Moratti akhirnya jual saham Inter ke Thohir
Sabtu, 03 Agustus 2013 - 17:31 WIB
Moratti akhirnya jual saham Inter ke Thohir
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Inter Milan, Massimo Moratti akhirnya sepakat untuk menjual sebagian saham klub kepada pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir. Moratti mengaku yang menjadi alasan dirinya menjual saham Inter lantaran khawatir dengan masa depan klub berjuluk I Nerazurri tersebut. Negosiasi dengan Thohir kabarnya telah mencapai tahap akhir, meski belum diketahui berapa banyak persentase ingin menjual saham klub asal Serie A itu.
"Saya khawatir dengan masa depan klub ini. Ernesto Pellegrini benar ketika ia mengatakan Anda harus mencari seseorang yang mencintai klub ini. Saya mengetahui sesuatu tentang hal itu. Saya memutuskan untuk melihat ke masa depan. Semua orang terus berbicara tentang utang, namun itu perspektif yang salah," ucap Moratti seperti dilansir Football-Italia, Sabtu (3/8/2013).
"Inter memiliki masalah serupa dengan klub-klub besar lainnya yang memiliki banyak utang, tapi saya tidak khawatir tentang hal itu. Masalah sebenarnya yakni pendapatan klub. Mereka merupakan sumber daya yang diperlukan untuk mengembangkan tim ini. Saya khawatir tentang masa depan klub, karena itu perluasabn brand di pasar Internasional juga harus dilakukan," sambungnya.
Seperti diketahui sebelumnya Inter sebelumnya santer dikatakan siap menjual sahamnya sebanyak 75 persen. Seperti dilansir media Italia, Inter menjual saham-saham tersebut senilai 300 juta euro (Rp 3,9 triliun). Kabar Thohir ingin mengakuisisi Inter tersebut memang sudah berembus kencang sejak awal Mei lalu. Awalnya, pemilik klub NBA Philadelphia 76ers dan klub sepak bola MLS DC United itu bernegosiasi denganMoratti untuk membeli 51 persen saham Inter.
Akan tetapi, kabar selanjutnya mengatakan penawaran Thohir meningkat hingga 75 persen. Namun, kesepakatan tak kunjung terealisasi setelah Moratti berulang kali membantah telah terjadi kesepakatan dengan bos Mahaka Group tersebut. Kini kabar terbaru Moratti telah luluh untuk menjual sahamnya ke Thohir dengan alasan kemajuan tim.
"Selama bertahun-tahun sepak bola Italia gagal bersinar di Eropa karena alasan finansial. Kami telah banyak kehilangan. Klub dibangun sepenuhnya dari hal siar TV dan transfer. Kami juga perlu membangun brand di luar negeri, namun prosesnya sangat panjang, sulit dan membutuhkan dana yang mahal serta persaingan yang ketat. Sebagai contoh pengenalan kepada Asia maka Anda akan membawa pasar dari sana dan akan memaksa Anda mengubah kebiasaan dan membuka sumber daya Internasional," tandasnya.
"Saya khawatir dengan masa depan klub ini. Ernesto Pellegrini benar ketika ia mengatakan Anda harus mencari seseorang yang mencintai klub ini. Saya mengetahui sesuatu tentang hal itu. Saya memutuskan untuk melihat ke masa depan. Semua orang terus berbicara tentang utang, namun itu perspektif yang salah," ucap Moratti seperti dilansir Football-Italia, Sabtu (3/8/2013).
"Inter memiliki masalah serupa dengan klub-klub besar lainnya yang memiliki banyak utang, tapi saya tidak khawatir tentang hal itu. Masalah sebenarnya yakni pendapatan klub. Mereka merupakan sumber daya yang diperlukan untuk mengembangkan tim ini. Saya khawatir tentang masa depan klub, karena itu perluasabn brand di pasar Internasional juga harus dilakukan," sambungnya.
Seperti diketahui sebelumnya Inter sebelumnya santer dikatakan siap menjual sahamnya sebanyak 75 persen. Seperti dilansir media Italia, Inter menjual saham-saham tersebut senilai 300 juta euro (Rp 3,9 triliun). Kabar Thohir ingin mengakuisisi Inter tersebut memang sudah berembus kencang sejak awal Mei lalu. Awalnya, pemilik klub NBA Philadelphia 76ers dan klub sepak bola MLS DC United itu bernegosiasi denganMoratti untuk membeli 51 persen saham Inter.
Akan tetapi, kabar selanjutnya mengatakan penawaran Thohir meningkat hingga 75 persen. Namun, kesepakatan tak kunjung terealisasi setelah Moratti berulang kali membantah telah terjadi kesepakatan dengan bos Mahaka Group tersebut. Kini kabar terbaru Moratti telah luluh untuk menjual sahamnya ke Thohir dengan alasan kemajuan tim.
"Selama bertahun-tahun sepak bola Italia gagal bersinar di Eropa karena alasan finansial. Kami telah banyak kehilangan. Klub dibangun sepenuhnya dari hal siar TV dan transfer. Kami juga perlu membangun brand di luar negeri, namun prosesnya sangat panjang, sulit dan membutuhkan dana yang mahal serta persaingan yang ketat. Sebagai contoh pengenalan kepada Asia maka Anda akan membawa pasar dari sana dan akan memaksa Anda mengubah kebiasaan dan membuka sumber daya Internasional," tandasnya.
(akr)