Cita-cita 'Bepe' hanya ingin Timnas juara
Minggu, 30 Desember 2012 - 16:11 WIB
Cita-cita 'Bepe' hanya ingin Timnas juara
A
A
A
Sindonews.com - Sebuah pigura berukuran sekitar 1,5x1 meter dengan sebuah kaos di dalamnya terpampang jelas di sudut kanan ruang tamu rumah orang tua Bambang Pamungkas di Dusun Getas Rt 5 Rw 2 Desa Kauman Lor, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Kaos tersebut, bermotif garis merah dan putih tebal, bernomor dada 20, penuh dengan tanda tangan dan lambang garuda berada di dada kiri.
Di kaos itu juga penuh dengan tanda tangan pemain-pemain Timnas, seperti Bejo Sugiantoro. Rochy Putiray, Ali Sunan, Warsidi, Anang Ma’ruf, dan beberapa nama Pemain Timnas kala itu.
Ya, kaos tersebut bukan kaos sembarangan, karena merupakan kaos bersejarah bagi seorang Bambang “Bepe” Pamungkas. Kaos yang masih utuh tersebut, merupakan kaos yang dikenakan Bepe saat membela Timnas U19 di Piala Asia 1998.
Kaos tersebut sengaja difigura, untuk mengenang masa-masa Bepe memulai kariernya menjadi pesepakbola professional. Meski “hanya” kaos namun, juga merupakan sejarah dimana seorang anak pegawai PTPN IX Kebun Getas Salatiga ini menjadi pemain sepak bola yang dikenal di seantero tanah air.
Tidah hanya itu, bagi Misranto Ayah Bepe. Kaos tersebut adalah sebuah kebanggaan. Bahkan saking bangganya, sebelum kaos tersebut difigura, Misranto tidak malu-malu mengenakannya dan diperlihatkan kepada tetangganya, meski penuh coretan-coretan tanda tangan.
Bepe mungkin bisa dibilang satu-satunya pemain sepak bola di Indonesia yang memulai karirnya di sepak bola profesional berbeda dari lainnya. Jika pemain bola lainnya meniti karirnya mulai dari pemain profesional baru bisa masuk tim Nasional Indonesia, namun Bepe sebaliknya, dia justru memulai karir di sebagai pemain sepak bola profesional mulai dari pemain Timnas.
Ya. Saat pertama kali dipercaya sebagai punggawa timnas U19 dalam turnamen piala Asia 1998 Bepe hanya berstatus pemain diklat Salatiga, dan belum memiliki pengalaman bermain di kompetisi profesional. Namun, pada saat itu kemampuannya ternyata cukup membanggakan, terbukti meski debutan baru di Timnas dan masih berusia 17 tahun, Dia langsung menorehkan prestasi yakni menjadi pencetak gol terbanyak dengan mengemas tujuh gol.
“Dia (Bepe) itu berbeda dari yang lain, kalau pemain lain masuk klub dulu baru bisa masuk Timnas, beda dengan Bambang, dia masuk Timnas dulu baru berkarir di klub profesional,” ujar Misranto dengan bangga menceritakan awal karir putra ke enamnya tersebut, kemarin.
Misranto mengaku, meski saat ini Bambang dinobatkan sebagai salah satu dari 10 pemain terbaik Asia, namun sejatinya buka itu yang diharapkan.
Dia mengaku, semenjak memulai berkarir sebagai pemain profesional Bambang pernah mengutarakan satu cita-cita pada dirinya. Cita – cita itu adalah membawa Timnas Indonesia menjadi Juara. Namun, cita-cita tersebut sampai saat ini belum tercapai.
Dengan tekad yang membara untuk membawa Timnas sebagai juara itulah, pada piala Asia 2012 beberapa waktu lalu Bambang tetap memutuskan menyebrang dan tetap bergabung dengan PSSI, meski klub yang Persija Jakarta yang dibelanya, berada di bawah Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI).
“Meski masih ada dualisme di Sepakbola tanah air Dia tetap membela Timnas, karena menurut Bambang, Timnas adalah segala-galanya. Namun sayang sampai sekarang cita-citanya untuk membawa timnas menjadi juara belum pernah tercapai,” imbuh mantan pelatih Persikas Kabupaten Semarang ini.
