Tidak diundang, Jakmania provokasi fans Bandung
Selasa, 18 Februari 2014 - 15:29 WIB
Tidak diundang, Jakmania provokasi fans Bandung
A
A
A
Sindonews.com - Sentimen antara Persib Bandung dengan Persija Jakarta menular pada laga saudara sekotanya, Pelita Bandung Raya (PBR), di Stadion Si Jalak Harupat, Senin (17/2/14). Kehadiran suporter tim tamu, The Jakmania, memicu amarah oknum suporter.
Tidak hanya datang dan menonton, mereka memprovokasi publik sepak bola tuan rumah untuk bereaksi. Dengan menggunakan bus berplat nomor D, mereka menyusup sebagai penonton biasa. Setelah masuk ke stadion mereka mengganti perwajahannya dengan mengenakan atribut dan mulai berulah.
Yel-yel memicu gesekan ditambah tulisan di spanduk pemancing emosi dibentang suporter ibu kota tersebut. Salah satu spanduk yang dibentangkan antara lain bertuliskan 'Kami Bukan Pecundang’ dengan warna biru pada kata terakhirnya. Saling ejek terjadi antara kedua suporter di tribun samping barat dan VIP. Kondisi ini pun menyerempet pada adu mulut yang sempat memancing beberapa pelemparan.
Wakil Ketua Panpel PBR Riki Sengkone mengatakan pihaknya telah mengimbau The Jak untuk tidak datang. Namun suporter beratribut oranye ini tetap memaksakan diri. "Sebelumnya kami sudah mengimbau mereka untuk tidak datang. Tapi akhirnya mereka datang. Kami tidak bisa menolak mereka. Jika menolak, mereka akan di luar dan itu akan lebih berbahaya. Akhirnya, kami tempatkan mereka di tribun barat," ujar Riki.
"Kami minta mereka tidak gunakan atribut. Tapi mereka bawa bendera dan yang lebih memprovokasi, nyanyian dan yel-yel mereka,"lanjutnya. "Dengan hadir di stadion, seharusnya mereka tahu diri. Meski ini bukan laga Persib melawan Persija, tapi mereka harus tahu ini kandang siapa. Dan setelah diberi kesempatan, mereka seharusnya tidak memancing amarah kelompok lain," ujar Riki.
Atas kehadiran The Jakmania ini, memancing oknum suporter untuk mendatangi stadion. Terpantau di luar stadion, berkerumun ratusan oknum suporter hendak menghadang The Jakmania. Riki memastikan keributan antara kedua suporter ini bukan berasal dari suporter PBR, Baraya.
"Kami tegaskan bukan dari Baraya. Mereka tahu dan mengerti untuk tidak melakukan aksi-aksi seperti itu. Apalagi, mereka dan kami sedang membangun PBR," ujarnya. "Pertandingan ini memang membuat penjualan tiket meningkat 3 kali lipat dari biasanya. Tapi, dengan kerusakan fasilitas stadion, membuat kami harus tanggung jawab dan mengganti rugi," katanya.
Sementara itu, muncul isu jika kehadiran The Jakmania memiliki maksud lain. Mereka yang datang sengaja ingin memancing amarah publik Bandung agar PT Liga memberi sanksi. Bentuknya larangan menggelar pertandingan Persib Bandung kontra Persija Jakarta dengan penonton.
Lebih lanjut pertandingan digelar di luar Bandung karena izin dari kepolisian tidak didapat. Kapolres Bandung AKBP Jamaludin mengimbau agar suporter tidak terprovokasi dengan gangguan yang dilancarkan pihak mana pun.
''Suporter harus menjaga suportivitas dan menjaga kondusivitas Bandung. Saya pikir suporter cukup dewasa dan bisa menyikapi provokasi dengan dingin dan tidak terpancing,” kata dia.
Tidak hanya datang dan menonton, mereka memprovokasi publik sepak bola tuan rumah untuk bereaksi. Dengan menggunakan bus berplat nomor D, mereka menyusup sebagai penonton biasa. Setelah masuk ke stadion mereka mengganti perwajahannya dengan mengenakan atribut dan mulai berulah.
Yel-yel memicu gesekan ditambah tulisan di spanduk pemancing emosi dibentang suporter ibu kota tersebut. Salah satu spanduk yang dibentangkan antara lain bertuliskan 'Kami Bukan Pecundang’ dengan warna biru pada kata terakhirnya. Saling ejek terjadi antara kedua suporter di tribun samping barat dan VIP. Kondisi ini pun menyerempet pada adu mulut yang sempat memancing beberapa pelemparan.
Wakil Ketua Panpel PBR Riki Sengkone mengatakan pihaknya telah mengimbau The Jak untuk tidak datang. Namun suporter beratribut oranye ini tetap memaksakan diri. "Sebelumnya kami sudah mengimbau mereka untuk tidak datang. Tapi akhirnya mereka datang. Kami tidak bisa menolak mereka. Jika menolak, mereka akan di luar dan itu akan lebih berbahaya. Akhirnya, kami tempatkan mereka di tribun barat," ujar Riki.
"Kami minta mereka tidak gunakan atribut. Tapi mereka bawa bendera dan yang lebih memprovokasi, nyanyian dan yel-yel mereka,"lanjutnya. "Dengan hadir di stadion, seharusnya mereka tahu diri. Meski ini bukan laga Persib melawan Persija, tapi mereka harus tahu ini kandang siapa. Dan setelah diberi kesempatan, mereka seharusnya tidak memancing amarah kelompok lain," ujar Riki.
Atas kehadiran The Jakmania ini, memancing oknum suporter untuk mendatangi stadion. Terpantau di luar stadion, berkerumun ratusan oknum suporter hendak menghadang The Jakmania. Riki memastikan keributan antara kedua suporter ini bukan berasal dari suporter PBR, Baraya.
"Kami tegaskan bukan dari Baraya. Mereka tahu dan mengerti untuk tidak melakukan aksi-aksi seperti itu. Apalagi, mereka dan kami sedang membangun PBR," ujarnya. "Pertandingan ini memang membuat penjualan tiket meningkat 3 kali lipat dari biasanya. Tapi, dengan kerusakan fasilitas stadion, membuat kami harus tanggung jawab dan mengganti rugi," katanya.
Sementara itu, muncul isu jika kehadiran The Jakmania memiliki maksud lain. Mereka yang datang sengaja ingin memancing amarah publik Bandung agar PT Liga memberi sanksi. Bentuknya larangan menggelar pertandingan Persib Bandung kontra Persija Jakarta dengan penonton.
Lebih lanjut pertandingan digelar di luar Bandung karena izin dari kepolisian tidak didapat. Kapolres Bandung AKBP Jamaludin mengimbau agar suporter tidak terprovokasi dengan gangguan yang dilancarkan pihak mana pun.
''Suporter harus menjaga suportivitas dan menjaga kondusivitas Bandung. Saya pikir suporter cukup dewasa dan bisa menyikapi provokasi dengan dingin dan tidak terpancing,” kata dia.
(aww)