Musprovlub Jatim masih gelap
Rabu, 14 November 2012 - 22:32 WIB
Musprovlub Jatim masih gelap
A
A
A
Sindonews.com - Keseriusan KONI Jatim membenahi terpuruknya prestasi pasca gagal juara umum di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/Riau patut dipertanyakan. Salah satu buktinya, hingga kini agenda Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musprovlub) belum jelas kapan digelar.
Rencana awal, agenda Musprovlub untuk memilih ketua umum baru KONI Jatim akan digelar pada bulan depansebelum SK Ketua Umum Plt Erlangga Satriagung, habis pada 21 Desember mendatang. "Sampai sekarang belum kita tentunkan tanggal berapa, kita harapkan sebelum SK Plt habis sudah ada ketua umum baru, " ujar Ketua Harian KONI Jatim, Dhimam Abror.
Selain tidak ada kepastian kapan digelar, bursa ketua umum KONI Jatim juga masih sepi. Namun menurut Abror, sudah tidak mungkin lagi mempertahankan tradisi mengusung pejabat publik, baik gubernur maupun wakil gubernur karena bertentangan dengan UU Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) No 3 tahun 2005. "Meski pahit kenyataan itu harus kita terima, " ucapnya.
Yang pasti, Abror mengatakan di lingkungan KONI Jatim masih banyak figur alternatif sebagai calon ketua umum menggantikan posisi Saifullah Yusuf yang sudah non aktif dari KONI Jatim. Di antaranya La Nyalla Mattaliti, Erlangga Satriagung dan Seokarno Marsaid. "Masih ada Pak Nyalla, Pak Soekarno Marsaid maupun Pak Erlangga sendiri, " ujarnya.
Diakui Abror, dalam hal penantaan organisasi, Jatim memang tertinggal dari Jawa Barat. Sebab, Jabar sudah lebih dulu mentaati aturan sesuai UU SKN terkait larangan pejabat publik merangkap jabatan di KONI Jatim. "Di Jawa Barat, baik tingkat Konida maupun KONI Provinsi sudah tidak ada pejabat publik. Kita juga harus melakukan, suka atau tidak suka. Karena amandemen UU juga butuh proses lama, " ucapnya.
Dalam Musprovlub nanti, Abror juga berharap pengurus cabor maupun KONI Daerah bisa mengusulkan calon. "Masing-masing cabor juga bisa mengusulkan calonnya sendiri. Meski namanya Musproblub, namun saya rasa proses pemilihannya akan tetap sama dengan tatib di Musprov biasa, seperti minimal harus didukung berapa Pengrpov dan Konida, " ujarnya.
Anehnya, Abror berharap peserta Musprovlub tidak terlalu terfokus pada pemilihan figur ketua umum, meski menjadi agenda utama. "Ada yang lebih penting, termasuk kemungkinan melakukan pembahasan pergantian nama KONI menjadi KOP. Jika Raperda Olahraga disahkan sebelum Musprovlub digelar, nantinya Raperda itu juga akan kita bahas di sana, salah satunya pergantian nama KONI, " tandasnya.
Selain itu, lanjut Abror, dalam Musprovlub nanti juga akan mengevaluasi hasil PON XVIII/Riau. Kontingen Jatim sendiri gagal mempertahankan gelar juara umum dan terpuruk di posisi ketiga, "Evaluasi PON juga akan menjadi agenda pembahasan di Musprovlub, " tambahnya.
Terpisah beberapa cabor, sudah mulai mempertanyakan arah Musprovlub nanti. Sebab, ini akan menjadi langkah awal menyongsong PON XIX di Jabar 2019. "Kegagalan di PON, harus harus dipertanggungjawabkan dalam Musprovlub, jangan hanya cabor yang disalahkan, " ucap Wakil Ketua Pengprov PGI Jatim, Soejatmiko.
Ditegas Soejatmiko, salah satu faktor kegagalan Jatim menjadi juara umum di PON, karena buruknya kinerja pengurus KONI Jatim. Salah satunya dalam penggadan peralatan atlet, "Banyak peralatan atlet tidak sesuai yang diminta dan terlambat. Bukan hanya di golf di cabor lain juga terjadi. Ketua baru nanti, harus berani merombak kepengurusan KONI agar lebih baik," tegasnya.
