempersiapan program pembinaan baru. ''Namun harus didukung dengan induk masing-masing cabor,” katanya.
Menurut dia, masing-masing Pengurus Provinsi (Pengprov) harus memperbaiki manajemen organisasinya. ''Kalau iklim organisasi baik, regenerasi juga akan jauh lebih terprogram,” katanya.
Kadir menjelaskan, khusus cabor atletik cukup pantas diberi perhatian pada PON berikutnya. Karena biaya pembinaannya sangat murah. Selain itu, setiap PON kurang lebih 40 medali diperebutkan di cabor tersebut. ''Kita rebut setengah saja dari medali itu sudah luar biasa,” pungkasnya.
Wakil Ketua Umum KONI Sulsel, Marzuki Wadeng mengatakan, percepatan tersebut dilakukan agar pembahasannya bersamaan dengan pemilihan ketua KONI. ''Bukan hanya agenda pemilihan ketua yang akan dibahas, namun model pembinaan baru juga masuk agenda,” jelasnya.
Demi mematangkan konsep tersebut, dalam waktu dekat ini semua pelatih serta tim monitoring dan evaluasi (monev), diminta membuat laporan tertulis mengenai capaian di PON. ''Monev membuat laporan mengenai hasil cabang olahraga (cabor). Juga pelatih diminta membuat laporan,” kata dia.
Marzuki menjelaskan, laporan tersebut akan dibahas pada Jumat (28/9) pekan ini. ''Hasilnya, akan kita bawa ke rapat umum anggota KONI pada Nopember nanti. Sekaligus diberikan nama untuk pembinaan format baru untuk PON Jawa Barat (Jabar),” jelasnya.
Marzuki mengatakan, jika PON XVII Kalimantan Timur (Kaltim) 2008 lalu program pembinaannya diberi nama Sulsel Bangkit, dan PON XVIII Riau 2012 diberi nama Sulsel Maju, maka PON XIX, sedang dirumuskan namanya. ''Usulan saya adalah Sulsel Target 50 Medali Emas,” sebutnya.
Dia mengakui, format program pembinaan seperti Sulsel Bangkit dan Sulsel Maju, baru dibuat didua PON yakni Kaltim dan Riau. ''PON sebelumnya, tidak pernah punya program pembinaan yang berkesinambungan,” ucapnya.
Akibatnya prestasi Sulsel dibeberapa PON tidak maksimal. Namun dengan adanya program pembinaan tersebut, hasilnya mulai terlihat. ''PON Kaltim kita hanya target delapan besar. Hasilnya, naik keenam besar,” jelasnya.
Soal melorotnya prestasi Sulsel di PON 2012 Riau yang hanya finish diurutan tujuh, menurut dia karena tidak maksimalnya beberapa cabor. ''Sepak takraw diproyeksikan meraih medali emas. Tapi hasilnya jauh dari harapan,” katanya.
Cabor lainnya menurut dia adalah panjat tebing. Sebelumnya selalu dijadikan andalan. Namun tahun ini hanya menyumbang satu perak. ''Inilah dinamika dalam olahraga. Banyak hal yang bisa terjadi di luar prediksi,” sebut dia.
Marzuki menjelaskan, walaupun hanya finish di urutan tujuh, namun dia tetap bangga lantaran atlet yang diikutkan di PON Riau adalah produk asli Sulsel. ''Ini adalah buah dari kerja keras kita bersama,” ucapnya.
Sementara itu, pelatih atletik Sulsel Abdul Kadir mengatakan, KONI Sulsel memang harus bekerja cepat mempersiapan program pembinaan baru. ''Namun harus didukung dengan induk masing-masing cabor,” katanya.
Menurut dia, masing-masing Pengurus Provinsi (Pengprov) harus memperbaiki manajemen organisasinya. ''Kalau iklim organisasi baik, regenerasi juga akan jauh lebih terprogram,” katanya.
Kadir menjelaskan, khusus cabor atletik cukup pantas diberi perhatian pada PON berikutnya. Karena biaya pembinaannya sangat murah. Selain itu, setiap PON kurang lebih 40 medali diperebutkan di cabor tersebut. ''Kita rebut setengah saja dari medali itu sudah luar biasa,” pungkasnya.
(aww)