Pordasi Jabar tuntut venue pacuan berkuda dibangun
Senin, 05 November 2012 - 22:55 WIB
Pordasi Jabar tuntut venue pacuan berkuda dibangun
A
A
A
Sindonews.com - Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Jabar meminta Pemerintah menyediakan tempat pacuan untuk cabor berkuda sebelum Sport Jabar di Arcamanik dibangun.
Ketua Pengda Pordasi Jabar, Agus W Santoso mengatakan bahwa dalam rakerda Pordasi 2012, Pordasi Jabar tidak akan sama sekali menghalang-halangi kebijakan Pemerintah dalam rangka merelokasi Arcamanik yang akan digunakan untuk lahan SPOrT Jabar. Dengan catatan ada lahan pengganti lapangan pacuan kuda yang bisa digunakan Pordasi ke depan.
''Berhubungan dengan relokasi arcamanik yang akan digunakan untuk lahan SPOrT Jabar, Pordasi Jabar mendukung kebijakan pemerintah dalam rangka pembangunan lahan Arcamanik. Karena untuk kepentingan umum dan menyongsong persiapan PON 2016 di mana Jabar menjadi tuan rumah. Asalkan dengan ketentuan yang jelas,” tegas Agus beberapa waktu lalu.
Namun, meskipun demikian, Agus juga menegaskan, sebelum membangun SPOrT Jabar di Arcamanik, Pemerintah harus terlebih dahulu membangun sarana berkuda sebagai pengganti peninggalan Pordasi sejak zaman dulu yang menghabiskan dana miliaran rupiah di Arcamanik.
"Dalam aturan juga jelas jangan sampati ada alih fungsi lahan sebelum sarana yang baru ada. Jadi kami minta pemerintah jangan membangun dulu Arcamanik sebelum sarana berkuda dibangun," tegasnya.
Untuk pembangunan sarana berkuda, kata Agus, sampai saat ini belum ada komunikasi yang menjurus pada keputusan. Disorda Jabar dinilai terkesan masih bertele-tele hingga sampai sekarang belum ada kepastian kapan dan dimana sarana berkuda akan dibangun.
Pordasi Jabar juga meminta kepada Disorda Jabar utnuk dilibatkan dalam memilih lokasi pengganti. Karena pihaknya harus mengkaji dan meneliti tempat dan posisi yang tepat dan cocok untuk kepentingan olahraga berkuda. Karena Pordasi merupakan organisasi yang diakui keberadaannya secara nasional.
"Harusnya Disorda duduk bersama dengan Pordasi untuk menyelesaikan masalah ini. Karenanya untuk pembuatan sarana, Pordasi juga harus dilibatkan," katanya.
Dengan tidak ada kepastian terkait sarana pengganti untuk berkuda ini, Agus menegaskan, hal itu mengganggu mental para atlet berkuda Jabar. Padahal mereka harus tetap berlatih untuk kesiapan Kejurda, Kejurnas maupun PON XIX 2016 yang akan berlangsung di Jabar. "Jelas ini mengganggu mental para atlet. Kita kan lagi menyiapkan atlet untuk kejurda, kejurnas dan lainnya," katanya.
Hal yang sama dikatakan Sekum Pordasi Jabar, Jejen Rusdiyana. Dengan tegas pihaknya menolak pembangunan Arcamanik kalau tidak ada sarana pengganti. Dia juga meminta Disorda melibatkan Pordasi dalam pembangunan sarana berkuda nanti karena secara teknis Pordasi lebih tahu.
"Dalam pembangunan sarana juga perlu diperhatikan faktor lingkungan, dan lainnya. Makanya Disorda harus melibatkan Pordasi," tegasnya.
Dalam penentuan lokasi pengganti sendiri, lanjut Jejen, hingga kini belum ada keseriusan dari Disorda Jabar. Bahkan ketika diminta memaparkan terkait Arcamanik dan sarana berkuda dalam Rakerda, mereka tidak datang. "Kita meminta memaparkan terkait hal itu saja tidak datang. Padahal harapan kami mereka datang hingga semuanya jelas," tegasnya.
