Chelsea terancam salah tuduh Clattenburg
Kamis, 01 November 2012 - 10:30 WIB
Chelsea terancam salah tuduh Clattenburg
A
A
A
Sindonews.com - Chelsea harus bersiap menghadapi konsekuensi jika tuduhan rasisme ke wasit Mark Clattenburg tidak terbukti. Selain reputasi tercoreng, klub London Barat itu berpeluang jadi sasaran ”balas dendam” wasit. Asosiasi Wasit Profesional Liga Inggris (Professional Game Match Officials Board/ PGMO) berencana menggugat balik The Blues, julukan Chelsea kalau tudingan menyangkut nama baik Clattenburg tidak berdasar.
PGMO tidak segan mengambil langkah ini menyaksikan salah satu anggota mereka menjadi korban bulan-bulanan juara Eropa tersebut. Karier Clattenburg terancam berakhir menyusul keputusan Chelsea melaporkan namanya ke Football Association (FA). Ofisial berusia 37 tahun itu dipercaya menggunakan bahasa tidak patut ke John Obi Mikel dan Juan Mata pada duel Liga Primer kontra Manchester United (MU), akhir pekan lalu. Clattenburg juga diyakini mendapat teror fans yang kecewa dengan kepemimpinannya pada pertandingan yang berakhir 2-3 untuk kemenangan MU tersebut.
Serangan balik PGMO turut didasari perilaku Chelsea sebelumnya. Pada 2006, bek Ashley Cole menyebut wasit Graham Poll sengaja mengusir John Terry dan menganulir gol Didier Drogba pada laga melawan Tottenham Hotspur. Menurut Cole, Poll bertindak demikian karena Chelsea ”perlu diberi pelajaran”. Pernyataan Cole didukung Terry yang menilai Poll mengubah kesaksian terkait keputusan kartu merah yang ditujukan kepadanya. Terry merasa Poll mengambil langkah ini supaya kebijakannya tidak dipertanyakan otoritas.
FA kemudian menyelidiki kasus ini dan memutuskan Terry melancarkan tuduhan palsu. Terry akhirnya didenda 10.000 pounds. PGMO merasa blunder serupa kembali dilakukan Chelsea. Sebab,t idak ada bukti kuat Clattenburg menghina warna kulit Mikel dan ras Mata. Menurut laporan Daily Mail, tudingan itu baru muncul di kamar ganti seusai pertandingan.
Saat itu,emosi skuad asuhan Roberto di Matteo sedang tinggi akibat kepemimpinan kontroversial Clattenburg, yang mengusir Branislav Ivanovic dan Fernando Torres, serta mengesahkan gol Javier Hernandez, meski dicetak pada posisi offside dalam partai tersebut. Ramires dan David Luiz adalah pemain yang mengaku mendengar ejekan Clattenburg. Namun,Mikel dan Mata tidak mengetahuinya.
“Baik Mata dan Torres mengaku tidak menyadari hinaan Clattenburg.Saya juga tidak mengerti karena langsung pulang.Ucapan tersebut didengar pihak ketiga,”kata gelandang Oriol Romeu, dilansir Cope.
“Saya hanya tahu Chelsea sudah mengajukan keberatan. Saya yakin ini kasus serius. Di Inggris masalah rasisme begitu mendapat perhatian,” sambung sosok berusia 21 tahun tersebut.
Keyakinan PGMO ikut terbantu sikap Chelsea. Setelah mengadukan Clattenburg ke FA, The Blues memilih menggelar investigasi internal sebelum bertindak lebih lanjut. Mereka ingin memastikan memiliki bukti kuat demi mendukung tuduhan awal. Menurut Telegraph, 3-4 pemain Chelsea siap maju dan memberikan kesaksian. Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan Chelsea masih berlangsung. Namun,Chelsea telah memanggil pengacara untuk menentukan apakah patut maju atau mencabut gugatan.
