Jatim gagal di PON karena salah pilih Tim Monev
Rabu, 03 Oktober 2012 - 22:36 WIB
Jatim gagal di PON karena salah pilih Tim Monev
A
A
A
Sindonews.com - Kegagalan Jawa Timur mempertahankan gelar juara umum PON XVIII/2012 bukan lantaran terjadi "jual beli medali". Namun, penyebab utamanya adalah kesalahan KONI Jawa Timur dalam memilih Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev).
Menurut Mantan Ketua Umum KONI Jawa Timur (Jatim), Imam Utomo, seharusnya KONI Jatim lebih jeli dalam menempatkan orang yang duduk dalam Tim Monev."Banyak tim monitoring dan evaluasi (monev) yang tak tahu mendalam mengenai teknis cabang olahraga yang dipegang," ujar Imam di Gedung Grahadi, Surabaya, Rabu (3/10).
Di kepengurusan KONI saat ini, menurut Imam Utomo, banyak tim Monev tidak ditempatkan sesuai bidangnya. Akibarnya, meski bekerja, namun hasilnya tidak maksimal. Sebab monev tak paham secara menyeluruh cabor yang dipegang. "Misalnya orang renang di-monev-kan di judo, nggak cocok. Harus dicarikan monev yang tahu menyeluruh mengenai cabor yang dipegang,"
ucapnya.
Padahal, lanjut Imam, peran Tim Monev sangat penting sebagai ujung tombak untuk mengetahui kondisi masing-masing cabor. "Kalau tim monevnya paham olahraga maka bisa tahu seluk beluk cabor, baik kekuatan Jatim maupun kekuatan lawan. Banyak masalah muncul jelang PON dimulai.
Padahal itu bisa diselesaikan sebelumnya, " ujar mantan gubernur Jatim itu.
Pandangan pria yang membawa Jatim juara umum PON XVII/2008 ini memang ada benarnya. Sebab, banyak persoalan ternyata muncul ketika mendekati PON XVIII digelar. Seperti kasus tidak tampil atlet tiga atlet nasional di cabor panahan, salah satunya pemanah Olimpiade London Ika Yuliana. Sedangkan di cabor judo, salah atlet SEA Games 2011 justru terkena skorsing
dari Pengprov PJSI Jatim.
Ironisnya, KONI Jatim tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan membiarkan saja para atlet andalan Jatim tidak tampil. Akibatnya, kedua cabor ini memang gagal memenuhi target KONI Jatim.
Panahan hanya mendulang lima emas dari target enam medali emas. Sedangkan judo lebih parah, dari target tiga emas hanya mendapatkan satu emas.
Disinggung soal adanya indikasi jual beli medali, Imam Utomo yang melihat langsung beberapa pertandingan di Riau membatahnya. "Saya tidak sampai ke situ. Saya lihat para atlet sangat bersemangat, ini bukan kesalahan mereka, " tandasnya.
Imam berjanji akan memberikan wejangan saat KONI Jatim mengadakan pertemuan dengan cabor-cabor nanti. "Saya punya beberapa saran, nanti saya akan bicara di sana. Ke depan PON di Jawa Barat, dan Jabar pasti ingin menjadi juara. Sekarang bagaimana caranya kita bisa juara di Jabar," ucapnya.
Yang pasti, ujar Imam, program Puslatda tetap harus dipertahankan. Sebab, program yang digagasnya itu masih ampuh jika dijalankan dengan baik. "Sistem promosi dan degradasi misalnya KONI Jatim juga harus tegas. Kalau memang tidak berprestasi buat apa masuk Puslatda. Ini akan membuat cabor-cabor itu berusaha lebih keras bagaimana caranya berprestasi, " ucapnya.