Jejen juga menjelaskan bahwa tanah itu merupakan tanah Pemprov Jabar sesuai dengna sertifikat sebanyak 60 hektare yang ditempati Pordasi setelah sejak zaman dulu berpindah dari Tegal Lega, Bandung.
Ketua Pengda Pordasi Jabar, Agus W Santoso mengatakan bahwa dalam rakerda Pordasi 2012, Pordasi Jabar tidak akan sama sekali menghalang-halangi kebijakan Pemerintah dalam rangka merelokasi Arcamanik yang akan digunakan untuk lahan SPOrT Jabar. Dengan catatan ada lahan pengganti lapangan pacuan kuda yang bisa digunakan Pordasi ke depan.
''Berhubungan dengan relokasi arcamanik yang akan digunakan untuk lahan SPOrT Jabar, Pordasi Jabar mendukung kebijakan pemerintah dalam rangka pembangunan lahan Arcamanik. Karena untuk kepentingan umum dan menyongsong persiapan PON 2016 di mana Jabar menjadi tuan rumah. Asalkan dengan ketentuan yang jelas,” tegas Agus beberapa waktu lalu.
Namun, meskipun demikian, Agus juga menegaskan, sebelum membangun SPOrT Jabar di Arcamanik, Pemerintah harus terlebih dahulu membangun sarana berkuda sebagai pengganti peninggalan Pordasi sejak zaman dulu yang menghabiskan dana miliaran rupiah di Arcamanik.
"Dalam aturan juga jelas jangan sampati ada alih fungsi lahan sebelum sarana yang baru ada. Jadi kami minta pemerintah jangan membangun dulu Arcamanik sebelum sarana berkuda dibangun," tegasnya.
Untuk pembangunan sarana berkuda, kata Agus, sampai saat ini belum ada komunikasi yang menjurus pada keputusan. Disorda Jabar dinilai terkesan masih bertele-tele hingga sampai sekarang belum ada kepastian kapan dan dimana sarana berkuda akan dibangun.
Pordasi Jabar juga meminta kepada Disorda Jabar utnuk dilibatkan dalam memilih lokasi pengganti. Karena pihaknya harus mengkaji dan meneliti tempat dan posisi yang tepat dan cocok untuk kepentingan olahraga berkuda. Karena Pordasi merupakan organisasi yang diakui keberadaannya secara nasional.
"Harusnya Disorda duduk bersama dengan Pordasi untuk menyelesaikan masalah ini. Karenanya untuk pembuatan sarana, Pordasi juga harus dilibatkan," katanya.
Dengan tidak ada kepastian terkait sarana pengganti untuk berkuda ini, Agus menegaskan, hal itu mengganggu mental para atlet berkuda Jabar. Padahal mereka harus tetap berlatih untuk kesiapan Kejurda, Kejurnas maupun PON XIX 2016 yang akan berlangsung di Jabar. "Jelas ini mengganggu mental para atlet. Kita kan lagi menyiapkan atlet untuk kejurda, kejurnas dan lainnya," katanya.
Hal yang sama dikatakan Sekum Pordasi Jabar, Jejen Rusdiyana. Dengan tegas pihaknya menolak pembangunan Arcamanik kalau tidak ada sarana pengganti. Dia juga meminta Disorda melibatkan Pordasi dalam pembangunan sarana berkuda nanti karena secara teknis Pordasi lebih tahu.
"Dalam pembangunan sarana juga perlu diperhatikan faktor lingkungan, dan lainnya. Makanya Disorda harus melibatkan Pordasi," tegasnya.
Dalam penentuan lokasi pengganti sendiri, lanjut Jejen, hingga kini belum ada keseriusan dari Disorda Jabar. Bahkan ketika diminta memaparkan terkait Arcamanik dan sarana berkuda dalam Rakerda, mereka tidak datang. "Kita meminta memaparkan terkait hal itu saja tidak datang. Padahal harapan kami mereka datang hingga semuanya jelas," tegasnya.
Jejen juga menjelaskan bahwa tanah itu merupakan tanah Pemprov Jabar sesuai dengna sertifikat sebanyak 60 hektare yang ditempati Pordasi setelah sejak zaman dulu berpindah dari Tegal Lega, Bandung.
(aww)