Brazil meraup lebih dari Rp 34 Triliun dari turis Piala Dunia
Kamis, 15 Mei 2014 - 12:34 WIB
Brazil meraup lebih dari Rp 34 Triliun dari turis Piala Dunia
A
A
A
Sindonews.com – Turnamen akbar sepakbola empat tahunan yang bakal diselenggarakan di Brazil bulan depan merupakan investasi yang baik untuk negara terbesar di Amerika Selatan itu. Pasalnya pemerintah Brazil telah memperkirakan bakal mendapat keuntungan dari kedatangan wisatawan saat Piala Dunia berlangsung.
Menurut laporan insidethegames, Kamis (15/5) dalam penelitian yang dilakukan pemerintah negri samba, diperkirakan sang tuan rumah bakal medapat keuntungan di atas 3 miliar USD atau senilai Rp 34 Triliun. Bahkan Departemen Pariwisata Brazil mengklaim bahwa masing-masing turis asing akan menghabiskan hampir 2.500 USD (Rp 28 juta) belum termasuk tiket pesawat sedangkan untuk melakukan perjalanan ke lokasi guna menyaksikan pertandingan Piala Dunia diharapkan jumlah turis dalam negeri dan turis asing diperkirakan mencapai 1,9 juta jiwa sehingga Brazil mendapat pemasukan sebesar 1.83 miliar USD (Rp 20,8 Triliun ).
Lebih lanjut pemerintah Brazil memperkirakan 1,8 juta pengunjung diharapkan berada di Brazil untuk serangkaian acara terkait Piala Dunia, para pengunjung tersebut bakal mengeluarkan biaya sebesar Rp 13,5 Miliar.
Menteri Pariwisata Vinicius Lages berpendapat bahwa total omset keuangan untuk pariwisata selama Piala Dunia mungkin bisa lebih dua kali lipat dari perkiraannya. " jika kita mempertimbangkan efek multiplier dari sumber daya ini dalam ekonomi Brasil, wisatawan yang datang ke pertandingan adalah pengunjung yang akan menghabiskan biaya besar.”
Multplier effect sendiri adalah proses yang menunjukkan sejauh mana pendapatan nasional akan berubah efek dari perubahan dalam pengeluaran agregat. Multiplier bertujuan untuk menerangkan pengaruh dari kenaikan atau kemerosotan dalam pengeluaran agregat ke atas tingkat keseimbangan dan terutama ke atas tingkat pendapatan nasional sebuah negara.
"Penonton adalah sesuatu yang penting dan kami ingin mendapatkan keuntungan dari mereka selama Piala Dunia." tandasnya.
Selanjutnya pemerintah Brazil memperkirakan 300.000 turis asing akan datang ke Brazil Khusus untuk Piala Dunia. Dalam melakukan penelitian ini survei dilakukan oleh Departemen Pariwisata dalam kemitraan dengan Riset Ekonomi Institute Foundation.
Menurut laporan insidethegames, Kamis (15/5) dalam penelitian yang dilakukan pemerintah negri samba, diperkirakan sang tuan rumah bakal medapat keuntungan di atas 3 miliar USD atau senilai Rp 34 Triliun. Bahkan Departemen Pariwisata Brazil mengklaim bahwa masing-masing turis asing akan menghabiskan hampir 2.500 USD (Rp 28 juta) belum termasuk tiket pesawat sedangkan untuk melakukan perjalanan ke lokasi guna menyaksikan pertandingan Piala Dunia diharapkan jumlah turis dalam negeri dan turis asing diperkirakan mencapai 1,9 juta jiwa sehingga Brazil mendapat pemasukan sebesar 1.83 miliar USD (Rp 20,8 Triliun ).
Lebih lanjut pemerintah Brazil memperkirakan 1,8 juta pengunjung diharapkan berada di Brazil untuk serangkaian acara terkait Piala Dunia, para pengunjung tersebut bakal mengeluarkan biaya sebesar Rp 13,5 Miliar.
Menteri Pariwisata Vinicius Lages berpendapat bahwa total omset keuangan untuk pariwisata selama Piala Dunia mungkin bisa lebih dua kali lipat dari perkiraannya. " jika kita mempertimbangkan efek multiplier dari sumber daya ini dalam ekonomi Brasil, wisatawan yang datang ke pertandingan adalah pengunjung yang akan menghabiskan biaya besar.”
Multplier effect sendiri adalah proses yang menunjukkan sejauh mana pendapatan nasional akan berubah efek dari perubahan dalam pengeluaran agregat. Multiplier bertujuan untuk menerangkan pengaruh dari kenaikan atau kemerosotan dalam pengeluaran agregat ke atas tingkat keseimbangan dan terutama ke atas tingkat pendapatan nasional sebuah negara.
"Penonton adalah sesuatu yang penting dan kami ingin mendapatkan keuntungan dari mereka selama Piala Dunia." tandasnya.
Selanjutnya pemerintah Brazil memperkirakan 300.000 turis asing akan datang ke Brazil Khusus untuk Piala Dunia. Dalam melakukan penelitian ini survei dilakukan oleh Departemen Pariwisata dalam kemitraan dengan Riset Ekonomi Institute Foundation.
(bbk)