Formula bonus Imam Utomo paling pas
Rabu, 24 Oktober 2012 - 20:30 WIB
Formula bonus Imam Utomo paling pas
A
A
A
Sindonews.com - Pemberian bonus bukan menjadi salah satu faktor utama kegagalan Jatim mempertahankan gelar juara umum di PON XVIII. Namun, formulasi dan besaran bonus medali yang diterapkan KONI Jatim bisa dibilang menjadi salah satu penyebabnya.
Ya, cara KONI Jatim dalam menebar bonus PON kepada atlet berujung kekacauan. Bukan hanya proses pencairannya lamban, tapi perubahan cara pembagian bonus. Jika dibandingkan ketika KONI Jatim meraih gelar juara umum PON XVII/Kaltim 2008 lalu, skema pembagian bonus memang dirombak total oleh pengurus KONI saat ini yang dikomando Ketua umum (Plt) Erlangga Satriaagung.
Empat tahun lalu, Imam Utomo membuat kebijakan dengan menentukan nilai bonus medali menjadi beberapa kategori secara rinci. Yaitu emas perorangan Rp 100 juta, ganda 2 orang Rp 90 juta per atlet, ganda 3 orang Rp 70 juta per atlet, beregu 4 orang Rp 65 juta per atlet, dan beregu 5
orang atau lebih masing-masing Rp 60 juta per atlet.
Sedangkan peraih medali perak perorangan mendapatkan Rp 30 juta, ganda 2 orang Rp 25 juta per atlet, ganda 3 orang masing-masing Rp 20 juta, beregu 4 orang masing-masing Rp 17,5 juta, dan beregu 5 orang atau lebih masing-masing Rp 15 juta.
Sementara peraih perunggu perorangan mendapat bonus Rp 15 juta, ganda 2 orang masing-masing Rp 13 juta, ganda 3 orang masing-masing Rp 11 juta, beregu 4 orang masing-masing Rp 10 juta, dan beregu 5 orang atau lebih masing-masing Rp 9 juta.
Selain itu, dulu KONI Jatim juga memberikan bonus bagi atlit pemecah rekor diantaranya rekor nasional Rp 40 juta, rekor SEA Games Rp 50 juta, rekor Asia Rp 60 juta, dan rekor Dunia Rp 75 juta. Bonus pemecah rekor ini diberikan karena Imam Utomo mempertimbangkan PON bukan hanya
berorientasi prestasi lokal, tapi juga merangsang atlet meraih prestasi tingkat internasional dengan pecah rekor.
Namun oleh pengurus baru KONI Jatim, formulasi ini diubah total. Di permukaan memang terlihat lebih meningkat secara nilai, karena bonus emas perorangan mencapai Rp 150 juta. Tapi di bawah bonus emas perorangan sama sekali tidak mengalami peningkatan. Perhitungan KONI Jatim, agar atlet benar-benar mengejar emas bukan medali perak. Tapi emas beregu yang di luar prediksi ternyata menimbulkan kecemburuan.
Selain itu bonus pemecah rekor yang dibuat Imam Utomo juga dibuang. KONI Jatim sekarang malah mengantikan dengan bonus over target sebesar Rp 75 juta per emas, bonus sapu bersih senilai Rp 750 juta dan bonus mentas Rp 10 juta.
Namun cara bonus seperti ini tidak membuahkan hasil. Di PON XVIII, sama sekali tidak ada cabor yang berhasil menyapu bersih semua medali emas, termasuk tenis meja yang diharapkan bisa memborong tujuh emas ternyata hanya enam emas.
Sedangkan bonus over target hanya ada lima cabor yang berhasil, yaitu menembak, sepak takraw, squash, senam dan atletik. Untuk bonus mentas sebesar Rp 10 juta di jaman Iman Utomo sebernanya juga sudah ada. "Bahkan, kita sebelum pertandingan sudah kita kasih, karena kita tahu mana yang potensi mana yang tidak. Bonus seperti itu tidak perlu disebutkan," ujar Imam Utomo
Ya, cara KONI Jatim dalam menebar bonus PON kepada atlet berujung kekacauan. Bukan hanya proses pencairannya lamban, tapi perubahan cara pembagian bonus. Jika dibandingkan ketika KONI Jatim meraih gelar juara umum PON XVII/Kaltim 2008 lalu, skema pembagian bonus memang dirombak total oleh pengurus KONI saat ini yang dikomando Ketua umum (Plt) Erlangga Satriaagung.
Empat tahun lalu, Imam Utomo membuat kebijakan dengan menentukan nilai bonus medali menjadi beberapa kategori secara rinci. Yaitu emas perorangan Rp 100 juta, ganda 2 orang Rp 90 juta per atlet, ganda 3 orang Rp 70 juta per atlet, beregu 4 orang Rp 65 juta per atlet, dan beregu 5
orang atau lebih masing-masing Rp 60 juta per atlet.
Sedangkan peraih medali perak perorangan mendapatkan Rp 30 juta, ganda 2 orang Rp 25 juta per atlet, ganda 3 orang masing-masing Rp 20 juta, beregu 4 orang masing-masing Rp 17,5 juta, dan beregu 5 orang atau lebih masing-masing Rp 15 juta.
Sementara peraih perunggu perorangan mendapat bonus Rp 15 juta, ganda 2 orang masing-masing Rp 13 juta, ganda 3 orang masing-masing Rp 11 juta, beregu 4 orang masing-masing Rp 10 juta, dan beregu 5 orang atau lebih masing-masing Rp 9 juta.
Selain itu, dulu KONI Jatim juga memberikan bonus bagi atlit pemecah rekor diantaranya rekor nasional Rp 40 juta, rekor SEA Games Rp 50 juta, rekor Asia Rp 60 juta, dan rekor Dunia Rp 75 juta. Bonus pemecah rekor ini diberikan karena Imam Utomo mempertimbangkan PON bukan hanya
berorientasi prestasi lokal, tapi juga merangsang atlet meraih prestasi tingkat internasional dengan pecah rekor.
Namun oleh pengurus baru KONI Jatim, formulasi ini diubah total. Di permukaan memang terlihat lebih meningkat secara nilai, karena bonus emas perorangan mencapai Rp 150 juta. Tapi di bawah bonus emas perorangan sama sekali tidak mengalami peningkatan. Perhitungan KONI Jatim, agar atlet benar-benar mengejar emas bukan medali perak. Tapi emas beregu yang di luar prediksi ternyata menimbulkan kecemburuan.
Selain itu bonus pemecah rekor yang dibuat Imam Utomo juga dibuang. KONI Jatim sekarang malah mengantikan dengan bonus over target sebesar Rp 75 juta per emas, bonus sapu bersih senilai Rp 750 juta dan bonus mentas Rp 10 juta.
Namun cara bonus seperti ini tidak membuahkan hasil. Di PON XVIII, sama sekali tidak ada cabor yang berhasil menyapu bersih semua medali emas, termasuk tenis meja yang diharapkan bisa memborong tujuh emas ternyata hanya enam emas.
Sedangkan bonus over target hanya ada lima cabor yang berhasil, yaitu menembak, sepak takraw, squash, senam dan atletik. Untuk bonus mentas sebesar Rp 10 juta di jaman Iman Utomo sebernanya juga sudah ada. "Bahkan, kita sebelum pertandingan sudah kita kasih, karena kita tahu mana yang potensi mana yang tidak. Bonus seperti itu tidak perlu disebutkan," ujar Imam Utomo
(aww)