Erick Thohir, Inter Milan, dan sepak bola Indonesia

Selasa, 19 November 2013 - 17:45 WIB
Erick Thohir, Inter...
Erick Thohir, Inter Milan, dan sepak bola Indonesia
A A A
Sindonews.com - Indonesia akhirnya mempunyai sosok yang berpengaruh di sepak bola Eropa dengan masuknya Erick Thohir ke Internazionale Milano alias Inter Milan. Dia menjadi orang pertama Indonesia yang berani mengakuisisi 70% saham klub.

Paling tidak Erick sekarang setenar Seikh Mansour (Manchester City) atau Roman Abramovich (Chelsea FC) sebagai miliarder yang berinvestasi besar di klub sepak bola. Secara otomatis munculnya dia juga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Sudah menjadi budaya, Indonesia sudah euforia ketika namanya disebut di dunia internasional, termasuk sepak bola. Pemain klub Cagliari Radja Nainggolan yang ibunya berdarah Indonesia sudah dielu-elukan walau sang pemain memilih memperkuat tim nasional Belgia dibanding Indonesia.

Itulah kesalahan kita yang hanya sekadar bangga tapi tidak mau belajar juga. Keberanian Erick Thohir mengakuisi mayoritas saham Inter Milan justru harusnya mendatangkan malu bagi sepakbola Indonesia. Malu karena sepak bola Indonesia sendiri tidak mempunyai investor sekaliber dia.

Manuver bisnis putra pengusaha Teddy Tohir yang juga menjadi bos di klub sepak bola Amerika Sertikat DC United ini menjadi jawaban bagaimana rupa sepak bola Indonesia. Tak prospektif, buruk untuk bisnis, pengerat rupiah, atau sederhananya masih sangat tradisional.

Erick jelas bukan Arifin Panigoro yang secara konyol menghamburkan ratusan miliar demi ambisi semu lewat Liga Primer Indonesia (LPI). Pebisnis berusia 43 tahun tersebut paham benar model sepak bola mana yang prospektif untuk bisnis, bukan hanya sekadar untuk cari muka.

Bagi kita, sudah luar biasa saat Erick Thohir merogoh kocek hingga Rp3,2 triliun untuk menggusur dominasi Massimo Moratti di Inter Milan. Lumayan untuk hiburan ketika klub-klub sepakbola Indonesia kere dan kesulitan mencari dana untuk satu musim kompetisi saja.

Duit Rp3,2 triliun mungkin sudah bisa mendanai seluruh klub Indonesia di berbagai level, sekaligus membeli PSSI kalau Erick mau. Namun otak bisnis tidak senaif itu dan Inter Milan mungkin dipandang lebih prospektif dibanding seluruh klub di Indonesia digabung menjadi satu sekalipun.

Ini hanya gambaran bahwa sepakbola Indonesia masih sebatas sepakbola murung tanpa masa depan yang jelas. Sepakbola yang hanya membuang uang ketika di luar sana sudah didesain sebagai tambang duit. Sepak bola yang mayoritas penyandang dananya menyumbang dengan alasan keterpaksaan.

Bukankah kedatangan Erick Thohir di Inter Milan bisa menjembatani pemain Indonesia ke Eropa? Benar. Itu juga menjadi harapan insan bola tanah air. Tapi sebaiknya berpikir yang rasional dulu. Inter Milan adalah klub level dunia dan tentunya mempunyai standar mutu sangat tinggi.

Sangat sulit pesepakbola Indonesia mencapai level itu jika tak mendapat didikan kultur sepak bola Eropa sejak masih kanak-kanak seperti Radja Nainggolan. Bukan bermaksud pesimistis, tapi langsung berharap berkah ada pemain ke Inter tanpa serius memperbaiki sepak bola Indonesia adalah impian yang sangat naïf.

Impian terbalik seperti itulah yang membuat sepak bola jalan di tempat atau kadang-kadang mundur. Bernafsu memiliki pemain di klub berkelas internasional, namun tidak melihat bagaimana rupa liga di negeri sendiri. Padahal pemain bagus mayoritas dicetak oleh kultur sepakbola yang modern dan profesional.

Erick Thohir adalah orang yang cukup paham sepak bola serta dididik bisnis di negara maju. Tentunya tidak akan sembrono memasukkan pemain Indonesia tanpa kualitas sesuai standar mutu. Jelas tak bisa menyisipkan pemain hanya gara-gara kesamaan latar belakang seperti rekrutmen pegawai negeri.

Kesimpulannya, terkait akuisisi Inter Milan, bukan berkah bakal ada pemain yang nebeng atau kebanggaan sebagai orang Indonesia yang harus dinomorsatukan. Tapi berpikir dan bergerak bagaimana investor sekaliber dia mau berinvestasi di Indonesia, yang pastinya ditentukan mutu kompetisi dan klub domestik.

Ini menjadi tanggung jawab bersama, baik PSSI, klub-klub, suporter, hingga masyarakat yang tak bersentuhan dengan sepak bola sekalipun. Tanpa konsep untuk memperbaiki sepak bola domestik, maka investor akan terus mengalirkan uangnya ke luar negeri sementara klub di sini kering kerontang. (*)
(aww)
Berita Terkait
Liga 2 Tercoreng, Kalteng...
Liga 2 Tercoreng, Kalteng Putra vs PSBS Biak Dihiasi Baku Pukul
Perwakilan Klub dan...
Perwakilan Klub dan Asosiasi Pemain Temui Menpora Minta Liga 2 Kembali Bergulir
Pemain Gresik United...
Pemain Gresik United Pilih Pulang Kampung Menjadi Petani
Persib Vs Persija :...
Persib Vs Persija : Kemenangan Jadi Harga Mati Kedua Tim
Usai Jalani Uji Coba...
Usai Jalani Uji Coba Terakhir, VAR Sudah Siap Digunakan di Liga 1
Kesalahan Wasit Masih...
Kesalahan Wasit Masih Terulang, Liga 1 Bakal Ada VAR di Musim Depan?
Berita Terkini
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Hungaria 2026, Hapus Dahaga Gelar 266 Hari
6 jam yang lalu
Raymond/Joaquin Kalah,...
Raymond/Joaquin Kalah, Merah Putih Tanpa Gelar di Indonesia Open 2026
7 jam yang lalu
Campus League The Nationals...
Campus League The Nationals 2026 Resmi Dimulai, UPH dan BINUS Langsung Menang di Laga Pembuka
7 jam yang lalu
Campus League dan Universitas...
Campus League dan Universitas Pelita Harapan Jalin Kerja Sama Majukan Ekosistem Olahraga
8 jam yang lalu
An Se-young Juara Indonesia...
An Se-young Juara Indonesia Open 2026, Rekor Susy Susanti Terancam
10 jam yang lalu
Jonatan Christie Gagal...
Jonatan Christie Gagal Juara, Viktor Lai Taklukkan Istora di Final Indonesia Open 2026
10 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved