Zhong Zao, si miskin yang bermimpi juara dunia
Jum'at, 16 November 2012 - 23:30 WIB
Zhong Zao, si miskin yang bermimpi juara dunia
A
A
A
Sindonews.com - Petinju asal China, Xiong Zhong Zao, bercerita tentang masa lalunya kepada Fight News. Ia menuturkan bahwa sebelum menjadi petinju profesional, ia hanyalah seseorang yang hidup miskin. "Keluarga saya hanyalah seorang petani. Itu adalah kehidupan yang sangat miskin," kisahnya dengan raut sedih.
Tapi, menurut Zhong Zao, tinju merupakan cara hidup baru dan modern bagi dirinya. Ia pun merasa banyak berutang dengan promotornya, Liu Gang, yang juga mantan petinju China di Olimpiade 1992. "Gang telah banyak membantu saya. Dia telah memberikan saya tempat untuk tinggal di Kunming, dan membantu untuk membayar makanan saya, serta memberikan semua pelatihan tinju untuk saya," ungkap petinju kelahiran Wenshan, 3 Oktober 1982.
Selain Gang, Zhong Zao juga banyak dibantu oleh para pendukungnya termasuk orang-orang kaya Miao yang berada di Yunnan. "Di China kebanyakan orang kebangsaan Han. Saya dari kelompok minoritas Miao. Kami memiliki bahasa sendiri dan budaya yang berbeda dari Han," jelasnya.
"Terkadang itu sangat sulit. Terkadang saya tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan dan saya telah kehilangan kontak dengan keluarga saya. Itu benar-benar sangat berat. Kelompok tinju lainnya menginginkan saya untuk meninggalkan Gang dan bergabung dengan mereka, tapi saya tetap tinggal bersama Gang. Kelompok lainnya datang dan pergi tetapi Gang selalu ada untuk saya."
Tapi, menurut Zhong Zao, tinju merupakan cara hidup baru dan modern bagi dirinya. Ia pun merasa banyak berutang dengan promotornya, Liu Gang, yang juga mantan petinju China di Olimpiade 1992. "Gang telah banyak membantu saya. Dia telah memberikan saya tempat untuk tinggal di Kunming, dan membantu untuk membayar makanan saya, serta memberikan semua pelatihan tinju untuk saya," ungkap petinju kelahiran Wenshan, 3 Oktober 1982.
Selain Gang, Zhong Zao juga banyak dibantu oleh para pendukungnya termasuk orang-orang kaya Miao yang berada di Yunnan. "Di China kebanyakan orang kebangsaan Han. Saya dari kelompok minoritas Miao. Kami memiliki bahasa sendiri dan budaya yang berbeda dari Han," jelasnya.
"Terkadang itu sangat sulit. Terkadang saya tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan dan saya telah kehilangan kontak dengan keluarga saya. Itu benar-benar sangat berat. Kelompok tinju lainnya menginginkan saya untuk meninggalkan Gang dan bergabung dengan mereka, tapi saya tetap tinggal bersama Gang. Kelompok lainnya datang dan pergi tetapi Gang selalu ada untuk saya."
(nug)