Rencana awal, agenda Musprovlub untuk memilih ketua umum baru KONI Jatim akan digelar pada bulan depansebelum SK Ketua Umum Plt Erlangga Satriagung, habis pada 21 Desember mendatang. "Sampai sekarang belum kita tentunkan tanggal berapa, kita harapkan sebelum SK Plt habis sudah ada ketua umum baru, " ujar Ketua Harian KONI Jatim, Dhimam Abror.
Selain tidak ada kepastian kapan digelar, bursa ketua umum KONI Jatim juga masih sepi. Namun menurut Abror, sudah tidak mungkin lagi mempertahankan tradisi mengusung pejabat publik, baik gubernur maupun wakil gubernur karena bertentangan dengan UU Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) No 3 tahun 2005. "Meski pahit kenyataan itu harus kita terima, " ucapnya.
Yang pasti, Abror mengatakan di lingkungan KONI Jatim masih banyak figur alternatif sebagai calon ketua umum menggantikan posisi Saifullah Yusuf yang sudah non aktif dari KONI Jatim. Di antaranya La Nyalla Mattaliti, Erlangga Satriagung dan Seokarno Marsaid. "Masih ada Pak Nyalla, Pak Soekarno Marsaid maupun Pak Erlangga sendiri, " ujarnya.
Diakui Abror, dalam hal penantaan organisasi, Jatim memang tertinggal dari Jawa Barat. Sebab, Jabar sudah lebih dulu mentaati aturan sesuai UU SKN terkait larangan pejabat publik merangkap jabatan di KONI Jatim. "Di Jawa Barat, baik tingkat Konida maupun KONI Provinsi sudah tidak ada pejabat publik. Kita juga harus melakukan, suka atau tidak suka. Karena amandemen UU juga butuh proses lama, " ucapnya.
Dalam Musprovlub nanti, Abror juga berharap pengurus cabor maupun KONI Daerah bisa mengusulkan calon. "Masing-masing cabor juga bisa mengusulkan calonnya sendiri. Meski namanya Musproblub, namun saya rasa proses pemilihannya akan tetap sama dengan tatib di Musprov biasa, seperti minimal harus didukung berapa Pengrpov dan Konida, " ujarnya.
Anehnya, Abror berharap peserta Musprovlub tidak terlalu terfokus pada pemilihan figur ketua umum, meski menjadi agenda utama. "Ada yang lebih penting, termasuk kemungkinan melakukan pembahasan pergantian nama KONI menjadi KOP. Jika Raperda Olahraga disahkan sebelum Musprovlub digelar, nantinya Raperda itu juga akan kita bahas di sana, salah satunya pergantian nama KONI, " tandasnya.
Selain itu, lanjut Abror, dalam Musprovlub nanti juga akan mengevaluasi hasil PON XVIII/Riau. Kontingen Jatim sendiri gagal mempertahankan gelar juara umum dan terpuruk di posisi ketiga, "Evaluasi PON juga akan menjadi agenda pembahasan di Musprovlub, " tambahnya.
Terpisah beberapa cabor, sudah mulai mempertanyakan arah Musprovlub nanti. Sebab, ini akan menjadi langkah awal menyongsong PON XIX di Jabar 2019. "Kegagalan di PON, harus harus dipertanggungjawabkan dalam Musprovlub, jangan hanya cabor yang disalahkan, " ucap Wakil Ketua Pengprov PGI Jatim, Soejatmiko.
Ditegas Soejatmiko, salah satu faktor kegagalan Jatim menjadi juara umum di PON, karena buruknya kinerja pengurus KONI Jatim. Salah satunya dalam penggadan peralatan atlet, "Banyak peralatan atlet tidak sesuai yang diminta dan terlambat. Bukan hanya di golf di cabor lain juga terjadi. Ketua baru nanti, harus berani merombak kepengurusan KONI agar lebih baik," tegasnya.
(aww)