Pemain tak digaji segera lapor ke FIFA
Sabtu, 08 Desember 2012 - 01:40 WIB
Pemain tak digaji segera lapor ke FIFA
A
A
A
Sindonews.com - Persoalan gaji pemain telat tengah melanda beberapa klub di Indonesia. Akibatnya, Diego Mendieta yang dalam keadaan sakit, meninggal dunia karena tidak mempunyai biaya berobat. Pasalnya, klub Persis Solo versi PT Liga Indonesia belum membayarkan gajinya.
Dalam situs resminya, Sekjen FIFPro Divisi Asia Frederique Winia sangat menyesalkan kejadian yang dialami Diego Mendieta. Menurutnya FIFPro telah mendapatkan laporan dari Asosiasi Pesepak bola Profesional Indonesia (APPI) mengenai pemain yang gajinya tak dibayar oleh klub-klub mereka (Indonesia) dan harus menunggu sampai berbulan-bulan.
"FIFPro mengimbau jika ada pemain yang tak digaji segera mengadu ke FIFA. Kalau kasusnya sudah ke FIFA, biasanya bisa berimplikasi pada pengurangan poin atau paling berat didegradasi.," tuturnya.
Sementara itu, General Manajer APPI Valentino Simanjuntak menyatakan setuju dengan apa yang diingini FIFPro. Tujuannya untuk melindungi pemain dari ketidakprofesionalan klub dalam memberikan haknya. Dia menginginkan kontrol keuangan jauh lebih ketat.
''Tanpa kesiapan finansial, mustahil klub-klub bisa memberikan jaminan kepada pemain. Jadi klub harus memadai dari sisi keuangan sebelum ikut kompetisi,” ujar Valentino.
Pemain-pemain direkrut tanpa langsung disodori klausul kontrak. Tak heran jika banyak pemain sudah berlatih tapi belum ada ikatan resmi dengan klubnya. Hingga naskah ini ditulis, klub yang sudah memiliki modal memadai untuk kompetisi bisa dihitung dengan jari.
Dalam situs resminya, Sekjen FIFPro Divisi Asia Frederique Winia sangat menyesalkan kejadian yang dialami Diego Mendieta. Menurutnya FIFPro telah mendapatkan laporan dari Asosiasi Pesepak bola Profesional Indonesia (APPI) mengenai pemain yang gajinya tak dibayar oleh klub-klub mereka (Indonesia) dan harus menunggu sampai berbulan-bulan.
"FIFPro mengimbau jika ada pemain yang tak digaji segera mengadu ke FIFA. Kalau kasusnya sudah ke FIFA, biasanya bisa berimplikasi pada pengurangan poin atau paling berat didegradasi.," tuturnya.
Sementara itu, General Manajer APPI Valentino Simanjuntak menyatakan setuju dengan apa yang diingini FIFPro. Tujuannya untuk melindungi pemain dari ketidakprofesionalan klub dalam memberikan haknya. Dia menginginkan kontrol keuangan jauh lebih ketat.
''Tanpa kesiapan finansial, mustahil klub-klub bisa memberikan jaminan kepada pemain. Jadi klub harus memadai dari sisi keuangan sebelum ikut kompetisi,” ujar Valentino.
Pemain-pemain direkrut tanpa langsung disodori klausul kontrak. Tak heran jika banyak pemain sudah berlatih tapi belum ada ikatan resmi dengan klubnya. Hingga naskah ini ditulis, klub yang sudah memiliki modal memadai untuk kompetisi bisa dihitung dengan jari.
(wbs)