Pemain asing Persiba Bantul dilanda kegalauan
Rabu, 19 Desember 2012 - 13:03 WIB
Pemain asing Persiba Bantul dilanda kegalauan
A
A
A
Sindonews.com - FIFA menunda mengetok palu sanksi untuk sepak bola nasional. Itu membuat legiun asing yang berlaga di kompetisi Indonesia bimbang. Hal ini juga berlaku untuk pemain impor milik Persiba Bantul.
Sekretaris Persiba Wikan Werdo Kisworo mengatakan, sanksi untuk PSSI yang ditunda sampai Maret mendatang, justru membuat skuad impor Tim Laskar Sultan Agung galau. Kegalauan Ezequiel Gonzalez dkk disebabkan dapat atau tidaknya sanksi diketuk untuk PSSI itu sebulan setelah Kompetisi Indonesia Premier League (IPL) yang diikuti Persiba dihelat 9 Februari.
"Siapa yang bisa memberi garansi, Indonesia terbebas dari sanksi FIFA? Ditundanya sanksi pada Maret itu justru membuat pemain asing Persiba galau, karena kompetisi IPL digelar Februari. Kalau kompetisi IPL sudah berjalan, lalu sanksi FIFA turun, otomatis pemain asing ini akhirnya menjadi pengangguran," jelas Wikan.
Dia menjelaskan, jika sepak bola nasional di-banned FIFA, maka pemain asing kelimpungan. Sanksi itu juga membuat tidak adanya transfer window untuk pemain asing, baik impor atau impor dari negara yang terkena sanksi. "Itulah yang membuat pemain asing Persiba galau," imbuhnya.
Persiba pun juga tidak ingin buru-buru mengontrak pemain asing. Tim kebanggaan publik Bantul ini tidak ingin dirugikan.
"Kontrak pemain berlaku satu musim. Taruhlah kompetisi baru berjalan satu bulan, lalu sanksi FIFA turun. Otomatis pemain asing tidak diizinkan bermain. Jelas kita keberatan mengontrak pemain asing dengan gaji satu musim kalau pemain hanya bermain satu-dua bulan. Itu sama halnya membayar pengangguran," jelas Wikan.
Solusi yang rasional agar tim dan pemain asing tidak dirugikan, salah satunya dengan kebijakan layaknya terminasi. Tim membayar gaji pemain asing selama bermain. Jika kompetisi Indonesia di-banned, tim tidak membayar pemain asing. "Keputusan ada di tangan pemain asing, kalau bersedia ayo berjalan bersama. Kalau tidak setuju, ya gimana lagi," ungkapnya.
Wikan mengakui sebenarnya tidak ingin berandai-andai soal itu. Namun, langkah antisipatif tetap harus disiapkan agar tidak ada pihak yang dirugikan. "Kalau kita (sepak bola Indonesia) terhindar dari sanksi tidak masalah. Tapi kalau ternyata terkena sanksi, maka antisipasi juga perlu disiapkan," ujarnya.
Sekretaris Persiba Wikan Werdo Kisworo mengatakan, sanksi untuk PSSI yang ditunda sampai Maret mendatang, justru membuat skuad impor Tim Laskar Sultan Agung galau. Kegalauan Ezequiel Gonzalez dkk disebabkan dapat atau tidaknya sanksi diketuk untuk PSSI itu sebulan setelah Kompetisi Indonesia Premier League (IPL) yang diikuti Persiba dihelat 9 Februari.
"Siapa yang bisa memberi garansi, Indonesia terbebas dari sanksi FIFA? Ditundanya sanksi pada Maret itu justru membuat pemain asing Persiba galau, karena kompetisi IPL digelar Februari. Kalau kompetisi IPL sudah berjalan, lalu sanksi FIFA turun, otomatis pemain asing ini akhirnya menjadi pengangguran," jelas Wikan.
Dia menjelaskan, jika sepak bola nasional di-banned FIFA, maka pemain asing kelimpungan. Sanksi itu juga membuat tidak adanya transfer window untuk pemain asing, baik impor atau impor dari negara yang terkena sanksi. "Itulah yang membuat pemain asing Persiba galau," imbuhnya.
Persiba pun juga tidak ingin buru-buru mengontrak pemain asing. Tim kebanggaan publik Bantul ini tidak ingin dirugikan.
"Kontrak pemain berlaku satu musim. Taruhlah kompetisi baru berjalan satu bulan, lalu sanksi FIFA turun. Otomatis pemain asing tidak diizinkan bermain. Jelas kita keberatan mengontrak pemain asing dengan gaji satu musim kalau pemain hanya bermain satu-dua bulan. Itu sama halnya membayar pengangguran," jelas Wikan.
Solusi yang rasional agar tim dan pemain asing tidak dirugikan, salah satunya dengan kebijakan layaknya terminasi. Tim membayar gaji pemain asing selama bermain. Jika kompetisi Indonesia di-banned, tim tidak membayar pemain asing. "Keputusan ada di tangan pemain asing, kalau bersedia ayo berjalan bersama. Kalau tidak setuju, ya gimana lagi," ungkapnya.
Wikan mengakui sebenarnya tidak ingin berandai-andai soal itu. Namun, langkah antisipatif tetap harus disiapkan agar tidak ada pihak yang dirugikan. "Kalau kita (sepak bola Indonesia) terhindar dari sanksi tidak masalah. Tapi kalau ternyata terkena sanksi, maka antisipasi juga perlu disiapkan," ujarnya.
(aww)