Pikirkan politik, pemerintah abaikan masalah olahraga
Rabu, 03 April 2013 - 20:52 WIB
Pikirkan politik, pemerintah abaikan masalah olahraga
A
A
A
Sindonews.com - Kritikan pedas dilontarkan Ketua Umum KONI Pusat, Tono Suratman untuk pemerintah. Tono menilai, pemerintah kurang serius mengurus olahraga.
Pria yang pernah menjadi atlet anggar dan menembak itu mengatakan, konsentrasi pemerintah saat ini lebih banyak terkuras untuk urusan politik. Hal ini membuat urusan olahraga menjadi terabaikan. Hal ini terlihat dari kecilnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk pengembangan olahraga nasional.
"Tahun ini olahraga mendapat anggaran Rp 550 miliar. Dari jumlah itu Rp 200 miliar untuk biaya penyelenggaraan Islamic Solidarity Games (ISG), sementara Rp 250 miliar dianggarkan untuk Satlak Prima guna mengikuti tujuh event tahun ini, termasuk SEA Games. Jumlah ini sangat jauh bila dibandingkan dengan persiapan SEA Games XXVI Jakarta – Palembang yang menelan biaya Rp400 miliar," kata Tono seperti dilansir situs resmi Satlak Prima.
Minimnya dana membuat Tono menjadi patah semangat. Dia pesimistis Indonesia akan mampu mempertahankan gelar juara umum di SEA Games XXVII Myanmar Desember mendatang.
"Dengan dana yang minim itu membuat kita hanya memogramkan try out dua sampai tiga kali saja. Padahal untuk menjadi juara SEA Games itu paling tidak kita harus melakukan try out tujuh hingga 10 kali ke luar negeri,"jelasnya.
"Jadi yang kita tuntut sekarang adalah keseriusan pemerintah memajukan prestasi olahraga dengan pendanaan yang wajar. Tanpa dana yang cukup mustahil prestasi akan tercapai,"ia menambahkan.
Lanjut Tono, "Negara maju adalah negara yang ekonominya rapi, pertahanan kuat dan olahraga yang berprestasi."
Pria yang pernah menjadi atlet anggar dan menembak itu mengatakan, konsentrasi pemerintah saat ini lebih banyak terkuras untuk urusan politik. Hal ini membuat urusan olahraga menjadi terabaikan. Hal ini terlihat dari kecilnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk pengembangan olahraga nasional.
"Tahun ini olahraga mendapat anggaran Rp 550 miliar. Dari jumlah itu Rp 200 miliar untuk biaya penyelenggaraan Islamic Solidarity Games (ISG), sementara Rp 250 miliar dianggarkan untuk Satlak Prima guna mengikuti tujuh event tahun ini, termasuk SEA Games. Jumlah ini sangat jauh bila dibandingkan dengan persiapan SEA Games XXVI Jakarta – Palembang yang menelan biaya Rp400 miliar," kata Tono seperti dilansir situs resmi Satlak Prima.
Minimnya dana membuat Tono menjadi patah semangat. Dia pesimistis Indonesia akan mampu mempertahankan gelar juara umum di SEA Games XXVII Myanmar Desember mendatang.
"Dengan dana yang minim itu membuat kita hanya memogramkan try out dua sampai tiga kali saja. Padahal untuk menjadi juara SEA Games itu paling tidak kita harus melakukan try out tujuh hingga 10 kali ke luar negeri,"jelasnya.
"Jadi yang kita tuntut sekarang adalah keseriusan pemerintah memajukan prestasi olahraga dengan pendanaan yang wajar. Tanpa dana yang cukup mustahil prestasi akan tercapai,"ia menambahkan.
Lanjut Tono, "Negara maju adalah negara yang ekonominya rapi, pertahanan kuat dan olahraga yang berprestasi."
(wir)