Eh, Sir Alex jadi dosen Harvard
Rabu, 19 Desember 2012 - 19:21 WIB
Eh, Sir Alex jadi dosen Harvard
A
A
A
Sindonews.com – Ada agenda menarik yang dijalani pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson selama liburannya di Amerika Serikat. Pelatih berusia 70 tahun itu menjadi dosen tamu di Harvard Bussiness School di Boston.
Pada kesempatan itu ia menceritakan kunci suksesnya menangani The Red Devils selama 26 tahun. Tak hanya itu, Ferguson atau yang akrab disapa Fergie itu juga menerangkan bagaimana ia menyiapkan sebuah tim sebelum pertandingan dan mengubah gaya permainan secara cepat.
Ia mengaku gaya permainan yang diterapkan kepada timnya terinspirasi oleh seorang penyanyi opera bernama Andrea Bocelli. Saat menyaksikan opera tersebut, Fergie kagum dengan kerja sama yang dilakukan antar pemain opera. Karena itu, ia menilai sebuah tim sepak bola layaknya opera yang menuntut kerja sama tim.
"Saya ingin menceritakan kisah yang berbeda dengan menggunakan imajinasi saya. Tapi pada umumnya, ini adalah tentang harapan, kepercayaan dalam diri mereka, dan kepercayaan mereka terhadap satu sama lain,” ungkap Fergie seperti dikutip Daily Mail, Rabu (19/12/2012).
“Saya ingat sewaktu pergi untuk melihat penyanyi opera, Andrea Bocelli. Sebelumnya saya belum pernah ke konser klasik selama hidup saya, tapi saat menonton saya berpikir mengenai koordinasi dan kerja sama tim. Ada yang mulai dan ada yang berhenti. Itu sangat fantastis,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut Fergie menjelaskan mengenai ‘hairdryer treatment” yang kerap ia lakukan kepada skuadnya. Gaya tersebut merupakan amarah Fergie kepada pemain yang ia anggap tak tampil maksimal.
“Saat ini pemain lebih terlindungi, sehingga mereka mudah rapuh dibandingkan pemain pada 25 tahun yang lalu.Saya sangat agresif beberapa tahun yang lalu. Saya sangat bergairah untuk selalu menang sepanjang waktu.
“Sekarang saya lebih bagus saat menangani pemain yang mudah rapuh. Di sana selalu ada hairdryer. Anda tak bisa datang dengan marah dan berteriak-teriak, itu tidak bekerja. Tapi ada sisi lain dari itu, di mana anda bisa menjalin hubungan dengan orang-orang dan mengembangkan tim selama bertahun-tahun,” pungkasnya.
Pada kesempatan itu ia menceritakan kunci suksesnya menangani The Red Devils selama 26 tahun. Tak hanya itu, Ferguson atau yang akrab disapa Fergie itu juga menerangkan bagaimana ia menyiapkan sebuah tim sebelum pertandingan dan mengubah gaya permainan secara cepat.
Ia mengaku gaya permainan yang diterapkan kepada timnya terinspirasi oleh seorang penyanyi opera bernama Andrea Bocelli. Saat menyaksikan opera tersebut, Fergie kagum dengan kerja sama yang dilakukan antar pemain opera. Karena itu, ia menilai sebuah tim sepak bola layaknya opera yang menuntut kerja sama tim.
"Saya ingin menceritakan kisah yang berbeda dengan menggunakan imajinasi saya. Tapi pada umumnya, ini adalah tentang harapan, kepercayaan dalam diri mereka, dan kepercayaan mereka terhadap satu sama lain,” ungkap Fergie seperti dikutip Daily Mail, Rabu (19/12/2012).
“Saya ingat sewaktu pergi untuk melihat penyanyi opera, Andrea Bocelli. Sebelumnya saya belum pernah ke konser klasik selama hidup saya, tapi saat menonton saya berpikir mengenai koordinasi dan kerja sama tim. Ada yang mulai dan ada yang berhenti. Itu sangat fantastis,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut Fergie menjelaskan mengenai ‘hairdryer treatment” yang kerap ia lakukan kepada skuadnya. Gaya tersebut merupakan amarah Fergie kepada pemain yang ia anggap tak tampil maksimal.
“Saat ini pemain lebih terlindungi, sehingga mereka mudah rapuh dibandingkan pemain pada 25 tahun yang lalu.Saya sangat agresif beberapa tahun yang lalu. Saya sangat bergairah untuk selalu menang sepanjang waktu.
“Sekarang saya lebih bagus saat menangani pemain yang mudah rapuh. Di sana selalu ada hairdryer. Anda tak bisa datang dengan marah dan berteriak-teriak, itu tidak bekerja. Tapi ada sisi lain dari itu, di mana anda bisa menjalin hubungan dengan orang-orang dan mengembangkan tim selama bertahun-tahun,” pungkasnya.
(aww)