KONI Bandung gerah pembajakan atlet
Selasa, 20 November 2012 - 23:53 WIB
KONI Bandung gerah pembajakan atlet
A
A
A
Sindonews.com - Pembajakan atlet binaan suatu daerah oleh daerah lain hampir selalu menjadi masalah utama menjelang even olahraga besar. Tidak terkecuali dengan ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) XII Jawa Barat 2014.
Meski even bergengsi tingkat provinsi itu baru digelar dua tahun mendatang, berbagai indikasi pencomotan atlet yang dilakukan beberapa Kota dan Kabupaten mulai muncul. Bahkan Kota Bandung sebagai salah satu peserta unggulan di setiap Porda mengaku terganggu dengan fenomena tersebut.
''Tentu kenyamanan kami terganggu dengan adanya daerah lain yang berniat mengambil atlet kami, termasuk untuk ajang Porda ini. Kami sudah capek-capek membina dari awal melalui cabang olahraga masing-masing, dan itu dibiayai oleh pemerintah Kota Bandung. Tahu-tahu sekarang sudah berprestasi dan meraih medali, banyak daerah lain yang secara tidak etis mengiming-imingi atlet kami untuk pindah daerah,” tutur Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bandung Aan Johana, di kantornya, Jalan Jakarta, Kota Bandung.
Aan menyebutkan, hingga kini beberapa daerah di Jawa Barat mulai melakukan berbagai langkah pendekatan terhadap atletnya. Meski jumlah atlet yang diincar belum terlalu banyak, namun mereka merupakan atlet yang berpotensi meraih medali emas dalam jumlah yang signifikan.
''Data sementara yang kami peroleh, memang jumlah atletnya tidak terlalu banyak. Tapi memang pencomotan selalu begitu. Mengincar atlet hanya beberapa orang, tapi mereka adalah atlet-atlet yang bisa meraih dua atau tiga emas. Bahkan pada Porda sebelumnya, ada satu orang atlet yang bisa meraih emas hingga enam medali. Jadi kalau asumsinya satu atlet yang dicomot itu bisa sumbang lima emas, tiga atlet saja yang lepas, kami sudah kehilangan lima belas emas,” kata Aan.
Karena itu, para atlet yang menjadi sasaran pencomotan mayoritas berasal dari nomor perorangan. Itu pun tidak merata di semua cabang olahraga, terdapat beberapa cabang yang hampir selalu kental dengan perpindahan atlet, diantaranya renang dan atletik. ''Pencomotan itu tidak akan mengambil atlet beregu, karena itu merupakan langkah yang percuma,” ungkap Aan.
KONI Kota Bandung mengaku siap mengambil langkah apa pun untuk mencegah pembajakan atlet tersebut. Karena berdasarkan pengalaman pada Porda 2010 lalu, dua hingga tiga atlet Kota Bandung yang terambil daerah lain, ternyata cukup berpengaruh pada kinerja kontingen cabang olahraga bersangkutan. Baik efek perolehan medali ataupun mental atlet-atlet yang membela Kota Bandung.
''Kalaupun mencetak atlet baru yang berprestasi, kami yakin mampu. Apa lagi penerus para atlet yang sekarang berprestasi pun ternyata memiliki potensi yang tidak kalah bagus. Tapi kan yang namanya pencomotan atlet, apa lagi tidak sesuai prosedur, itu sangat disayangkan. Tidak usah lah memakai atlet yang sudah jadi, kenapa kita semua (peserta Porda) tidak melakukan pembinaan saja dari awal, kemudian hasil binaan itu kita benar-benar pertandingkan di even-even olahraga termasuk Porda,” pungkas Aan.
Meski even bergengsi tingkat provinsi itu baru digelar dua tahun mendatang, berbagai indikasi pencomotan atlet yang dilakukan beberapa Kota dan Kabupaten mulai muncul. Bahkan Kota Bandung sebagai salah satu peserta unggulan di setiap Porda mengaku terganggu dengan fenomena tersebut.
''Tentu kenyamanan kami terganggu dengan adanya daerah lain yang berniat mengambil atlet kami, termasuk untuk ajang Porda ini. Kami sudah capek-capek membina dari awal melalui cabang olahraga masing-masing, dan itu dibiayai oleh pemerintah Kota Bandung. Tahu-tahu sekarang sudah berprestasi dan meraih medali, banyak daerah lain yang secara tidak etis mengiming-imingi atlet kami untuk pindah daerah,” tutur Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bandung Aan Johana, di kantornya, Jalan Jakarta, Kota Bandung.
Aan menyebutkan, hingga kini beberapa daerah di Jawa Barat mulai melakukan berbagai langkah pendekatan terhadap atletnya. Meski jumlah atlet yang diincar belum terlalu banyak, namun mereka merupakan atlet yang berpotensi meraih medali emas dalam jumlah yang signifikan.
''Data sementara yang kami peroleh, memang jumlah atletnya tidak terlalu banyak. Tapi memang pencomotan selalu begitu. Mengincar atlet hanya beberapa orang, tapi mereka adalah atlet-atlet yang bisa meraih dua atau tiga emas. Bahkan pada Porda sebelumnya, ada satu orang atlet yang bisa meraih emas hingga enam medali. Jadi kalau asumsinya satu atlet yang dicomot itu bisa sumbang lima emas, tiga atlet saja yang lepas, kami sudah kehilangan lima belas emas,” kata Aan.
Karena itu, para atlet yang menjadi sasaran pencomotan mayoritas berasal dari nomor perorangan. Itu pun tidak merata di semua cabang olahraga, terdapat beberapa cabang yang hampir selalu kental dengan perpindahan atlet, diantaranya renang dan atletik. ''Pencomotan itu tidak akan mengambil atlet beregu, karena itu merupakan langkah yang percuma,” ungkap Aan.
KONI Kota Bandung mengaku siap mengambil langkah apa pun untuk mencegah pembajakan atlet tersebut. Karena berdasarkan pengalaman pada Porda 2010 lalu, dua hingga tiga atlet Kota Bandung yang terambil daerah lain, ternyata cukup berpengaruh pada kinerja kontingen cabang olahraga bersangkutan. Baik efek perolehan medali ataupun mental atlet-atlet yang membela Kota Bandung.
''Kalaupun mencetak atlet baru yang berprestasi, kami yakin mampu. Apa lagi penerus para atlet yang sekarang berprestasi pun ternyata memiliki potensi yang tidak kalah bagus. Tapi kan yang namanya pencomotan atlet, apa lagi tidak sesuai prosedur, itu sangat disayangkan. Tidak usah lah memakai atlet yang sudah jadi, kenapa kita semua (peserta Porda) tidak melakukan pembinaan saja dari awal, kemudian hasil binaan itu kita benar-benar pertandingkan di even-even olahraga termasuk Porda,” pungkas Aan.
(aww)