Ini rahasia kesuksesan Ajax di Liga Champions 1995
Senin, 05 November 2012 - 05:42 WIB
Ini rahasia kesuksesan Ajax di Liga Champions 1995
A
A
A
Sindonews.com - Juru taktik Ajax Amsterdam, Frank de Boer, mengungkapkan pentingnya pembinaan usia dini yang ada di akademi sepakbola timnya untuk kembali mengangkat pamor tim asal Ibukota Belanda itu. Ia sadar betul bahwa kesuksesan Ajax saat menjuarai Liga Champions musim 1995 tak lepas dari peran para penggawa muda binaan de Godenzonen.
"Pembinaan. Kami banyak berinvestasi di akademi pemain muda. Semakin banyak, dalam masa krisis, kami menyadari bahwa itu adalah esensi dari Ajax. Ini telah berjalan dengan baik selama bertahun-tahun, dan selalu bisa menjadi lebih baik," bebernya mengenai rahasia kesuksesan Ajax pada musim 1995, seperti dikutip situs resmi UEFA, Minggu malam (4/11).
Selain itu, mantan pemain tim nasional Belanda tersebut juga mengungkapkan bahwa kunci utama pada saat itu berada di tim. Ajax memiliki pemain top, meskipun mereka tidak terlalu dikenal pada saat itu. "Kami adalah tim yang sangat bersatu dan saling mengenal dengan baik. Pemain kami tidak diambil setelah dua tahun, sehingga kami benar-benar bisa membangun sebuah tim yang tangguh dan pelatih Louis Van Gaal benar-benar bagus pada saat itu," jelas De Boer, yang menjadi salah satu penggawa Ajax saat meraih gelar Liga Champions 1995 dengan mengalahkan AC Milan 1-0.
Menurut saudara kembar Ronald de Boer itu, tim Ajax yang sekarang sangat mungkin bisa dibandingkan dengan tim Ajax musim 1995. Namun, katanya, untuk yang saat ini, Ajax bermain dengan dua gelandang penyerang dan satu pemain penyambung. "Tapi filsafatnya tetap sama: membuat segitiga di lapangan, teknik keunggulan numerik di lini tengah, dan menciptakan bahaya dari sektor tersebut."
Beberapa pemain muda yang saat ini banyak diharapkan oleh De Boer adalah Tobias Sana, Derk Boerrigter, dan Ricardo van Rhijn. "Penyerang sayap Tobias Sana, yang berasal dari Swedia, telah mengejutkan kami. Penyerang Derk Boerrigter masih muda tapi telah membuat kesan yang baik. Bek kanan Ricardo van Rhijn sepertinya sarat pengalaman, dia pun baru saja berhasil sampai ke tim pertama dan sudah menjadi bagian dari tim nasional Belanda," urai pelatih yang menangani Ajax sejak dua tahun lalu itu.
Sementara itu, saat berbicara tentang kiprah timnya di Grup D Liga Champions, sepertinya dia sangat kesal ketika banyak yang mengatakan bahwa kemenangan Ajax atas juara Inggris, Manchester City, adalah karena lawannya itu sedang bermain buruk. "Kami memperlihatkan apa yang ingin kami lakukan. Saya bosan orang mengatakan bahwa kemenangan kami itu karena lawan kami bermain buruk. Sebenarnya pemain kami lebih mendominasi. City tidak bisa menjawabnya," pungkas pelatih berusia 42 tahun itu.
"Pembinaan. Kami banyak berinvestasi di akademi pemain muda. Semakin banyak, dalam masa krisis, kami menyadari bahwa itu adalah esensi dari Ajax. Ini telah berjalan dengan baik selama bertahun-tahun, dan selalu bisa menjadi lebih baik," bebernya mengenai rahasia kesuksesan Ajax pada musim 1995, seperti dikutip situs resmi UEFA, Minggu malam (4/11).
Selain itu, mantan pemain tim nasional Belanda tersebut juga mengungkapkan bahwa kunci utama pada saat itu berada di tim. Ajax memiliki pemain top, meskipun mereka tidak terlalu dikenal pada saat itu. "Kami adalah tim yang sangat bersatu dan saling mengenal dengan baik. Pemain kami tidak diambil setelah dua tahun, sehingga kami benar-benar bisa membangun sebuah tim yang tangguh dan pelatih Louis Van Gaal benar-benar bagus pada saat itu," jelas De Boer, yang menjadi salah satu penggawa Ajax saat meraih gelar Liga Champions 1995 dengan mengalahkan AC Milan 1-0.
Menurut saudara kembar Ronald de Boer itu, tim Ajax yang sekarang sangat mungkin bisa dibandingkan dengan tim Ajax musim 1995. Namun, katanya, untuk yang saat ini, Ajax bermain dengan dua gelandang penyerang dan satu pemain penyambung. "Tapi filsafatnya tetap sama: membuat segitiga di lapangan, teknik keunggulan numerik di lini tengah, dan menciptakan bahaya dari sektor tersebut."
Beberapa pemain muda yang saat ini banyak diharapkan oleh De Boer adalah Tobias Sana, Derk Boerrigter, dan Ricardo van Rhijn. "Penyerang sayap Tobias Sana, yang berasal dari Swedia, telah mengejutkan kami. Penyerang Derk Boerrigter masih muda tapi telah membuat kesan yang baik. Bek kanan Ricardo van Rhijn sepertinya sarat pengalaman, dia pun baru saja berhasil sampai ke tim pertama dan sudah menjadi bagian dari tim nasional Belanda," urai pelatih yang menangani Ajax sejak dua tahun lalu itu.
Sementara itu, saat berbicara tentang kiprah timnya di Grup D Liga Champions, sepertinya dia sangat kesal ketika banyak yang mengatakan bahwa kemenangan Ajax atas juara Inggris, Manchester City, adalah karena lawannya itu sedang bermain buruk. "Kami memperlihatkan apa yang ingin kami lakukan. Saya bosan orang mengatakan bahwa kemenangan kami itu karena lawan kami bermain buruk. Sebenarnya pemain kami lebih mendominasi. City tidak bisa menjawabnya," pungkas pelatih berusia 42 tahun itu.
(nug)