Di tengah konflik PSSI-KPSI, Simon pilih fokus ke tim
Kamis, 13 Desember 2012 - 14:56 WIB
Di tengah konflik PSSI-KPSI, Simon pilih fokus ke tim
A
A
A
Sindonews.com - Kondisi persepakbolaan nasional yang kian tak menentu, membuat Pelita Bandung Raya cemas. Bahkan, sebagai klub yang baru akan berkiprah di ajang Indonesia Super League (ISL), tim ini mungkin memiliki kekhawatiran lebih. Mendambakan iklim kompetisi yang lebih sehat dan profesional, pelatih Pelita Bandung Raya Simon McMenemy pun angkat bicara.
Menurutnya, PSSI dan semua pengambil kebijakan di dunia sepak bola Indonesia harus lebih mendengarkan instruksi FIFA. Karena, bagaimanapun, organisasi tersebut merupakan induk federasi sepak bola di dunia. Mereka memiliki kewenangan untuk menghukum persepakbolaan suatu negara. Jika sanksi diberikan pada Indonesia, tentu pembinaan atlet di negeri ini yang menjadi korban. "Membicarakan konflik PSSI dengan KPSI, hanya membuat saya kesal. Dan untuk membicarakannya, mungkin seharian penuh tidak akan selesai," ujar pelatih berkewarganegaraan Inggris tersebut.
Efek negatif dualisme liga dan kepengurusan sepakbola di Indonesia, ujar Simon, sudah terlihat dari kasus meninggalnya Diego Mendieta beberapa waktu lalu. Menurutnya, konflik tersebut membuat klub-klub sepakbola di Tanah Air terlarut dengan ketegangan yang ada. Sehingga profesionalisme dan kepedulian terhadap pemain tidak terpikirkan. "Sangat menyedihkan ketika tokoh-tokoh sepakbola negeri ini terlalu peduli dengan diri mereka sendiri. Sehingga klub-klub yang tidak punya uang pun dibiarkan. Saya tidak mengerti ketika ada sebuah klub yang masih menunggak gaji pemain, tapi sudah mencari pemain baru untuk musim selanjutnya. Akibatnya, ya seperti kasus Diego," jelas Simon.
Dia berharap, kasus serupa yang menimpa mantan pemain Persis Solo itu tidak terulang kembali di masa mendatang. Hal ini harus menjadi pelajaran bagi para pengurus sepak bola Indonesia untuk segera mengakhiri konflik. "Diego beberapa bulan tak digaji, setelah meninggal, tiga hari kemudian gaji baru keluar. Apakah harus meninggal dulu agar gaji dibayar?" kata mantan arsitek Timnas Filipina itu dengan nada tanya.
Meski menghadapi berbagai masalah di persepakbolaan nasional, sebagai pelatih, Simon memilih tidak mempedulikannya. Menurutnya, berbagai masalah kepengurusan olahraga di Indonesia merupakan hal biasa. Sehingga Simon beserta semua pemain dan manajemen Pelita Bandung Raya sudah siap dengan hambatan apa pun saat mengarungi liga nanti. "Kondisi Ini sudah biasa sepertinya, di Indonesia tidak ada yang 100 persen pasti, termasuk aturan. Tapi saya harap PSSI bisa menjadi contoh bagi klub-klub di Indonesia. Tentu akan sangat sulit bagi sebuah tim untuk berkiprah jika federasinya sendiri sedang dalam masalah," tutur pelatih berusia 34 tahun itu.
Di tengah berbagai problema persepakbolaan nasional, sang pelatih mengaku tetap akan total meracik komposisi skuad PBR yang dihuni Eka Ramdani dkk. Dia pun siap menjadi figur percontohan bagi semua anak asuhnya. "Yang saya pikirkan saat ini hanyalah membina pemain. Federasi harus menjadi contoh bagi klub-klub di bawahnya. Dan saya pun akan berusaha menjadi figur percontohan bagi para pemain saya," tutupnya.
Menurutnya, PSSI dan semua pengambil kebijakan di dunia sepak bola Indonesia harus lebih mendengarkan instruksi FIFA. Karena, bagaimanapun, organisasi tersebut merupakan induk federasi sepak bola di dunia. Mereka memiliki kewenangan untuk menghukum persepakbolaan suatu negara. Jika sanksi diberikan pada Indonesia, tentu pembinaan atlet di negeri ini yang menjadi korban. "Membicarakan konflik PSSI dengan KPSI, hanya membuat saya kesal. Dan untuk membicarakannya, mungkin seharian penuh tidak akan selesai," ujar pelatih berkewarganegaraan Inggris tersebut.
Efek negatif dualisme liga dan kepengurusan sepakbola di Indonesia, ujar Simon, sudah terlihat dari kasus meninggalnya Diego Mendieta beberapa waktu lalu. Menurutnya, konflik tersebut membuat klub-klub sepakbola di Tanah Air terlarut dengan ketegangan yang ada. Sehingga profesionalisme dan kepedulian terhadap pemain tidak terpikirkan. "Sangat menyedihkan ketika tokoh-tokoh sepakbola negeri ini terlalu peduli dengan diri mereka sendiri. Sehingga klub-klub yang tidak punya uang pun dibiarkan. Saya tidak mengerti ketika ada sebuah klub yang masih menunggak gaji pemain, tapi sudah mencari pemain baru untuk musim selanjutnya. Akibatnya, ya seperti kasus Diego," jelas Simon.
Dia berharap, kasus serupa yang menimpa mantan pemain Persis Solo itu tidak terulang kembali di masa mendatang. Hal ini harus menjadi pelajaran bagi para pengurus sepak bola Indonesia untuk segera mengakhiri konflik. "Diego beberapa bulan tak digaji, setelah meninggal, tiga hari kemudian gaji baru keluar. Apakah harus meninggal dulu agar gaji dibayar?" kata mantan arsitek Timnas Filipina itu dengan nada tanya.
Meski menghadapi berbagai masalah di persepakbolaan nasional, sebagai pelatih, Simon memilih tidak mempedulikannya. Menurutnya, berbagai masalah kepengurusan olahraga di Indonesia merupakan hal biasa. Sehingga Simon beserta semua pemain dan manajemen Pelita Bandung Raya sudah siap dengan hambatan apa pun saat mengarungi liga nanti. "Kondisi Ini sudah biasa sepertinya, di Indonesia tidak ada yang 100 persen pasti, termasuk aturan. Tapi saya harap PSSI bisa menjadi contoh bagi klub-klub di Indonesia. Tentu akan sangat sulit bagi sebuah tim untuk berkiprah jika federasinya sendiri sedang dalam masalah," tutur pelatih berusia 34 tahun itu.
Di tengah berbagai problema persepakbolaan nasional, sang pelatih mengaku tetap akan total meracik komposisi skuad PBR yang dihuni Eka Ramdani dkk. Dia pun siap menjadi figur percontohan bagi semua anak asuhnya. "Yang saya pikirkan saat ini hanyalah membina pemain. Federasi harus menjadi contoh bagi klub-klub di bawahnya. Dan saya pun akan berusaha menjadi figur percontohan bagi para pemain saya," tutupnya.
(nug)