Bisa membela Timnas, bangga namun dilematis
Selasa, 25 Desember 2012 - 14:29 WIB
Bisa membela Timnas, bangga namun dilematis
A
A
A
Sindonews.com – Senang sekaligus khawatir. Hal itu dirasakan Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar terkait pemanggilan tiga pemain Maung Bandung ke tim nasional Indonesia untuk persiapan jelang laga pertama kualifikasi Piala Asia 2015 melawan Irak, 6 Februari nanti.
Apalagi KPSI yang saat ini menjadi ‘induk’ organisasi Persib melalui PT Liga Indonesia, menebar ancaman kepada pemain klub Indonesia Super League (ISL). PT Liga berkilah ancaman sanksi kepada pemain yang bermain di ISL karena merujuk pada mekanisme pembentukan timnas yang disampaikan Kemenpora beberapa waktu lalu yang menunjuk task force untuk mengambil alih pengelolaan timnas.
Maung Bandung dan klub ISL lainnya hanya diizinkan menyerahkan pemainnya untuk membela timnas U-23 proyeksi SEA Games 2013. Itu pun dengan catatan timnas yang dibentuk adalah timnas U-23 yang berada dibawah kontrol KONI Pusat bukan PSSI pimpinan Djhohar Arifin Husin yang selama ini jadi musuh bebuyutan KPSI.
Manajer Persib, Umuh Muchtar memang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mengetahui ada tiga pilar Persib yang dipanggil pelatih timnas, Nil Maizar. Namun, di sisi lain Umuh menyimpan kekhawatiran Persib bakal mendapatkan dampak buruk jika menyerahkan Atep, M. Ridwan dan I Made Wirawan ke skuad Garuda.
“Ya, saya senang ketika mengetahui pemain Persib masih diperhatikan dan dibutuhkan untuk membantu dan menjaga nama baik timnas. Sebenarnya saya tidak masalah jika ada pemain Persib yang terpanggil ke timnas, kalau bisa enam sampai tujuh pemain yang terpanggil. Tapi saya juga sempat berpikir apa harus kita serahkan atau bagaimana. Yang jelas pengurus harus untuk membahas hal ini,” tegas Umuh.
Kekhawatiran lain yang dirasakan Umuh adalah bentrok kepentingan antara timnas dan klub. Persoalaan tarik ulur kepentingan ini bukan tidak mungkin terjadi jika melihat pada jadwal pelaksanaan TC timnas dan jadwal pertandingan Persib di kompetisi ISL.
“Itu juga akan jadi masalah, jadi harus dipertimbangkan juga, kalau jadwal pelaksanaan TC (timnas) diundur, mungkin akan lebih baik. Kalau misalnya sekarang memperkuat timnas, tapi di sisi lain dibutuhkan Persib dan tidak bisa membela Persib, itu pasti masalah juga,” tandasnya.
Pelatih Djadjang Nurdjaman sendiri tidak bisa berbuat banyak dalam menyikapi persoalaan ini. Ia memilih menyerahkan keputusan kepada manajemen. Dan, manajemen sendiri menyerahkan keputusan kepada KPSI selaku organisasi yang menjadi acuan dan tempat berpijak klub.
“Sebagai pelatih saya tentu saja senang ketika ada pemain saya yang dipanggil membela timnas. Tapi saya tidak memiliki kewenangan penuh dalam mengambil keputusan. Sebab keputusan akhirnya tetap ada di tangan manajemen,” cetus Djanur beberapa waktu lalu.
Apalagi KPSI yang saat ini menjadi ‘induk’ organisasi Persib melalui PT Liga Indonesia, menebar ancaman kepada pemain klub Indonesia Super League (ISL). PT Liga berkilah ancaman sanksi kepada pemain yang bermain di ISL karena merujuk pada mekanisme pembentukan timnas yang disampaikan Kemenpora beberapa waktu lalu yang menunjuk task force untuk mengambil alih pengelolaan timnas.
Maung Bandung dan klub ISL lainnya hanya diizinkan menyerahkan pemainnya untuk membela timnas U-23 proyeksi SEA Games 2013. Itu pun dengan catatan timnas yang dibentuk adalah timnas U-23 yang berada dibawah kontrol KONI Pusat bukan PSSI pimpinan Djhohar Arifin Husin yang selama ini jadi musuh bebuyutan KPSI.
Manajer Persib, Umuh Muchtar memang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mengetahui ada tiga pilar Persib yang dipanggil pelatih timnas, Nil Maizar. Namun, di sisi lain Umuh menyimpan kekhawatiran Persib bakal mendapatkan dampak buruk jika menyerahkan Atep, M. Ridwan dan I Made Wirawan ke skuad Garuda.
“Ya, saya senang ketika mengetahui pemain Persib masih diperhatikan dan dibutuhkan untuk membantu dan menjaga nama baik timnas. Sebenarnya saya tidak masalah jika ada pemain Persib yang terpanggil ke timnas, kalau bisa enam sampai tujuh pemain yang terpanggil. Tapi saya juga sempat berpikir apa harus kita serahkan atau bagaimana. Yang jelas pengurus harus untuk membahas hal ini,” tegas Umuh.
Kekhawatiran lain yang dirasakan Umuh adalah bentrok kepentingan antara timnas dan klub. Persoalaan tarik ulur kepentingan ini bukan tidak mungkin terjadi jika melihat pada jadwal pelaksanaan TC timnas dan jadwal pertandingan Persib di kompetisi ISL.
“Itu juga akan jadi masalah, jadi harus dipertimbangkan juga, kalau jadwal pelaksanaan TC (timnas) diundur, mungkin akan lebih baik. Kalau misalnya sekarang memperkuat timnas, tapi di sisi lain dibutuhkan Persib dan tidak bisa membela Persib, itu pasti masalah juga,” tandasnya.
Pelatih Djadjang Nurdjaman sendiri tidak bisa berbuat banyak dalam menyikapi persoalaan ini. Ia memilih menyerahkan keputusan kepada manajemen. Dan, manajemen sendiri menyerahkan keputusan kepada KPSI selaku organisasi yang menjadi acuan dan tempat berpijak klub.
“Sebagai pelatih saya tentu saja senang ketika ada pemain saya yang dipanggil membela timnas. Tapi saya tidak memiliki kewenangan penuh dalam mengambil keputusan. Sebab keputusan akhirnya tetap ada di tangan manajemen,” cetus Djanur beberapa waktu lalu.
(wbs)