Naoya Inoue, petinju masa depan Jepang
Rabu, 03 Oktober 2012 - 22:54 WIB
Naoya Inoue, petinju masa depan Jepang
A
A
A
Sindonews.com - Petinju muda Jepang Naoya Inoue mencatatkan debut yang mengesankan di pentas tinju profesional. Petinju berusia 19 tahun itu hanya membutuhkan waktu empat ronde untuk merobohkan petinju Filipina Crison Omayao di Korakuen Hall, Tokyo, Selasa waktu setempat (2/10).
Inoue diharapkan bisa meraih prestasi dalam tempo yang singkat, seperti yang pernah dilakukan oleh para petinju Jepang lainnya, seperti Kazuto Ioka (kelas terbang mini), Joichiro Tatsuyoshi (kelas bantam), Nobuo Nashiro (kelas terbang super), Yoko Gushiken (kelas terbang junior), dan Hiroki Ioka (kelas terbang mini). Para senior Inoue tersebut hanya membutuhkan tak lebih dari sepuluh pertarungan untuk memperoleh gelar pertamanya.
Melihat kemampuan yang dimiliki Inoue, sang manajer atau promotornya, Hideyuki Ohashi, pun berani mengklaim jika petinjunya itu bakal mampu meraih gelar pertamanya hanya dalam tiga pertarungan awal, seperti yang pernah dilakukan petinju super ringan Thailand Saensak Muangsurin. "Inoue bukan hanya tonggak kebangkitan Jepang untuk memperoleh gelar dunia, tetapi juga mengungguli Muangsurin," tegas Ohashi, seperti dikutip Fight News, Rabu (3/10).
Saat menghadapi Omayao, kata Ohashi, Inoue tampil mengerikan, dia menunjukkan ketenangannya, pukulannya sangat akurat dan cepat menusuk ke bagian perut lawannya. Sementara peraih emas kelas menengah di Olimpiade London, Ryota Murata, menggambarkan Inoue sebagai raksasa karena keperkasaan dan kekuatan memukulnya saat mereka melakukan latihan bersama.
Namun, mengingat usia Inoue masih muda dan perjalanan karirnya masih panjang, Ohashi pun tidak terlalu menuntut Inoue untuk meraih gelarnya dalam tiga pertarungan pertamanya. "Lupakan tentang mendominasi dunia dalam pertarungan pro ketiga. Inoue adalah petinju jenius dan bermasa depan cerah. Kami berharap dalam sepuluh tahun ini ia bisa menjadi juara dunia."
Inoue diharapkan bisa meraih prestasi dalam tempo yang singkat, seperti yang pernah dilakukan oleh para petinju Jepang lainnya, seperti Kazuto Ioka (kelas terbang mini), Joichiro Tatsuyoshi (kelas bantam), Nobuo Nashiro (kelas terbang super), Yoko Gushiken (kelas terbang junior), dan Hiroki Ioka (kelas terbang mini). Para senior Inoue tersebut hanya membutuhkan tak lebih dari sepuluh pertarungan untuk memperoleh gelar pertamanya.
Melihat kemampuan yang dimiliki Inoue, sang manajer atau promotornya, Hideyuki Ohashi, pun berani mengklaim jika petinjunya itu bakal mampu meraih gelar pertamanya hanya dalam tiga pertarungan awal, seperti yang pernah dilakukan petinju super ringan Thailand Saensak Muangsurin. "Inoue bukan hanya tonggak kebangkitan Jepang untuk memperoleh gelar dunia, tetapi juga mengungguli Muangsurin," tegas Ohashi, seperti dikutip Fight News, Rabu (3/10).
Saat menghadapi Omayao, kata Ohashi, Inoue tampil mengerikan, dia menunjukkan ketenangannya, pukulannya sangat akurat dan cepat menusuk ke bagian perut lawannya. Sementara peraih emas kelas menengah di Olimpiade London, Ryota Murata, menggambarkan Inoue sebagai raksasa karena keperkasaan dan kekuatan memukulnya saat mereka melakukan latihan bersama.
Namun, mengingat usia Inoue masih muda dan perjalanan karirnya masih panjang, Ohashi pun tidak terlalu menuntut Inoue untuk meraih gelarnya dalam tiga pertarungan pertamanya. "Lupakan tentang mendominasi dunia dalam pertarungan pro ketiga. Inoue adalah petinju jenius dan bermasa depan cerah. Kami berharap dalam sepuluh tahun ini ia bisa menjadi juara dunia."
(aww)