Dia mengaku, sampai kapanpun Bepe dibutuhkan untuk membela Timnas dipastikan Dia bakal memenuhi panggilan. “Mudah-mudahan kisruh PSIS dan KPSI segera ada titik temu, sehingga bayang-bayang buruk sepak bola tanah air segera berakhir,” ucap kakek 17 cucu ini.
Di kaos itu juga penuh dengan tanda tangan pemain-pemain Timnas, seperti Bejo Sugiantoro. Rochy Putiray, Ali Sunan, Warsidi, Anang Ma’ruf, dan beberapa nama Pemain Timnas kala itu.
Ya, kaos tersebut bukan kaos sembarangan, karena merupakan kaos bersejarah bagi seorang Bambang “Bepe” Pamungkas. Kaos yang masih utuh tersebut, merupakan kaos yang dikenakan Bepe saat membela Timnas U19 di Piala Asia 1998.
Kaos tersebut sengaja difigura, untuk mengenang masa-masa Bepe memulai kariernya menjadi pesepakbola professional. Meski “hanya” kaos namun, juga merupakan sejarah dimana seorang anak pegawai PTPN IX Kebun Getas Salatiga ini menjadi pemain sepak bola yang dikenal di seantero tanah air.
Tidah hanya itu, bagi Misranto Ayah Bepe. Kaos tersebut adalah sebuah kebanggaan. Bahkan saking bangganya, sebelum kaos tersebut difigura, Misranto tidak malu-malu mengenakannya dan diperlihatkan kepada tetangganya, meski penuh coretan-coretan tanda tangan.
Bepe mungkin bisa dibilang satu-satunya pemain sepak bola di Indonesia yang memulai karirnya di sepak bola profesional berbeda dari lainnya. Jika pemain bola lainnya meniti karirnya mulai dari pemain profesional baru bisa masuk tim Nasional Indonesia, namun Bepe sebaliknya, dia justru memulai karir di sebagai pemain sepak bola profesional mulai dari pemain Timnas.
Ya. Saat pertama kali dipercaya sebagai punggawa timnas U19 dalam turnamen piala Asia 1998 Bepe hanya berstatus pemain diklat Salatiga, dan belum memiliki pengalaman bermain di kompetisi profesional. Namun, pada saat itu kemampuannya ternyata cukup membanggakan, terbukti meski debutan baru di Timnas dan masih berusia 17 tahun, Dia langsung menorehkan prestasi yakni menjadi pencetak gol terbanyak dengan mengemas tujuh gol.
“Dia (Bepe) itu berbeda dari yang lain, kalau pemain lain masuk klub dulu baru bisa masuk Timnas, beda dengan Bambang, dia masuk Timnas dulu baru berkarir di klub profesional,” ujar Misranto dengan bangga menceritakan awal karir putra ke enamnya tersebut, kemarin.
Misranto mengaku, meski saat ini Bambang dinobatkan sebagai salah satu dari 10 pemain terbaik Asia, namun sejatinya buka itu yang diharapkan.
Dia mengaku, semenjak memulai berkarir sebagai pemain profesional Bambang pernah mengutarakan satu cita-cita pada dirinya. Cita – cita itu adalah membawa Timnas Indonesia menjadi Juara. Namun, cita-cita tersebut sampai saat ini belum tercapai.
Dengan tekad yang membara untuk membawa Timnas sebagai juara itulah, pada piala Asia 2012 beberapa waktu lalu Bambang tetap memutuskan menyebrang dan tetap bergabung dengan PSSI, meski klub yang Persija Jakarta yang dibelanya, berada di bawah Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI).
“Meski masih ada dualisme di Sepakbola tanah air Dia tetap membela Timnas, karena menurut Bambang, Timnas adalah segala-galanya. Namun sayang sampai sekarang cita-citanya untuk membawa timnas menjadi juara belum pernah tercapai,” imbuh mantan pelatih Persikas Kabupaten Semarang ini.
Dia mengaku, sampai kapanpun Bepe dibutuhkan untuk membela Timnas dipastikan Dia bakal memenuhi panggilan. “Mudah-mudahan kisruh PSIS dan KPSI segera ada titik temu, sehingga bayang-bayang buruk sepak bola tanah air segera berakhir,” ucap kakek 17 cucu ini.
(wbs)