Rentan kecelakaan, joki pacuan kuda tidak diasuransikan
Rabu, 31 Oktober 2012 - 12:19 WIB
Rentan kecelakaan, joki pacuan kuda tidak diasuransikan
A
A
A
Sindonews.com - Dibalik pesona pacuan kuda tradisional Sumba yang diwarnai aksi para joki cilik tanpa sadel dan alat keamanan yang memadai, memacu kuda dalam kecepatan tinggi, ternyata membungkus keprihatinan yang jarang tersentuh. Keperihatinan akan nasip para joki yang masih berusia belia (8 - 12 tahun) yang sangat rentan akan kecelakaan, seperti jatuh dai atas punggung kuda hingga terinjak kuda yang berlari kencang.
Kuda dan pacuan memang sejak silam menjadi tradisi yang tak jua lepas dari kehidupan orang Sumba, di Propinsi NTT. Di Kabupaten Sumba Timur saja, dalam setahun minimal ada empat event digelar, baik yang dilangsungkan di kota Kabupaten maupun di sejumlah kecamatan.
Namun sayang, dalam setiap event itu, para penonton dan pecandu kuda hingga panitia penyelenggara cenderung lebih memfokuskan pada kuda dan atraksi para joki, dan menepikan keselamatan para joki. Para joki berjibaku dengan maut yang senantiasa mengintip tanpa dibekali asuransi juga helm dan sepatu pengaman.
“Saya sudah sering jatuh, tapi untuk pacuan kali ini baru saja jatuh karena tersenggol pintu gate. Tapi saya masih mau joki lagi biar dapat uang, karena satu kali joki dikasihpemilik kuda limapuluh ribu, kalau kuda yang saya joki juara saya dapat 100 ribu,” jelas Oki (12), seorang joki usai menjalani perawatan pasca jatuh dari kuda tunggangannya, diatas ambulans yang berada di seputaran arena, Rabu ( 31/10) siang.
Terpisah Stefanus Pekuwali, sekretaris panitia pacuan Kuda Bupati Cup 2012, ketika ditemui wartawan di meja panitia membenarkan para joki rentan kecelakaan. “ Hampir tiap hari ada yang kecelakaan, minimal ada dua joki yang jatuh.
Tapi jarang ada yang fatal, paling luka ringan dan patah tulang. Memang kami tidak asuransikan para joki, karena mepetnya waktu persiapan,apalagi kali ini sebanyak 678 keor kuda ikut dalam ajang ini, ” jelasnya seraya menambahkan pihaknya sudah seringkali menghimbau untuk para joki dan pemilik kuda dilengkapi dengan helm pengaman, namun hanya sedikit yang mengindahkan dengan alasan lebih nyaman dan terasa ringan saat memacu kuda.
Joki cilik tanpa sadel diatas kuda dengan pelana seadanya, tanpa helm dan sepatu hingga taruhan terbuka di depan meja panitia dan mata aparat/ juga diakui panitia penyelenggara sudah menjadi tradisi dan sulit untuk dienyahkan.
“Kalau judi atau taruhan itu sudah permainan rakyat sejak dahulu di arena pacuan, kami sudah himbau dan bekerja sama dengan polisi namun mau bagaimana lagi itu terus terjadi dan diluar jangkauan kami,”timpal Stefanus ketika dimintai tanggapannya terkait maraknya judi diarena pacu yang dipertontonkan olreh para penonton dari ragam latar belakang usia dan profesi.
Melestarikan tradisi adalah niat yang mulia, namun alangkah lebih luhur dan mulia jika melestarikan tradisi sekaligus menjamin keselamatan para joki, dan menertibkan para petaruh atau penjudi, karena cepat atau lambat taruhan atau judi akan beresiko buruk, seperti terjadinya kericuhan dan ragam tindakan kriminal lainnya.
Kuda dan pacuan memang sejak silam menjadi tradisi yang tak jua lepas dari kehidupan orang Sumba, di Propinsi NTT. Di Kabupaten Sumba Timur saja, dalam setahun minimal ada empat event digelar, baik yang dilangsungkan di kota Kabupaten maupun di sejumlah kecamatan.
Namun sayang, dalam setiap event itu, para penonton dan pecandu kuda hingga panitia penyelenggara cenderung lebih memfokuskan pada kuda dan atraksi para joki, dan menepikan keselamatan para joki. Para joki berjibaku dengan maut yang senantiasa mengintip tanpa dibekali asuransi juga helm dan sepatu pengaman.
“Saya sudah sering jatuh, tapi untuk pacuan kali ini baru saja jatuh karena tersenggol pintu gate. Tapi saya masih mau joki lagi biar dapat uang, karena satu kali joki dikasihpemilik kuda limapuluh ribu, kalau kuda yang saya joki juara saya dapat 100 ribu,” jelas Oki (12), seorang joki usai menjalani perawatan pasca jatuh dari kuda tunggangannya, diatas ambulans yang berada di seputaran arena, Rabu ( 31/10) siang.
Terpisah Stefanus Pekuwali, sekretaris panitia pacuan Kuda Bupati Cup 2012, ketika ditemui wartawan di meja panitia membenarkan para joki rentan kecelakaan. “ Hampir tiap hari ada yang kecelakaan, minimal ada dua joki yang jatuh.
Tapi jarang ada yang fatal, paling luka ringan dan patah tulang. Memang kami tidak asuransikan para joki, karena mepetnya waktu persiapan,apalagi kali ini sebanyak 678 keor kuda ikut dalam ajang ini, ” jelasnya seraya menambahkan pihaknya sudah seringkali menghimbau untuk para joki dan pemilik kuda dilengkapi dengan helm pengaman, namun hanya sedikit yang mengindahkan dengan alasan lebih nyaman dan terasa ringan saat memacu kuda.
Joki cilik tanpa sadel diatas kuda dengan pelana seadanya, tanpa helm dan sepatu hingga taruhan terbuka di depan meja panitia dan mata aparat/ juga diakui panitia penyelenggara sudah menjadi tradisi dan sulit untuk dienyahkan.
“Kalau judi atau taruhan itu sudah permainan rakyat sejak dahulu di arena pacuan, kami sudah himbau dan bekerja sama dengan polisi namun mau bagaimana lagi itu terus terjadi dan diluar jangkauan kami,”timpal Stefanus ketika dimintai tanggapannya terkait maraknya judi diarena pacu yang dipertontonkan olreh para penonton dari ragam latar belakang usia dan profesi.
Melestarikan tradisi adalah niat yang mulia, namun alangkah lebih luhur dan mulia jika melestarikan tradisi sekaligus menjamin keselamatan para joki, dan menertibkan para petaruh atau penjudi, karena cepat atau lambat taruhan atau judi akan beresiko buruk, seperti terjadinya kericuhan dan ragam tindakan kriminal lainnya.
(wbs)