Divisi Utama PSSI dihuni 'tim hantu'
Selasa, 13 November 2012 - 16:23 WIB
Divisi Utama PSSI dihuni 'tim hantu'
A
A
A
Sindonews.com —Divisi Utama (DU) PSSI kini diibaratkan sebagai kompetisi yang dihuni ‘tim hantu’. Sebutan itu muncul karena hampir semua klub yang berada di level ini tidak memiliki pemain satu pun setelah terminasi kontrak pada September lalu.
Di Jawa Timur, klub yang masuk kelompok ini adalah Persik Kediri, Madiun Putra FC, PSBI Blitar, Persewangi Banyuwangi, serta Persipro Bondowoso United. Dari semuanya, tak ada satu pun yang mempunyai pemain alias kosong melompong.
Sejumlah pihak menyatakan, baru kali inilah ada sebuah tim yang tidak memiliki pemain. Kendati nantinya tetap membangun ulang tim jelang kompetisi, namun situasi seperti sekarang membuat miris mereka yang masih berada di klub itu sendiri.
“Sekarang yang ada di tim cuma hantu, wong nggak ada pemainnya. Mungkin nanti kompetisinya juga diikuti tim hantu,” kelakar Asisten Pelatih Kiper Persik Kediri Andi Syukrian. Ia mengatakan ini situasi paling buruk yang dihadapi Persik Kediri sejak promosi ke Divisi Utama sepuluh tahun silam.
Dia juga sangat yakin klub lain mengalami nasib serupa, karena berada di bawah otoritas yang sama. Sejak terminasi kontrak, sama sekali tidak ada ikatan antara pemain dengan klub. “Ya ini klub tanpa pemain. Aneh tapi nyata,” ujar pria yang berstatus PNS di Pemkot Kediri ini.
Dugaan Syukrian benar adanya. Klub-klub DU lainnya juga kosong melompong tanpa pemain. Madiun Putra FC (MPFC) misalnya, tidak jelas bagaimana langkah ke depannya. Pelatih Hanafi malah berniat untuk mencari klub baru musim depan.
“Semuanya tidak jelas. Saya ini sedang coba mencari klub baru,” balasnya dalam pesan pendek. Padahal Hanafi musim lalu begitu antusias karena MPFC menjadi salah satu klub yang bergairah menatap Divisi Utama 2011-2012. Maklum, MPFC berstatus sebagai tim debutan.
Tapi hanya satu musim, semuanya menjadi berantakan. Krisis keuangan sekaligus hasil tidak memuaskan di Divisi Utama, membuat gairah MPFC turun drastis. Ujungnya, hingga kini belum ada rencana membangun tim karena tidak adanya dana.
Persipro Bondowoso United, PSBI Blitar, dan Persewangi, tak mau kalah menjadi ‘tim hantu’. Mereka sama sekali tidak memiliki pemain dan butuh modal lagi untuk membangun tim musim depan. Sialnya, kompetisi Divisi Utama juga belum jelas kapan digelar.
“Pemain banyak yang ikut turnamen tarkam. Mereka tak punya ikatan lagi dengan klub. Jadi memang bisa dikatakan klub sekarang tidak memiliki pemain alias kosong. Banyak sekali pengangguran sepakbola sekarang ini. Kasihan pemain,” ujar Putu Gede, staf pelatih Persipro.
Inilah gambaran klub profesional Indonesia. Sudah tidak mampu mencari sumber dana, krisis finansial berkepanjangan, sekaligus tidak memiliki pemain sama sekali. Wajar jika ada yang menyatakan sepakbola Indonesia belum siap lepas dari APBD
Di Jawa Timur, klub yang masuk kelompok ini adalah Persik Kediri, Madiun Putra FC, PSBI Blitar, Persewangi Banyuwangi, serta Persipro Bondowoso United. Dari semuanya, tak ada satu pun yang mempunyai pemain alias kosong melompong.
Sejumlah pihak menyatakan, baru kali inilah ada sebuah tim yang tidak memiliki pemain. Kendati nantinya tetap membangun ulang tim jelang kompetisi, namun situasi seperti sekarang membuat miris mereka yang masih berada di klub itu sendiri.
“Sekarang yang ada di tim cuma hantu, wong nggak ada pemainnya. Mungkin nanti kompetisinya juga diikuti tim hantu,” kelakar Asisten Pelatih Kiper Persik Kediri Andi Syukrian. Ia mengatakan ini situasi paling buruk yang dihadapi Persik Kediri sejak promosi ke Divisi Utama sepuluh tahun silam.
Dia juga sangat yakin klub lain mengalami nasib serupa, karena berada di bawah otoritas yang sama. Sejak terminasi kontrak, sama sekali tidak ada ikatan antara pemain dengan klub. “Ya ini klub tanpa pemain. Aneh tapi nyata,” ujar pria yang berstatus PNS di Pemkot Kediri ini.
Dugaan Syukrian benar adanya. Klub-klub DU lainnya juga kosong melompong tanpa pemain. Madiun Putra FC (MPFC) misalnya, tidak jelas bagaimana langkah ke depannya. Pelatih Hanafi malah berniat untuk mencari klub baru musim depan.
“Semuanya tidak jelas. Saya ini sedang coba mencari klub baru,” balasnya dalam pesan pendek. Padahal Hanafi musim lalu begitu antusias karena MPFC menjadi salah satu klub yang bergairah menatap Divisi Utama 2011-2012. Maklum, MPFC berstatus sebagai tim debutan.
Tapi hanya satu musim, semuanya menjadi berantakan. Krisis keuangan sekaligus hasil tidak memuaskan di Divisi Utama, membuat gairah MPFC turun drastis. Ujungnya, hingga kini belum ada rencana membangun tim karena tidak adanya dana.
Persipro Bondowoso United, PSBI Blitar, dan Persewangi, tak mau kalah menjadi ‘tim hantu’. Mereka sama sekali tidak memiliki pemain dan butuh modal lagi untuk membangun tim musim depan. Sialnya, kompetisi Divisi Utama juga belum jelas kapan digelar.
“Pemain banyak yang ikut turnamen tarkam. Mereka tak punya ikatan lagi dengan klub. Jadi memang bisa dikatakan klub sekarang tidak memiliki pemain alias kosong. Banyak sekali pengangguran sepakbola sekarang ini. Kasihan pemain,” ujar Putu Gede, staf pelatih Persipro.
Inilah gambaran klub profesional Indonesia. Sudah tidak mampu mencari sumber dana, krisis finansial berkepanjangan, sekaligus tidak memiliki pemain sama sekali. Wajar jika ada yang menyatakan sepakbola Indonesia belum siap lepas dari APBD
(wbs)