Tak menyusu APBD, klub butuh 4 musim jadi profesional
Kamis, 03 Januari 2013 - 13:58 WIB
Tak menyusu APBD, klub butuh 4 musim jadi profesional
A
A
A
Sindonews.com - Tim-tim sepak bola di Tanah Air saat ini banyak yang kolaps setelah tidak lagi menyusu dana APBD. Minimal butuh 4 musim agar tim bisa mandiri. Itu pun dengan catatan bisa mendapatkan sponsor klas kakap.
CEO PT Magelang Soccer Academy (MSA) selaku pengelola PPSM Magelang, Gus Yusuf mengakui sejak tidak lagi mengandalkan dana APBD, tim berjuluk Macan Tidar masih mengalami kesulitan seputar keuangan. Mayoritas tim-tim di Indonesia pasti juga mengalami kesulitan keuangan tersebut.
"Itu wajar karena dalam masih proses pembelajaran pengelolaan sepak bola tanpa APBD. Musim lalu, PPSM juga kesulitan keuangan," katanya saat menerima CEO PT LPIS, Widjajanto, Kamis (3/1).
Menurut dia, selama satu musim tanpa menginduk keuangan APBD dijadikan media pembelajaran bagi manajemen klub dalam mengelola sepak bola. Namun, butuh waktu lama agar tim bisa profesional sejak tidak lagi dipasok APBD.
"Selama satu musim, manajeman banyak belajar tentang pengelolaan sepak bola tanpa APBD. Dari pengalaman itu setidaknya dijadikan modal untuk mengelola sepak bola secara profesional pada musim depan. Guna mewujudkan sepak bola profesional sesungguhnya paling tidak dibutuhkan waktu hingga empat musim," papar Gus Yusuf.
Meski demikian, PPSM mengaku siap mengarungi kompetisi musim depan. Pihaknya juga siap menjalani verifikasi lisensi seperti yang diharapkan AFC.
"Kami siap diverifikasi lisensi. Secara legalitas kami sudah menyiapkannya jauh hari sebelumnya. Yang terpenting adalah dukungan semua pihak untuk mengawal PPSM mengarungi musim depan," jelasnya.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengundang seluruh tokoh masyarakat, pejabat, pengusaha dan para pecinta bola untuk duduk bersama membahas PPSM di musim mendatang. "Persoalan ke depan bukan hanya finansial tapi juga proses pembelajaran pengelolaan sepak bola profesional," tegasnya.
CEO PT LPIS, Widjajanto mengatakan, seluruh klub yang berlaga di bawah operator PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) dan PT Liga Indonesia akan dilakukan verifikasi lisensi, baik itu yang merumput di IPL atau ISL termasuk Divisi Utama.
"Lisensi klub sangat penting sesuai arahan AFC. Tujuannya untuk mengukur sejauh mana klub itu bisa dianggap profesional. Tak terkecuali PPSM yang merumput di Divisi Utama juga diverifikasi lisensinya," katanya.
Kedatangan Widja ke Magelang untuk memberikan sosialisasi agar PPSM segera menyiapkan berbagai data pendukung verifikasi lisensi. Data pendukung itu antara lain badan hukum klub dan legalitasnya, kelayakan stadion, pembinaan usia muda, kemampuan keuangan dan dukungan seporter. "Layak tidaknya klub berlaga di IPL atau Divisi Utama bukan pada prestasinya, tapi standar lisensi sesuai patokan AFC," jelasnya.
Menurut Widja, klub yang promosi ke Divisi Utama dan IPL musim ini juga masih tergantung hasil verifikasi lisensi klub. Jika beberapa indikatornya tidak memenui syarat maka tidak bisa promosi. "Jadi verifikasi lisensi klub itu sangat penting," imbuhnya.
CEO PT Magelang Soccer Academy (MSA) selaku pengelola PPSM Magelang, Gus Yusuf mengakui sejak tidak lagi mengandalkan dana APBD, tim berjuluk Macan Tidar masih mengalami kesulitan seputar keuangan. Mayoritas tim-tim di Indonesia pasti juga mengalami kesulitan keuangan tersebut.
"Itu wajar karena dalam masih proses pembelajaran pengelolaan sepak bola tanpa APBD. Musim lalu, PPSM juga kesulitan keuangan," katanya saat menerima CEO PT LPIS, Widjajanto, Kamis (3/1).
Menurut dia, selama satu musim tanpa menginduk keuangan APBD dijadikan media pembelajaran bagi manajemen klub dalam mengelola sepak bola. Namun, butuh waktu lama agar tim bisa profesional sejak tidak lagi dipasok APBD.
"Selama satu musim, manajeman banyak belajar tentang pengelolaan sepak bola tanpa APBD. Dari pengalaman itu setidaknya dijadikan modal untuk mengelola sepak bola secara profesional pada musim depan. Guna mewujudkan sepak bola profesional sesungguhnya paling tidak dibutuhkan waktu hingga empat musim," papar Gus Yusuf.
Meski demikian, PPSM mengaku siap mengarungi kompetisi musim depan. Pihaknya juga siap menjalani verifikasi lisensi seperti yang diharapkan AFC.
"Kami siap diverifikasi lisensi. Secara legalitas kami sudah menyiapkannya jauh hari sebelumnya. Yang terpenting adalah dukungan semua pihak untuk mengawal PPSM mengarungi musim depan," jelasnya.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengundang seluruh tokoh masyarakat, pejabat, pengusaha dan para pecinta bola untuk duduk bersama membahas PPSM di musim mendatang. "Persoalan ke depan bukan hanya finansial tapi juga proses pembelajaran pengelolaan sepak bola profesional," tegasnya.
CEO PT LPIS, Widjajanto mengatakan, seluruh klub yang berlaga di bawah operator PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) dan PT Liga Indonesia akan dilakukan verifikasi lisensi, baik itu yang merumput di IPL atau ISL termasuk Divisi Utama.
"Lisensi klub sangat penting sesuai arahan AFC. Tujuannya untuk mengukur sejauh mana klub itu bisa dianggap profesional. Tak terkecuali PPSM yang merumput di Divisi Utama juga diverifikasi lisensinya," katanya.
Kedatangan Widja ke Magelang untuk memberikan sosialisasi agar PPSM segera menyiapkan berbagai data pendukung verifikasi lisensi. Data pendukung itu antara lain badan hukum klub dan legalitasnya, kelayakan stadion, pembinaan usia muda, kemampuan keuangan dan dukungan seporter. "Layak tidaknya klub berlaga di IPL atau Divisi Utama bukan pada prestasinya, tapi standar lisensi sesuai patokan AFC," jelasnya.
Menurut Widja, klub yang promosi ke Divisi Utama dan IPL musim ini juga masih tergantung hasil verifikasi lisensi klub. Jika beberapa indikatornya tidak memenui syarat maka tidak bisa promosi. "Jadi verifikasi lisensi klub itu sangat penting," imbuhnya.
(aww)