Selain itu, Imam Utomo juga menyayangkan cara KONI Jatim dalam memberikan bonus kepada atlet. Salah satunya bonus mentas senilai Rp 10 juta yang diberikan langsung di lapangan setelah atlet meraih emas. "Dulu sebelum bertanding malah sudah kita kasih bonus, karena sudah tahu kira-kira bisa dapat emas atau tidak. Nggak usah diomongkan, " tegasnya.
Menurut Mantan Ketua Umum KONI Jawa Timur (Jatim), Imam Utomo, seharusnya KONI Jatim lebih jeli dalam menempatkan orang yang duduk dalam Tim Monev."Banyak tim monitoring dan evaluasi (monev) yang tak tahu mendalam mengenai teknis cabang olahraga yang dipegang," ujar Imam di Gedung Grahadi, Surabaya, Rabu (3/10).
Di kepengurusan KONI saat ini, menurut Imam Utomo, banyak tim Monev tidak ditempatkan sesuai bidangnya. Akibarnya, meski bekerja, namun hasilnya tidak maksimal. Sebab monev tak paham secara menyeluruh cabor yang dipegang. "Misalnya orang renang di-monev-kan di judo, nggak cocok. Harus dicarikan monev yang tahu menyeluruh mengenai cabor yang dipegang,"
ucapnya.
Padahal, lanjut Imam, peran Tim Monev sangat penting sebagai ujung tombak untuk mengetahui kondisi masing-masing cabor. "Kalau tim monevnya paham olahraga maka bisa tahu seluk beluk cabor, baik kekuatan Jatim maupun kekuatan lawan. Banyak masalah muncul jelang PON dimulai.
Padahal itu bisa diselesaikan sebelumnya, " ujar mantan gubernur Jatim itu.
Pandangan pria yang membawa Jatim juara umum PON XVII/2008 ini memang ada benarnya. Sebab, banyak persoalan ternyata muncul ketika mendekati PON XVIII digelar. Seperti kasus tidak tampil atlet tiga atlet nasional di cabor panahan, salah satunya pemanah Olimpiade London Ika Yuliana. Sedangkan di cabor judo, salah atlet SEA Games 2011 justru terkena skorsing
dari Pengprov PJSI Jatim.
Ironisnya, KONI Jatim tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan membiarkan saja para atlet andalan Jatim tidak tampil. Akibatnya, kedua cabor ini memang gagal memenuhi target KONI Jatim.
Panahan hanya mendulang lima emas dari target enam medali emas. Sedangkan judo lebih parah, dari target tiga emas hanya mendapatkan satu emas.
Disinggung soal adanya indikasi jual beli medali, Imam Utomo yang melihat langsung beberapa pertandingan di Riau membatahnya. "Saya tidak sampai ke situ. Saya lihat para atlet sangat bersemangat, ini bukan kesalahan mereka, " tandasnya.
Imam berjanji akan memberikan wejangan saat KONI Jatim mengadakan pertemuan dengan cabor-cabor nanti. "Saya punya beberapa saran, nanti saya akan bicara di sana. Ke depan PON di Jawa Barat, dan Jabar pasti ingin menjadi juara. Sekarang bagaimana caranya kita bisa juara di Jabar," ucapnya.
Yang pasti, ujar Imam, program Puslatda tetap harus dipertahankan. Sebab, program yang digagasnya itu masih ampuh jika dijalankan dengan baik. "Sistem promosi dan degradasi misalnya KONI Jatim juga harus tegas. Kalau memang tidak berprestasi buat apa masuk Puslatda. Ini akan membuat cabor-cabor itu berusaha lebih keras bagaimana caranya berprestasi, " ucapnya.
Selain itu, Imam Utomo juga menyayangkan cara KONI Jatim dalam memberikan bonus kepada atlet. Salah satunya bonus mentas senilai Rp 10 juta yang diberikan langsung di lapangan setelah atlet meraih emas. "Dulu sebelum bertanding malah sudah kita kasih bonus, karena sudah tahu kira-kira bisa dapat emas atau tidak. Nggak usah diomongkan, " tegasnya.
(aww)