Clinton Woods merasa frustrasi jadi pelatih
Selasa, 25 Desember 2012 - 02:18 WIB
Clinton Woods merasa frustrasi jadi pelatih
A
A
A
Sindonews.com - Mantan juara dunia kelas berat ringan asal Inggris, Clinton Woods mengakui bahwa sebenarnya dirinya tdak terlalu menyukai pekerjaan sebagai pelatih, setelah memutuskan untuk gantung sarung tinju. "Saya membencinya. Setiap menitnya," tegasnya kepada The Star Sheffield, Senin (24/12) waktu setempat.
Sebagai pelatih, Woods merasa benar-benar tidak bisa jauh dari tinju, justru ia menghabiskan lebih banyak waktu di dalam gym saat menjadi pelatih dibanding ketika masih aktif sebagai petinju profesional. "Saya tidak tahu apa yang merasukiku pada malam pertarungan, tapi saya benci mereka dan semua orang yang melihat saya. Saya pikir itu begitu sangat menyengsarakan."
Pensiunan tinju berusia 40 tahun itu merasa selalu gagal menikmati malam pertarungan sebagai seorang pelatih, sehingga itu membuatnya semakin dan selalu kecewa. Woods sendiri telah bekerja dengan sejumlah petarung, termasuk petinju kelas menengah yang memiliki prospek bagus, Liam Cameron, yang memutuskan pindah gym. "Para petinju sedikit kecewa tapi ini adalah hidup saya dan saya tidak ingin bekerja pada waktu hari yang tidak cocok untukku," terangnya.
"Saya tidak tahu mengapa pelatihan profesional tidak cocok untukku, tetapi tidak ketika membawa anak-anak melaluinya, itu hebat. Itu suasana yang jauh lebih santai dan itulah apa yang saya cari."
"Good luck buat Liam, saya berharap dia semakin bagus. Saya pikir dia telah mendapat apa yang diperlukan untuk menjadi juara. Saya yakin dia telah mendapat tim yang tepat di belakangnya, dan dapat menghabiskan wakyu untuknya, yang sebelumnya tidak dia dapatkan dariku," tuturnya mengenai kepindahan Cameron.
Sebagai pelatih, Woods merasa benar-benar tidak bisa jauh dari tinju, justru ia menghabiskan lebih banyak waktu di dalam gym saat menjadi pelatih dibanding ketika masih aktif sebagai petinju profesional. "Saya tidak tahu apa yang merasukiku pada malam pertarungan, tapi saya benci mereka dan semua orang yang melihat saya. Saya pikir itu begitu sangat menyengsarakan."
Pensiunan tinju berusia 40 tahun itu merasa selalu gagal menikmati malam pertarungan sebagai seorang pelatih, sehingga itu membuatnya semakin dan selalu kecewa. Woods sendiri telah bekerja dengan sejumlah petarung, termasuk petinju kelas menengah yang memiliki prospek bagus, Liam Cameron, yang memutuskan pindah gym. "Para petinju sedikit kecewa tapi ini adalah hidup saya dan saya tidak ingin bekerja pada waktu hari yang tidak cocok untukku," terangnya.
"Saya tidak tahu mengapa pelatihan profesional tidak cocok untukku, tetapi tidak ketika membawa anak-anak melaluinya, itu hebat. Itu suasana yang jauh lebih santai dan itulah apa yang saya cari."
"Good luck buat Liam, saya berharap dia semakin bagus. Saya pikir dia telah mendapat apa yang diperlukan untuk menjadi juara. Saya yakin dia telah mendapat tim yang tepat di belakangnya, dan dapat menghabiskan wakyu untuknya, yang sebelumnya tidak dia dapatkan dariku," tuturnya mengenai kepindahan Cameron.
(nug)