Bobotoh: Tak mudah damai dengan The Jak
Jum'at, 07 Maret 2014 - 10:20 WIB
Bobotoh: Tak mudah damai dengan The Jak
A
A
A
Sindonews.com - Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol M. Iriawan, menggagas upaya perdamaian suporter Persib Bandung dan Persija Jakarta. Lalu apa kata bobotoh menanggapi upaya perdamaian itu?
Dirijen Viking Persib Fans Club, Yana Umar, menyebut perdamaian bukan hal mudah. Ada banyak hal yang harus dilakukan, terutama sosialisasi ke grass root di masing-masing organisasi bobotoh. Jika di tingkatan atas bisa berdamai, pada tingkatan grass root belum tentu perdamaian bisa terjadi.
"Keinginan damai itu sebenarnya ada, kan damai itu indah. Tapi untuk perdamaian itu perlu proses," kata Yana di Graha Persib, Kota Bandung, Jawa Barat, 6 Maret 2014.
Disinggung klaim dari Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Kuswara S. Taryono, yang mengklaim bobotoh siap berdamai, Yana justru mempertanyakannya. "Kan jelas Viking sama Bomber mau sosialisasi dulu ke bawah. Tidak bisa langsung damai. Jangan seenaknya bilang begitu," tegasnya.
Ia berharap, sesama bobotoh saling mengingatkan satu sama lain. Sehingga pelan-pelan perdamaian itu bisa terwujud. "Seperti air mengalir, pasti ada muaranya.(Perseteruan) ini juga pasti ada titik jenuhnya," ungkapnya.
Hal sama juga dikemukakan Ketua Bobotoh Maung Bersatu (Bomber), Asep S. Abdul. Ia menilai perdamaian bukan hal mudah untuk dilakukan meski cita-cita ke arah sana ada. "Betul, kita juga (memiliki pandangan) sama. Di tingkat bawah itu yang susah," ucapnya.
Ia membenarkan ada banyak hal yang harus dilakukan agar perdamaian tidak hanya sekedar seremonial. Apalagi banyak hal yang belum tuntas akibat adanya perseteruan.
Dua masalah yang belum tuntas di antaranya kematian Rangga (bobotoh) di Jakarta, serta pelemparan bus Persib tahun lalu oleh oknum The Jak Mania. "Kita ingin ada kejelasan kasus tersebut," tuturnya.
Dirijen Viking Persib Fans Club, Yana Umar, menyebut perdamaian bukan hal mudah. Ada banyak hal yang harus dilakukan, terutama sosialisasi ke grass root di masing-masing organisasi bobotoh. Jika di tingkatan atas bisa berdamai, pada tingkatan grass root belum tentu perdamaian bisa terjadi.
"Keinginan damai itu sebenarnya ada, kan damai itu indah. Tapi untuk perdamaian itu perlu proses," kata Yana di Graha Persib, Kota Bandung, Jawa Barat, 6 Maret 2014.
Disinggung klaim dari Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Kuswara S. Taryono, yang mengklaim bobotoh siap berdamai, Yana justru mempertanyakannya. "Kan jelas Viking sama Bomber mau sosialisasi dulu ke bawah. Tidak bisa langsung damai. Jangan seenaknya bilang begitu," tegasnya.
Ia berharap, sesama bobotoh saling mengingatkan satu sama lain. Sehingga pelan-pelan perdamaian itu bisa terwujud. "Seperti air mengalir, pasti ada muaranya.(Perseteruan) ini juga pasti ada titik jenuhnya," ungkapnya.
Hal sama juga dikemukakan Ketua Bobotoh Maung Bersatu (Bomber), Asep S. Abdul. Ia menilai perdamaian bukan hal mudah untuk dilakukan meski cita-cita ke arah sana ada. "Betul, kita juga (memiliki pandangan) sama. Di tingkat bawah itu yang susah," ucapnya.
Ia membenarkan ada banyak hal yang harus dilakukan agar perdamaian tidak hanya sekedar seremonial. Apalagi banyak hal yang belum tuntas akibat adanya perseteruan.
Dua masalah yang belum tuntas di antaranya kematian Rangga (bobotoh) di Jakarta, serta pelemparan bus Persib tahun lalu oleh oknum The Jak Mania. "Kita ingin ada kejelasan kasus tersebut," tuturnya.
(wbs)