Pembinaan petenis usia dini kurang perhatian
Senin, 15 Oktober 2012 - 20:01 WIB
Pembinaan petenis usia dini kurang perhatian
A
A
A
Sindonews.com - Terpuruknya prestasi petenis junior Indonesia di berbagai turnamen, termasuk ITF Junior Widjojo Soejono-MNC Group menjadi tamparan telak buat pembina tenis nasional. Pembinaan atlet usia dini harus lebih diperhatikan, jika tidak ingin terus tertinggal.
Tokoh tenis Indonesia, Widjojo Soejono.menyarankan PP Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti) dan pembina tenis di daerah untuk memperhatikan pembinaan atlet-atlet usia dini. "Tanpa pembinaan yang bagus, jangan harap prestasi Indonesia bisa meningkat. Pelti harus melakukan pembinaan terus menerus hingga melahirkan petenis yang berbobot,” kata penggagas turnamen ITF Junior Widjojo Soejono ini.
Untuk itu, mantan Pangdam V Brawijaya itu meminta agar para petenis junior yang muncul di ajang ITF Widjojo Soejono-MNC Group 2012, segera ditindaklanjut oleh pengurus PP Pelti maupun Pelti daerah. “Harapan saya, pemain potensial diambil dan dilatih dengan bagus. Dengan demikian, kedepannya bisa jadi pemain yang berprestasi, ” tutur pria berusia 83 tahun ini.
Turnamen ITF Widjojo Soejono-MNC Group 2012, tambah Widjojo, bisa dijadikan sebagai sarana pencarian bakat. Sehingga Indonesia bisa menyiapkan atlet-atlet muda. ''Piala Widjojo Soejono harus terus dipertahankan. Ini bisa dijadikan sebagai pemassalan, pembibitan dan pembinaan prestasi,” tandasnya.
Dalam kejuaraan tenis Piala Widjojo Soejono 2012 memang memperlombakan berbagai kelompok umur mulai KU-10, KU-12, KU-14, KU-16. Sedangkan KU-18 yang pesertanya diikuti petenis-petenis internasional prestasi petenis Indonesia jeblok. Tahun indonesia gagal merebut gelar juara dari empat nomor yang diperlombakan.
Sementara itu, Irmantara Subagya, Binpres Pengprov Pelti Jatim mengakui jika para petenis Indonesia kalah kelas dibandingkan petenis asing. Salah satu faktornya karena minimnya mengikuti turnamen. "Butuh biaya tidak sedikit bagi petenis untuk bisa ikut turnamen internasional. Itu menjadi salah satu faktornya," ucapnya
Tokoh tenis Indonesia, Widjojo Soejono.menyarankan PP Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti) dan pembina tenis di daerah untuk memperhatikan pembinaan atlet-atlet usia dini. "Tanpa pembinaan yang bagus, jangan harap prestasi Indonesia bisa meningkat. Pelti harus melakukan pembinaan terus menerus hingga melahirkan petenis yang berbobot,” kata penggagas turnamen ITF Junior Widjojo Soejono ini.
Untuk itu, mantan Pangdam V Brawijaya itu meminta agar para petenis junior yang muncul di ajang ITF Widjojo Soejono-MNC Group 2012, segera ditindaklanjut oleh pengurus PP Pelti maupun Pelti daerah. “Harapan saya, pemain potensial diambil dan dilatih dengan bagus. Dengan demikian, kedepannya bisa jadi pemain yang berprestasi, ” tutur pria berusia 83 tahun ini.
Turnamen ITF Widjojo Soejono-MNC Group 2012, tambah Widjojo, bisa dijadikan sebagai sarana pencarian bakat. Sehingga Indonesia bisa menyiapkan atlet-atlet muda. ''Piala Widjojo Soejono harus terus dipertahankan. Ini bisa dijadikan sebagai pemassalan, pembibitan dan pembinaan prestasi,” tandasnya.
Dalam kejuaraan tenis Piala Widjojo Soejono 2012 memang memperlombakan berbagai kelompok umur mulai KU-10, KU-12, KU-14, KU-16. Sedangkan KU-18 yang pesertanya diikuti petenis-petenis internasional prestasi petenis Indonesia jeblok. Tahun indonesia gagal merebut gelar juara dari empat nomor yang diperlombakan.
Sementara itu, Irmantara Subagya, Binpres Pengprov Pelti Jatim mengakui jika para petenis Indonesia kalah kelas dibandingkan petenis asing. Salah satu faktornya karena minimnya mengikuti turnamen. "Butuh biaya tidak sedikit bagi petenis untuk bisa ikut turnamen internasional. Itu menjadi salah satu faktornya," ucapnya
(aww)