Mereka cemas tidak memiliki dasar kuat menyusul terkuaknya kemungkinan terbaru. Ada skenario Luiz dan Ramires salah dengar. Meski keduanya mengerti Bahasa Inggris,tidak tertutup peluang telinga mereka tidak menangkap perkataan Clattenburg yang berlogat timur laut Inggris kental.Menurut Daily Mail,Clattenburg berkata “diam Mikel”. Tapi Luiz dan Ramires mendengarnya berbicara “diam monyet”. Sulit membuktikan siapa yang benar menyikapi perbedaan ucapan ini.
PGMO tidak segan mengambil langkah ini menyaksikan salah satu anggota mereka menjadi korban bulan-bulanan juara Eropa tersebut. Karier Clattenburg terancam berakhir menyusul keputusan Chelsea melaporkan namanya ke Football Association (FA). Ofisial berusia 37 tahun itu dipercaya menggunakan bahasa tidak patut ke John Obi Mikel dan Juan Mata pada duel Liga Primer kontra Manchester United (MU), akhir pekan lalu. Clattenburg juga diyakini mendapat teror fans yang kecewa dengan kepemimpinannya pada pertandingan yang berakhir 2-3 untuk kemenangan MU tersebut.
Serangan balik PGMO turut didasari perilaku Chelsea sebelumnya. Pada 2006, bek Ashley Cole menyebut wasit Graham Poll sengaja mengusir John Terry dan menganulir gol Didier Drogba pada laga melawan Tottenham Hotspur. Menurut Cole, Poll bertindak demikian karena Chelsea ”perlu diberi pelajaran”. Pernyataan Cole didukung Terry yang menilai Poll mengubah kesaksian terkait keputusan kartu merah yang ditujukan kepadanya. Terry merasa Poll mengambil langkah ini supaya kebijakannya tidak dipertanyakan otoritas.
FA kemudian menyelidiki kasus ini dan memutuskan Terry melancarkan tuduhan palsu. Terry akhirnya didenda 10.000 pounds. PGMO merasa blunder serupa kembali dilakukan Chelsea. Sebab,t idak ada bukti kuat Clattenburg menghina warna kulit Mikel dan ras Mata. Menurut laporan Daily Mail, tudingan itu baru muncul di kamar ganti seusai pertandingan.
Saat itu,emosi skuad asuhan Roberto di Matteo sedang tinggi akibat kepemimpinan kontroversial Clattenburg, yang mengusir Branislav Ivanovic dan Fernando Torres, serta mengesahkan gol Javier Hernandez, meski dicetak pada posisi offside dalam partai tersebut. Ramires dan David Luiz adalah pemain yang mengaku mendengar ejekan Clattenburg. Namun,Mikel dan Mata tidak mengetahuinya.
“Baik Mata dan Torres mengaku tidak menyadari hinaan Clattenburg.Saya juga tidak mengerti karena langsung pulang.Ucapan tersebut didengar pihak ketiga,”kata gelandang Oriol Romeu, dilansir Cope.
“Saya hanya tahu Chelsea sudah mengajukan keberatan. Saya yakin ini kasus serius. Di Inggris masalah rasisme begitu mendapat perhatian,” sambung sosok berusia 21 tahun tersebut.
Keyakinan PGMO ikut terbantu sikap Chelsea. Setelah mengadukan Clattenburg ke FA, The Blues memilih menggelar investigasi internal sebelum bertindak lebih lanjut. Mereka ingin memastikan memiliki bukti kuat demi mendukung tuduhan awal. Menurut Telegraph, 3-4 pemain Chelsea siap maju dan memberikan kesaksian. Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan Chelsea masih berlangsung. Namun,Chelsea telah memanggil pengacara untuk menentukan apakah patut maju atau mencabut gugatan.
Mereka cemas tidak memiliki dasar kuat menyusul terkuaknya kemungkinan terbaru. Ada skenario Luiz dan Ramires salah dengar. Meski keduanya mengerti Bahasa Inggris,tidak tertutup peluang telinga mereka tidak menangkap perkataan Clattenburg yang berlogat timur laut Inggris kental.Menurut Daily Mail,Clattenburg berkata “diam Mikel”. Tapi Luiz dan Ramires mendengarnya berbicara “diam monyet”. Sulit membuktikan siapa yang benar menyikapi perbedaan ucapan ini.
(akr)