Wow, Seorang dokter klaim temukan Anti-doping
Rabu, 19 Maret 2014 - 16:39 WIB
Wow, Seorang dokter klaim temukan Anti-doping
A
A
A
Sindonews.com – Doping dalam dunia olahraga menjadi momok yang sangat menakutkan. Seorang profesor mengaku telah menemukan Anti-doping pertama di dunia untuk menyelamatkan olahraga dari kecurangan.
Dr Yannis Pitsiladis mengatakan bahwa mendeteksi bukti penggunaan zat aditif lebih mudah terlacak dari anatomi selular seorang atlet. Dokter asal Australia itu mengklaim bahwa dirinya telah mengembangkan metode pendeteksi doping paling canggih dengan cara tersebut.
Dilansir Herald Scotland, Rabu (19/3), dokter tersebuttelah menghabiskan lebih dari satu dekade di Universitas Glasgow untuk meneliti meneliti genetika berpengaruh terhadap keberhasilan atletik. Proyek terbarunya, jika berhasil, akan mengubah obat bius - pengujian dalam olahraga untuk selama-lamanya.
Berbekal penelitian yang didanai oleh Asosiasi Anti-Doping Dunia (WADA), Pitsiladis mengembangkan tes yang dapat mendeteksi penggunaan obat terlarang. Bahkan setelah pemakai berhenti selama berminggu-minggu.
Dokter kelahiran Yunani itu percaya tes narkoba sangat mudah dapat dikembangkan dengan mencari bukti doping dalam anatomi selular seorang atlet, daripada mencari untuk mendeteksi zat terlarang dalam tubuh mereka seperti kebanyakan metode sekarang.
"Tes kami kembangkan tidak didasarkan pada menemukan obat itu sendiri namun sebenarnya menemukan obat apa yang dilakukan, yang di mana jauh lebih sulit," kata Pitsiladis.
"Ini harus menjadi jalan ke depan karena obat ini akan hilang dari tubuh anda setelah Anda menggunakannya" katanya.
Pitsiladis mencari "ekspresi genetik" yang membuktikan penggunaan obat terlarang dan menjelaskan temuannya. Pria 46 tahun itu telah mengembangkan sebuah tes yang meyakinkan dapat membuktikan penggunaan dosis yang lebih besar dari doping dan sedang dalam proses meneliti apakah efek yang sama terjadi ketika atlet mengelola mikro - dosis obat.
Dr Yannis Pitsiladis mengatakan bahwa mendeteksi bukti penggunaan zat aditif lebih mudah terlacak dari anatomi selular seorang atlet. Dokter asal Australia itu mengklaim bahwa dirinya telah mengembangkan metode pendeteksi doping paling canggih dengan cara tersebut.
Dilansir Herald Scotland, Rabu (19/3), dokter tersebuttelah menghabiskan lebih dari satu dekade di Universitas Glasgow untuk meneliti meneliti genetika berpengaruh terhadap keberhasilan atletik. Proyek terbarunya, jika berhasil, akan mengubah obat bius - pengujian dalam olahraga untuk selama-lamanya.
Berbekal penelitian yang didanai oleh Asosiasi Anti-Doping Dunia (WADA), Pitsiladis mengembangkan tes yang dapat mendeteksi penggunaan obat terlarang. Bahkan setelah pemakai berhenti selama berminggu-minggu.
Dokter kelahiran Yunani itu percaya tes narkoba sangat mudah dapat dikembangkan dengan mencari bukti doping dalam anatomi selular seorang atlet, daripada mencari untuk mendeteksi zat terlarang dalam tubuh mereka seperti kebanyakan metode sekarang.
"Tes kami kembangkan tidak didasarkan pada menemukan obat itu sendiri namun sebenarnya menemukan obat apa yang dilakukan, yang di mana jauh lebih sulit," kata Pitsiladis.
"Ini harus menjadi jalan ke depan karena obat ini akan hilang dari tubuh anda setelah Anda menggunakannya" katanya.
Pitsiladis mencari "ekspresi genetik" yang membuktikan penggunaan obat terlarang dan menjelaskan temuannya. Pria 46 tahun itu telah mengembangkan sebuah tes yang meyakinkan dapat membuktikan penggunaan dosis yang lebih besar dari doping dan sedang dalam proses meneliti apakah efek yang sama terjadi ketika atlet mengelola mikro - dosis obat.
(dka)